
Pertempuran pecah di Gerbang Selatan. Hantom Manoe terluka, tapi tak gentar. Sementara Gajah Mada bersiasat, darah dan keberanian menuliskan sejarah baru di perbatasan Aceh-Majapahit.
Hantom Manoe (Seri 10): Amukan di Perbatasan; Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Fajar baru saja menyingsing ketika kabar buruk tiba di istana Benua Tamiang. Seorang prajurit pengintai bergegas memasuki balairung, napasnya memburu setelah menempuh perjalanan tergesa-gesa.
“Paduka! Pasukan Majapahit telah bergerak. Mereka menyerang perbatasan dari arah selatan dengan kekuatan penuh!”
Raja Muda Sedia bangkit dari singgasananya. “Berapa jumlah mereka?”
“Sangat banyak, paduka. Lebih besar dari sebelumnya. Mereka bergerak cepat, membakar desa-desa yang mereka lewati.”
Baca Seri 1-9 Hantom Manoe
Hantom Manoe yang berdiri di samping sang raja mengepalkan tinjunya. “Mereka mencoba mengalihkan perhatian kita dengan pengkhianatan di dalam istana. Sekarang mereka melancarkan serangan besar.”
Teuku Gantar Alam mengangguk. “Mereka tidak ingin memberikan kita waktu untuk bersiap.”
Raja Muda Sedia menatap para panglimanya. “Kita tidak boleh membiarkan mereka menerobos lebih jauh. Siapkan pasukan terbaik kita dan hadang mereka di perbatasan!”
Pertempuran di Gerbang Selatan
Beberapa jam kemudian, pasukan Aceh berkumpul di garis depan. Hantom Manoe, meskipun belum pulih sepenuhnya, sudah menaiki kudanya, siap bertempur.
Di seberang mereka, pasukan Majapahit telah menyusun formasi. Di barisan depan, Gajah Mada sendiri memimpin, wajahnya penuh tekad.
Rakryan Tumenggung Anggabrata berdiri di sampingnya. “Hari ini, kita harus menghancurkan mereka sepenuhnya, Mahapatih.”
Gajah Mada mengangguk. “Tidak ada lagi perundingan. Kita basmi mereka hingga ke akar.”
Dengan suara gemuruh, pasukan Majapahit mulai maju. Para pemanah mereka melepaskan hujan anak panah ke arah pasukan Aceh. Namun, pasukan Aceh telah bersiap. Perisai-perisai besar mereka menahan serangan itu, sementara para penunggang kuda melaju menerobos hujan panah.
Hantom Manoe menghunus rencongnya. “Serbu! Jangan biarkan mereka melewati perbatasan!”
Benturan pertama antara kedua pasukan berlangsung dahsyat. Pedang beradu dengan rencong, tombak menghujam tubuh-tubuh prajurit. Jeritan perang menggema di antara debu dan darah.
Di tengah kekacauan, Hantom Manoe menargetkan Rakryan Tumenggung Anggabrata. Ia memacu kudanya, menerobos kepungan musuh, hingga akhirnya berhadapan langsung dengan panglima Majapahit itu.
Duel Panglima
Rakryan Tumenggung Anggabrata turun dari kudanya, mencabut pedang panjangnya. “Hantom Manoe, akhirnya aku bisa menebus kekalahan kami sebelumnya.”
Hantom Manoe turun dari kuda dan melangkah mendekat. “Kalau begitu, buktikanlah.”
Duel mereka berlangsung sengit. Hantom Manoe dengan kelincahan dan kekuatan rencongnya, sementara Rakryan Tumenggung Anggabrata mengandalkan teknik pedang khas Majapahit.
Serangan demi serangan ditepis, percikan api terlihat setiap kali bilah senjata mereka bertemu. Namun, Hantom Manoe mulai menyadari sesuatu—lawan yang dihadapinya kali ini jauh lebih kuat dan lebih terlatih dari sebelumnya.
Di kejauhan, Gajah Mada memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Ia tidak bisa membiarkan Hantom Manoe menang lagi. Dengan sebuah isyarat tangan, beberapa prajurit Majapahit bersiap melancarkan taktik licik.
Tanpa disadari oleh Hantom Manoe, dua prajurit Majapahit mulai bergerak dari belakang, membawa tombak panjang untuk menyerang di saat lengah.
Perang Belum Usai
Di sisi lain medan perang, Teuku Cindaku melihat gerakan mencurigakan itu. Ia segera berteriak, “Panglima, hati-hati di belakangmu!”
Namun, terlambat. Salah satu tombak berhasil menusuk bahu Hantom Manoe. Panglima Aceh itu menggeram kesakitan, tapi ia masih berdiri tegak.
Rakryan Tumenggung Anggabrata tersenyum. “Akhirnya, kau terpojok.”
Namun, Hantom Manoe tidak gentar. Ia meraih tombak yang masih menancap di bahunya, menariknya keluar dengan paksa, lalu menggunakannya untuk menyerang balik.
Pertempuran masih jauh dari selesai. Dan di tengah debu dan darah, sejarah sedang ditulis dengan pedang dan keberanian. (#)
Bersambung pada seri ke-11: “Perang Tanpa Ampun”
Penyunting Mohammad Nurfatoni








