Buku

Erros Djarot Terbitkan Dua Buku, Ungkap Kedekatan dengan Megawati

681
×

Erros Djarot Terbitkan Dua Buku, Ungkap Kedekatan dengan Megawati

Sebarkan artikel ini
Erros Djarot menerbitkan dua buku di tahun 2025 ini. Pertama berjudul Erros Djarot Apa Kata Sahabat. Buku kedua berjudul Autobiografi Erros Djarot.
Buku Erros Djarot Apa Kata Sahabat

Satu dekade terakhir, kehidupan dipenuhi ingar bingar politik pencitraan yang luar biasa menggejala sebagai penyakit kebudayaan yang endemik.

Tagar.co – Erros Djarot menerbitkan dua buku di tahun 2025 ini. Pertama berjudul Erros Djarot Apa Kata Sahabat. Buku kedua berjudul Autobiografi Erros Djarot.

Buku pertama berisi 72 tulisan dari teman-temannya yang mengulas sosok Eros Djarot dan kiprahnya. Mereka dari kalangan musisi, seniman, aktor film, wartawan, politisi, pejabat sipil dan militer, dan aktivis.

Teman-temannya ini beragam profesi dan aktivitas. Ini menunjukkan lingkungan dunia yang dijejaki oleh Erros Djarot. Dia memang multi talenta. Dari musisi, budayawan, wartawan, dan politisi.

Lagu ciptaannya selalu hits dan melegenda. Seperti Badai Pasti Berlalu, dan lalu-lagu yang dinyanyikan oleh Chrisye yang romantis dan syahdu.

Walaupun lagu-lagu ciptaannya romantis dan syahdu, sosok Erros bukan mellow. Itu terbaca dari isi Tabloid Detik yang dia dirikan tahun 1992. Beritanya kritis terhadap rezim Orde Baru. Karena itu tabloid ini berusia pendek. Tahun 1994 dibredel pemerintah.

Sayang, ada satu teman dekatnya yang tak ikut menulis di buku pertama. Yaitu Megawati Sukarnoputri. Padahal Erros ikut menemani Megawati di awal terjun ke dunia politik.

Mendampingi Mega saat disingkirkan dalam pertarungan menduduki ketua di Kongres PDI, hingga terjadi kerusuhan 17 Juli 1996 di kantor PDI Jalan Diponegoro No. 58 Jakarta. Lalu keliling ke daerah-daerah dan membentuk PDI Perjuangan.

Baca Juga:  Kafkaesque: Ketika Sistem Lebih Nyata dari Manusia

Cerita Amien Rais dan Bimantoro

Kedekatan Megawati dan Erros dituturkan oleh Amien Rais yang ikut menulis dalam buku ini. Amien Rais menceritakan,”Saya menjadi salah seorang saksi betapa Mas Erros mempunyai kedekatan khusus dengan Ibu Megawati.”

Dia menuturkan, suatu pagi bersama Mudrick Sangidu dan Abdillah Toha berkunjung ke rumah Erros Djarot di Jakarta. Ternyata Megawati sudah terlebih dulu datang.

Amien Rais nyeletuk,”Wah, kami sudah keduluan oleh Mbak Mega.”

Sambil tersenyum Mbak Mega berkata,”Memang kami berdua dekat sudah lama, kami dan teman-teman lain akan terus beroposisi pada Orde Baru.”

Kedekatan Mega dengan Erros juga diceritakan S. Bimantoro, mantan Kapolri dalam tulisannya di buku ini.

Bimantoro bercerita, saat menjabat Kapolwiltabes Surabaya tahun 1993, didatangi Erros dan sekretaris Megawati, Ricardo Hutauruk. Erros menyampaikan akan mendampingi Megawati selama Kongres Luar Biasa PDI di Asrama Haji Sukolilo.

”Erros menjelaskan panjang lebar pergolakan politik nasional dan internal PDI. Ada hal-hal yang baru saya ketahui setelah Erros menjelaskan.”

Tulisan Bimantoro di buku ini sangat menarik. Banyak informasi bagaimana KLB PDI itu dibuat ricuh. Dia sumber tepercaya yang bercerita peristiwa di balik KLB.

Baca Juga:  Film Pangku, Cermin Retak Bangsa

Hubungan Erros dengan Megawati agak menjauh bisa dicari jawabannya dari tulisan Suko Sudarso, politisi PDIP.

Suko Sudarso menulis, Pemilu 1999 PDIP dinyatakan sebagai pemenang. Tapi situasi ini malah membuat hubungan suami istri Taufiq Kiemas dan Megawati renggang.

Pasalnya Taufiq cemburu dengan Erros Djarot yang dekat dengan Megawati. Suko Sudarso menengahi masalah ini dengan konfirmasi ke tiga pihak. Ternyata hanya salah paham.

Bukan Adik Slamet Rahardjo

Aktor film Slamet Rahardjo tulisannya mengawali buku ini. Dia menceritakan masa kecil Erros hingga kiprah di musik, film, dan politik.

Dia mengakui kecerdasan, keberanian, dan sikap percaya diri adiknya itu. Bahkan ketika Erros pulang kuliah dari Jerman, Slamet melihat adiknya sudah berubah yang membuat dia dimaki-maki orang. Gara-gara Erros over confident.

Slamet bercerita, waktu Erros di Barong’s Band pernah ditulis sebagai adik Slamet Rahardjo. Erros langsung bikin statement: Saya bukan adiknya Slamet Rahardjo.

Slamet Rahardjo maklum adiknya tidak mau berada di bawah bayang-bayang popularitas kakaknya yang aktor film. Dia sudah punya ketenaran sendiri sebagai penata musik film, pencipta lagu.

Apalagi ketika film Tjoet Nja’ Dhien yang dia garap menjadi box office. Semua orang mengakui kehebatan Erros.

Namun tulisan Slamet Rahardjo memunculkan pertanyaan yang tak dijelaskan di situ. Yaitu tentang sosok Sugeng. Dua kali dia tulis.

Baca Juga:  10 Film Bertema Perselingkuhan Tahun 2025

Pertama, ketika bapaknya pisah dengan mamanya. Dia ikut bapaknya yang bertugas ke Balikpapan. Bapaknya mengatakan,”Ada koper baru, taruh bajumu di situ sama baju Sugeng.”

Kedua, ketika bertemu mamanya di Jakarta. Mamanya bertanya, di mana Sugeng?

Jika membaca keseluruhan tulisan Slamet Rahardjo itu, nama Sugeng seperti merujuk kepada Erros sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara. Tapi Slamet rupanya ingin pembaca menebak-nebak sendiri.

Komentar Erros

Erros Djarot dalam komentar terbitnya buku ini mengatakan, sejak dua puluh tahun lalu kawan dan sahabat mendorong menulis autobiografi. Dia bersyukur bisa terwujud tahun ini.

Dia mengatakan, banyak catatan perjalanan hidup yang dilalui sulit diterima sebagai kenyataan yang ditulis apa adanya.

”Apalagi satu dekade terakhir. Kehidupan dipenuhi ingar bingar politik pencitraan yang luar biasa menggejala sebagai penyakit kebudayaan yang endemik dan tumbuh meluas sangat liar melebar,” katanya.

Dia mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang telah menulis di buku Erros Djarot Apa Kata Sahabat tentang dirinya.

Juga apa yang ditulis dalam buku Autobigrafi Erros Djarot bisa bermanfaat dan memperkaya batin dan pikiran saat membacanya.

”Agar kita secara bersama lebih memaknai amanat kemerdekaan, merdeka, dan memerdekakan,” tandasnya. (#)

Penulis/Penyunting Sugeng Purwanto