
Hidup di atas amplop merupakan realitas yang sering kita saksikan bahwa keputusan diambil bukan berdasarkan akal sehat, keadilan, atau aturan, melainkan ada transaksi tersembunyi.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.
Tagar.co – Sebuah celoteh percakapan beredar di media sosial mempertemukan dua sosok publik dengan daya refleksi yang sama-sama tajam.
Sujiwo Tejo, budayawan yang gemar menyentil lewat metafora, dan Rocky Gerung, filsuf yang dikenal dengan satire rasionalnya.
Dalam percakapan itu, Sujiwo Tejo melontarkan kritik. ”Kamu ini hebat, Rocky, cuma sayang hidupmu hanya di atas kertas. Padahal mestinya hidupmu di atas bumi.”
Rocky Gerung menjawab singkat, namun menusuk: ”Tapi orang-orang di atas bumi itu hidupnya di atas amplop.”
Meski lahir dari ruang media sosial yang cair dan informal, pertukaran kalimat ini sesungguhnya memuat kritik sosial yang serius. Bahkan relevan untuk membaca kondisi kehidupan publik hari ini.
Ungkapan ’hidup di atas kertas’ kerap dilekatkan pada kaum intelektual, akademisi, atau pemikir yang dianggap terlalu sibuk dengan konsep, teori, dan aturan, namun jauh dari kenyataan sehari-hari.
Kritik semacam ini mengandaikan bahwa pemikiran seharusnya turun ke bumi, menyentuh realitas konkret masyarakat.
Namun, perlu dicatat bahwa ’kertas’ bukan sekadar simbol keterpisahan dari kenyataan. Dalam kehidupan bersama, kertas justru mewakili
- konstitusi
- undang-undang
- kebijakan publik
- rencana pembangunan
- serta kesepakatan sosial
Semua tata kelola kehidupan modern berangkat dari kertas. Tanpa prinsip tertulis dan kerangka normatif, kehidupan di atas bumi akan kehilangan arah, ukuran, dan mekanisme pertanggungjawaban.
Transaksi Tersembunyi
Balasan Rocky Gerung menggeser kritik ke wilayah yang lebih problematik. Amplop dalam konteks sosial Indonesia telah lama menjadi metafora bagi
- suap
- gratifikasi
- kompromi kepentingan
- dan praktik informal yang mengalahkan aturan formal
Ketika Rocky mengatakan bahwa orang-orang yang hidup di atas bumi justru hidup di atas amplop, ia sedang menyingkap realitas yang sering kita saksikan bahwa keputusan diambil bukan berdasarkan akal sehat, keadilan, atau aturan, melainkan berdasarkan transaksi tersembunyi.
Di titik ini, kehidupan yang diklaim realistis justru menjadi rapuh secara moral. Realitas tidak lagi digerakkan oleh nilai, tetapi oleh nominal.
Paradoks Kehidupan Publik
Percakapan singkat ini memperlihatkan paradoks yang tajam bahwa:
Mereka yang bertahan pada prinsip dan gagasan dituduh tidak membumi.
Mereka yang “membumi” justru sering terjebak dalam pragmatisme transaksional.
Padahal, banyak persoalan sosial bukan lahir karena terlalu banyak aturan, melainkan karena aturan dikalahkan oleh kepentingan sesaat.
Ketika amplop lebih menentukan daripada kertas, maka keadilan menjadi selektif, dan etika berubah menjadi negosiasi.
Sebagaimana gaya Sujiwo Tejo dan Rocky Gerung, kritik ini tidak disampaikan dengan amarah, tetapi dengan satire.
Humor di sini bukan untuk menertawakan, melainkan untuk menyadarkan. Ia membuka ruang refleksi tanpa menggurui.
Celoteh di media sosial ini menunjukkan bahwa kritik paling tajam justru sering lahir dari kalimat pendek yang jujur, bukan dari pidato panjang.
Penutup
Pada akhirnya, persoalannya bukan memilih hidup di atas kertas atau hidup di atas bumi. Persoalannya adalah ketika kehidupan di atas bumi menolak dikoreksi oleh kertas, dan ketika kertas dikalahkan oleh amplop.
Tanpa prinsip, realitas menjadi liar. Tanpa keberanian menjaga nilai, kehidupan membumi hanya akan jatuh pada transaksi demi transaksi.
Di situlah sindiran Rocky Gerung menemukan relevansinya bahwa realitas yang mengandalkan amplop bukanlah realitas yang lebih nyata, melainkan realitas yang kehilangan arah.
Mungkin, yang kita butuhkan bukan menertawakan orang yang hidup di atas kertas, melainkan keberanian untuk memastikan bahwa kehidupan di atas bumi tidak dijalankan oleh amplop, tetapi oleh akal sehat, etika, dan tanggung jawab bersama. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












