Opini

Rocky Gerung Masuk Kandang Banteng

62
×

Rocky Gerung Masuk Kandang Banteng

Sebarkan artikel ini
Rocky Gerung mengapresiasi pidato Megawati disebut sebagai ungkapan yang jernih, tulus, dan berani menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan politik
Rocky Gerung ceramah di Rakernas PDIP.

Rocky Gerung mengapresiasi pidato Megawati disebut sebagai ungkapan yang jernih, tulus, dan berani menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan politik kekuasaan. Sekarang batinnya lega sudah melepaskan isu-isu yang selama ini ditahan oleh tuntutan politik.

Oleh Dr Eko Wahyuanto, dosen, peneliti, dan pemerhati sosial politik.

Tagar.co – Kehadiran tokoh Rocky Gerung pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDI Perjuangan (PDIP) di Ancol, Jakarta, Sabtu (19/1/2026), mengundang spekulasi.

Ia selama ini dikenal kritis pada pemerintahan Jokowi dan PDIP.

Di forum Rakernas dia menyampaikan pandangannya isi pidato Megawati dan perkembangan partai banteng ini.

Kehadiran Rocky Gerung ini dinilai banyak pihak sebagai tradisi politik yang menarik. Apalagi sosok Rocky yang pernah dilaporkan ke polisi oleh kader PDIP atas tuduhan penghinaan terhadap Presiden Jokowi.

Rakernas digelar di tengah transisi politik pasca Pemilu 2024. Hasil Pemilu, PDIP kehilangan posisi dominan setelah jagonya Ganjar-Mahfud ditumbangkan Prabowo-Gibran.

Namun pesan politik Megawati Sukarnoputri tetap lugas tanpa mencerminkan kekalahan sebagai beban politik. Antara lain ia menyoroti soal iklim ekstrem sebagai ancaman nyata masa depan. Kata Megawati, bencana alam di Sumatra akibat konsesi lingkungan berlebihan.

Di sisi lain isu global seperti penyerangan Amerika Serikat terhadap Venezuela, juga menjadi perhatian partai yang pernah berkuasa itu. Megawati mengecam tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela.

Baca Juga:  Hidup di Atas Amplop

Kata Megawati, politik bukan hanya tentang popularitas, tapi juga tentang kesadaran global dan prinsip kedaulatan bangsa dalam menghadapi isu-isu internasional seperti krisis Venezuela.

Tokoh Manajemen Kepemimpinan Peter Drucker, mengatakan, kepemimpinan bukan tentang membuat pengikut, tetapi tentang membuat lebih banyak pemimpin tanpa beban, dan menekankan pentingnya kesadaran terhadap isu-isu global.

Pidato Mega ini dapat diinterpretasikan sebagai upaya Megawati melepaskan beban batin setelah periode kekuasaan panjang, di mana PDIP sering dikritik atas dukungannya terhadap kebijakan Jokowi.

Ketulusan

Rocky Gerung mengapresiasi pidato Megawati. Ia menyebut ucapan Mega sebagai ungkapan yang “jernih, tulus, dan berani,” menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan politik kekuasaan.

“Batin beliau (Megawati ) bersih.” dan sekarang lega sudah melepaskan isu-isu yang selama ini ditahan oleh tuntutan politik. Ini kontras dengan sikap Gerung di masa lalu. Dulu ia sering mengkritik PDIP atas dugaan nepotisme, cawe-cawe Pilpres, dan kegagalan menjaga demokrasi.

Pada 2023, misalnya, pakar filsafat itu dilaporkan oleh PDIP atas pernyataannya yang dianggap menghina Jokowi, meski kasus itu akhirnya dicabut.

Baca Juga:  Sikap Tahu Diri Pejabat

Kembali ke soal kehadiran Rocky Gerung, apakah sesungguhnya PDIP sedang mencari “sekutu baru” karena kekurangan pemimpin internal yang kuat, atau sekadar mendapat underline dari seorang tokoh kontroversi tadi.

Krisis Kepemimpinan

Biasanya, krisis kepemimpinan sering ditandai  ketergantungan pada figur eksternal, tarik menarik yang memunculkan konflik internal, atau kegagalan regenerasi.

Faktanya tidak. Megawati sebagai figur sentral seolah tak tergoyah. Sejak didirikan, partai itu justru identik dengan dinasti Soekarno, dengan Megawati sebagai pemimpin karismatik.

Meski di usia yang sudah 78 tahun pada 2026, ketangguhannya bisa dipertanyakan. Kekalahan di Pilpres 2024 menunjukkan potensi adanya kelemahan itu.

Jika iya, kehadiran darah baru dari tokoh luar partai bisa dibaca sebagai sinyal bahwa PDIP perlu kehadiran seseorang yang mampu menaikkan adrenalin politiknya. Memperkaya wacana diskusi internal, tanpa menunjukkan adanya defisit sikap kritis dari dalam.

Niccolo Machiavelli, seorang filsuf Italia, pernah mengatakan tentang pentingnya realisme politik dan kebijaksanaan dalam menghadapi situasi yang kompleks, agar kebijaksanaan pragmatis tidak mengabaikan kekuatan internal dan prinsip moralitas.

Tapi mengapa mengandalkan oposisi eksternal jika kepemimpinan internal solid?

Di platform X, kehadiran Gerung memicu diskusi tentang apakah ini oposisi selektif atau oportunisme.

Baca Juga:  Deepfake dan Keterlambatan Hukum

Ada penafsiran kalau Gerung sedang mendekat ke PDIP sebagai benteng oposisi sambil mempertanyakan konsistensi kritikannya.

Lainnya melihatnya sebagai rekonsiliasi, tapi ada juga yang menyindir Gerung sebagai buzzer PDIP baru.

Ini mencerminkan persepsi publik bahwa PDIP sedang mencari dukungan di luar lingkaran tradisional, potensi tanda krisis identitas partai.

Soliditas

Pidato Megawati fokus pada kemanusiaan. Ini bisa dilihat sebagai kekuatan, bukan kelemahan, menunjukkan bahwa partainya mampu beradaptasi sebagai oposisi yang lebih ideologis.

Jika demikian, kehadiran Gerung menjadi strategi cerdas untuk membangun aliansi intelektual. Mirip dengan bagaimana partai-partai lain merekrut tokoh eksternal untuk memperkaya visi.

Tetapi jika langkah itu bukti krisis kepemimpinan, maka PDIP perlu segera menangani regenerasi.

Partai ini memiliki basis kuat di kalangan nasionalis dan akar rumput, tetapi tanpa pemimpin muda yang karismatik, risiko fragmentasi dapat meningkat.

Di sisi lain, ini bisa menjadi langkah progresif, dengan mengundang tokoh kritis, PDIP menunjukkan kematangan dalam menghadapi oposisi internal dan eksternal, potensi menguatkan posisinya menuju 2029.

Jika pola ini berlanjut, apalagi dengan menunjukkan ketergantungan pada figur luar, maka spekulasi tentang adanya persoalan pada kepemimpinan PDIP  semakin menguat. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto