Opini

Lazismu dan UMKM: Dari Mustahik Menjadi Muzaki

65
×

Lazismu dan UMKM: Dari Mustahik Menjadi Muzaki

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Zakat, infak, dan sedekah tidak berhenti sebagai ibadah ritual. Melalui Lazismu, dana umat bertransformasi menjadi modal usaha, alat kerja, dan bekal kemandirian bagi UMKM hingga melahirkan muzaki baru.

Oleh Yekti Pitoyo

Tagar.co – Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya sekadar ibadah yang berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi.

Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) menjadi salah satu contoh bagaimana dana umat dikelola secara profesional untuk menggerakkan roda perekonomian, khususnya bagi duafa (orang tidak mampu yang termasuk dalam asnaf zakat) dan kelompok penerima manfaat lainnya.

Dengan jaringan yang luas di seluruh Indonesia, Lazismu tidak hanya hadir sebagai lembaga penyalur bantuan karitatif, tetapi juga sebagai motor penggerak kemandirian ekonomi umat.

Melalui program-program inovatif, Lazismu membuktikan bahwa zakat mampu menjadi solusi untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Skala Nasional: Dana Ratusan Miliar untuk Umat

Berdasarkan laporan Rakernas Lazismu 2025, sepanjang tahun 2024 Lazismu berhasil menghimpun dana Ziska (zakat, infak, sedekah, CSR, dan dana sosial keagamaan lainnya) sebesar Rp508,7 miliar secara nasional. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp348,2 miliar telah disalurkan untuk berbagai program.

Distribusi program Lazismu terbagi ke dalam enam pilar utama: sosial-dakwah (60,1 persen), pendidikan (18,1 persen), kemanusiaan (14,6 persen), kesehatan (4,7 persen), ekonomi (2,0 persen), dan lingkungan (0,4 persen). Angka ini menunjukkan bahwa Lazismu tidak hanya fokus pada bantuan karitatif, melainkan juga mengembangkan berbagai bidang kehidupan masyarakat. (Sumber: Rakernas Lazismu 2025, Lazismu Pusat)

Baca Juga:  Rakerda Lazismu Bakorwil 5 Jatim: Menyatukan Langkah, Menguatkan Dampak Zakat

Bahkan dalam momentum Ramadan 1446/2025, Lazismu menyalurkan lebih dari Rp3,9 miliar kepada 36.780 penerima manfaat dan 239 lembaga di seluruh Indonesia. Fakta ini menegaskan skala luas Lazismu dalam menghadirkan kebermanfaatan nyata. (Sumber: Laporan Program Ramadan 1446 H, Lazismu, April 2025)

Program Pemberdayaan UMKM dari Sidoarjo

Salah satu model pemberdayaan ekonomi dapat dilihat di Lazismu Sidoarjo. Melalui dana CSR Bank Mega Syariah, Lazismu melaksanakan Program Pemberdayaan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dengan memberikan bantuan alat usaha dan modal usaha kepada 40 pelaku UMKM. Jenis usaha yang terbantu sangat beragam, mulai dari telur asin, kerupuk, penjual soto, katering, konveksi, hingga ternak ayam.

Kategori penerima program ini juga beragam, mulai dari UMKM disabilitas, marbot masjid, keluarga yatim, hingga entrepreneur muda. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan pelatihan pemasaran dan pendampingan usaha agar mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Hasilnya mulai terlihat. Beberapa peserta program kini tidak hanya bisa menopang kebutuhan keluarganya, tetapi juga bertransformasi menjadi donatur baru dengan rutin berinfak. Inilah bukti bagaimana zakat bisa menciptakan siklus keberkahan: dari mustahik menjadi muzakki.

Baca Juga:  UMKM Dominan, Industrialisasi Terlambat: Alarm bagi Ekonomi Nasional

Transformasi Mustahik menjadi Muzaki

Esensi dari pemberdayaan ekonomi umat yang dilakukan Lazismu adalah mengubah posisi mustahik (penerima zakat/infak) menjadi munfik/muzaki (pemberi infak/zakat). Perubahan status ini tidak hanya berdampak pada individu dan keluarganya, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Dengan pemberdayaan yang tepat, zakat mampu melahirkan pelaku usaha baru, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing UMKM di tingkat lokal maupun nasional.

Pilar Lain yang Mendukung Ekonomi

Selain program khusus ekonomi, Lazismu juga menjalankan program di bidang pendidikan, kesehatan, dakwah, sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. Meski tampak tidak langsung terkait dengan ekonomi, semua pilar ini sesungguhnya saling menopang.

Contohnya, pendidikan yang baik akan mencetak generasi produktif. Layanan kesehatan yang terjangkau akan menjaga kualitas sumber daya manusia. Sementara itu, dakwah dan sosial membangun karakter serta jejaring solidaritas yang memperkuat budaya gotong royong dalam berwirausaha.

Menuju Ekonomi Umat yang Mandiri

Fungsi Lazismu dalam pemberdayaan ekonomi umat bukan hanya soal memberi bantuan sesaat, melainkan mendorong pembangunan berkelanjutan. Melalui pelatihan keterampilan, modal usaha, hingga bantuan alat usaha, Lazismu berupaya menciptakan ekosistem ekonomi umat yang mandiri.

Baca Juga:  Ketua Lazismu Jatim Tekankan UMKM Harus Berkelanjutan

Dalam skala nasional, komitmen ini sejalan dengan misi besar Muhammadiyah untuk menghadirkan Islam berkemajuan, yakni Islam yang tidak hanya berbicara pada aspek spiritual, tetapi juga memberi solusi konkret atas problem sosial-ekonomi umat.

Peran Lazismu dalam pemberdayaan ekonomi umat menjadi bukti bahwa zakat, infak, dan sedekah dapat dikelola lebih dari sekadar instrumen karitatif. Dengan strategi yang tepat, dana umat bisa menjadi motor penggerak kemandirian dan kesejahteraan.

Kisah pemberdayaan UMKM di Sidoarjo menunjukkan bahwa zakat mampu melahirkan pelaku usaha baru sekaligus donatur baru. Sementara itu, data nasional membuktikan Lazismu memiliki daya jangkau luas dalam menyalurkan dana ratusan miliar rupiah untuk umat.

Dengan dukungan masyarakat dan kolaborasi berbagai pihak, Lazismu diyakini akan terus memperkuat perannya dalam membangun ekonomi umat yang lebih berdaya, mandiri, dan bermartabat.

Mari dukung program Pemberdayaan Ekonomi Lazismu dengan menyalurkan donasi melalui:

BSI No. Rekening: 7025835713
a.n. Lazismu Sidoarjo
Konfirmasi: 082140041912

Penyunting Mohammad Nurfatoni