Feature

Kartini Kecil dari Almadany: Panggung Mini, Cita-Cita Besar

42
×

Kartini Kecil dari Almadany: Panggung Mini, Cita-Cita Besar

Sebarkan artikel ini
Penampilan murid fase B SD Almadany dengan musik angklung dan vocal (Tagar.co/Istimewa)
Penampilan murid fase B SD Almadany dengan musik angklung dan vocal (Tagar.co/Istimewa)

Di panggung sederhana, murid SD Almadany tampil percaya diri membawakan lagu, memainkan angklung, dan menulis biografi Kartini—membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari langkah kecil.

Gresik — Denting angklung menggema di halaman SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Selasa pagi (22/4/2025). Lagu Ibu Kita Kartini yang dinyanyikan penuh semangat oleh para siswa kelas IV mengiringi pertunjukan musik tradisional yang sederhana namun memikat hati.

Suasana kian hangat, bukan hanya karena semangat anak-anak, tetapi juga makna yang mengiringi setiap nada: mengenang dan meneruskan perjuangan Raden Ajeng Kartini.

Dengan tema Future Leader, peringatan Hari Kartini 2025 di SD Almadany dikemas secara sederhana namun penuh makna. Ketua Panitia, Lilis Setyawati, S.Pd., menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran seluruh rangkaian acara. “Alhamdulillah semua rangkaian acara berjalan lancar,” ucapnya singkat namun penuh lega.

Baca juga: Zada Kanza, Kartini Modern Smamsatu Gresik yang Menginspirasi lewat Tulisan

Lilis menjelaskan acara tersebut terselenggara berkat koordinasi erat seluruh panitia. Penampilan seni yang dibagi berdasarkan tiga fase pendidikan menjadi sorotan utama. Fase A, yang terdiri dari siswa kelas I dan II, membawakan lagu “Ibu Kita Kartini”.

Baca Juga:  Tujuh Agenda Purnama Meriahkan Ramadan di SD Almadany

Fase B, yakni kelas III dan IV, menampilkan musik angklung dengan iringan lagu bertema kebangsaan. Sementara Fase C yang diisi oleh kelas V dan VI, menyuguhkan perpaduan musik seruling dan pianika yang menyayat rasa, diiringi lagu-lagu nasional.

Tak hanya pertunjukan seni, para siswa juga diajak mengekspresikan semangat Kartini melalui lomba yang disesuaikan dengan jenjang usia mereka. Fase A mengikuti lomba mewarnai gambar Kartini, Fase B menggambar sosok Kartini, dan Fase C menulis biografi tentang tokoh emansipasi perempuan Indonesia itu.

“Semua fase mendapat ruang untuk berkreasi sesuai tahap perkembangan mereka,” ujar Lilis.

Sambutan Kepala SD Almadany Nur Aini terkait perjuangan Kartini (Mahfudz Efendi)

Kartini: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Dalam sambutannya, Kepala SD Almadany, Nur Aini, S.Pd., M.Pd., menyampaikan kisah inspiratif tentang Raden Ajeng Kartini. Ia menggambarkan Kartini sebagai sosok perempuan pemberani yang memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

“Wanita yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah ini dikenal sebagai sosok yang tak gentar memperjuangkan harkat dan martabat perempuan,” ujar Nur Aini dengan nada penuh semangat.

Nur Aini mengisahkan bagaimana Kartini, yang lahir dari keluarga bangsawan, sempat menjalani masa pingitan sebelum menikah. Namun, ia tidak tinggal diam. Justru dari balik pingitan itulah, ia belajar secara mandiri, menulis surat-surat penuh pemikiran tajam kepada teman-temannya di Belanda, dan mengembangkan gagasan-gagasan besar tentang pendidikan dan kesetaraan bagi kaum perempuan pribumi.

Baca Juga:  Raker Dikdasmen PRM Kedanyang Ditutup, Ini Hasilnya

“Perjuangan Kartini tidak berhenti pada zamannya. Ia mendirikan sekolah perempuan dan mempelopori emansipasi lewat tulisan-tulisannya yang cerdas,” lanjut Nur Aini.

Tulisan Kartini yang sarat nilai pencerahan dimuat di majalah De Hollandsche Lelie, dan kemudian dihimpun oleh sahabat penanya, J.H. Abendanon, dalam buku berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini kemudian menjadi lentera bagi perubahan pola pikir masyarakat terhadap peran perempuan di tanah air.

“Perempuan bukan hanya pelengkap, tetapi pelaku utama dalam kehidupan berbangsa,” tutup Nur Aini.

Peringatan Hari Kartini di SD Almadany tahun ini bukan hanya menjadi ajang perayaan semata, tetapi ruang belajar bersama tentang keberanian bermimpi dan menjadi pemimpin masa depan—sebagaimana semangat yang diwariskan Kartini, dari Jepara untuk Indonesia. (#)

Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni