
Teleportasi paksa, peta kuningan yang memilih ‘orang biasa’, dan sahabat lama yang ternyata musuh? Raka kini bukan sekadar pekerja toko buku. Dunia menunggu dia menyeimbangkan kekuatan kuno—tapi apakah dia siap menghadapi Penjaga Pertama?
Jejak Kuningan Terakhir (Seri 2): Reinkarnasi Penjaga Kedua; Cerbung oleh Oleh Abdul Rokhim Ashari; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur.
Tagar.co – Setelah kami mendarat di Tanah para Penjaga, udara dingin langsung menyergap. Kabut tebal menyelimuti pepohonan hitam, dan menara raksasa di kejauhan tampak lebih gelap, seolah menatap kami balik. Tubuhku masih bergetar karena teleportasi paksa itu, dan Lyss terlihat hampir sama lelahnya.
Baca Seri 1 Peta yang Tak Seharusnya Ada: Jejak Kuningan Terakhir
Lyss tergeletak di sampingku, menggeliat sambil memegang kepala.
“Argh… aku benci teleportasi paksa…”
Aku bangkit perlahan. “Di mana kita…?”
Lyss menatap menara itu, wajahnya tegang. Tatapannya berubah menjadi ketakutan yang tidak lagi ia sembunyikan.
“Raka…” katanya hampir berbisik.
“Ini adalah tempat yang tidak pernah ingin didatangi oleh makhluk dunia mana pun.”
Ia menelan ludah.
“Kita berada di Tanah para Penjaga.”
“Dan itu…”
Ia menunjuk menara gelap yang berdiri di kejauhan.
Angin di tempat itu terasa berbeda—lebih berat, seolah membawa beban kenangan dari ribuan tahun lalu. Menara hitam menjulang di kejauhan, puncaknya menembus kabut pekat. Setiap kali angin bertiup, terdengar suara samar seperti bisikan yang tersebar di udara.
Aku menelan ludah. “Tempat ini… kenapa terasa seperti memandang balik ke kita?”
Lyss berdiri di sampingku, wajahnya tegang. “Karena memang begitu. Tanah para Penjaga adalah tempat yang hidup. Dia tahu saat ada yang datang. Dia menilai dan menguji.”
“Aku tidak minta diuji,” gerutuku.
Lyss menghela napas panjang. “Kalau begitu, kau tidak akan bertahan lama.”
Kami mulai berjalan menuju menara. Tanahnya gelap, seperti abu dingin. Setiap langkah meninggalkan jejak yang langsung hilang seakan tanah itu menelan kaki kami.
Pepohonan hitam menjulang seperti penjaga yang mengawasi diam-diam. Semakin mendekat, semakin jelas terlihat bahwa menara itu dipenuhi retakan bercahaya biru pucat—seperti nadi yang mengalirkan energi kuno.
Saat kami hanya tinggal beberapa puluh meter dari gerbang batu menara yang raksasa, peta kuningan di tanganku bergetar, garis-garis di dalamnya bergerak cepat, membentuk simbol baru: tiga lingkaran bertumpuk.
Lyss terbelalak. “Tidak… tidak mungkin…”
“Apa lagi sekarang?” tanyaku.
“Itu simbol untuk Pemanggilan. Seseorang—atau sesuatu—di dalam menara sedang memanggilmu.”
“Tapi siapa?!”
“Satu-satunya Penjaga yang tinggal…” suara Lyss merendah, “…Penjaga Pertama. Dia hilang hampir seribu tahun. Tak ada yang tahu apakah dia mati atau berubah menjadi sesuatu yang lain.”
Pertanyaannya menggantung di udara.
Kami berhenti tepat di depan gerbang menara. Ukirannya terbuat dari batu obsidian dengan coretan-coretan kuno yang memancarkan cahaya kebiruan.
Tiba-tiba, tanpa kami sentuh, gerbang itu retak pelan kemudian terbuka dengan sendirinya.
Dari dalam menara, keluar angin dingin yang membawa aroma logam dan tanah basah. Cahaya biru menari-nari di dinding, membentuk bayangan panjang.
Dan dari bayangan itu terdengar langkah.
Tok… tok… tok…
Seseorang berjalan mendekat.
Aku mengepalkan peta kuningan erat-erat. Lyss di sampingku menegakkan tubuhnya, telinganya bergerak tegang.
Siluet itu muncul dari balik kegelapan: tinggi, berjubah gelap, dengan garis-garis cahaya kuning menelusuri tangannya. Wajahnya tidak terlihat, tertutup tudung. Tapi suaranya… suara itu bergema seperti berasal dari ruangan yang jauh lebih besar dari yang kami lihat.
“Akhirnya… Penjaga baru datang.”
Aku menarik napas. “Siapa kau?”
Siluet itu berhenti hanya beberapa langkah di depan kami. Udara terasa elektrik, seolah waktu melambat.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
Di balik tudung, tampak sepasang mata emas menyala—mata yang tidak mungkin dimiliki manusia biasa.
Ia tersenyum tipis.
“Namaku Ardan. Penjaga Pertama… dan penyebab dunia ini hampir runtuh.”
Ardan berdiri di depan kami dengan mata emasnya yang memancarkan cahaya aneh. Aura yang dipancarkannya membuat udara di sekitar kami bergetar halus.
“Aku memanggilmu,” katanya, “karena dunia ini sedang runtuh… dan hanya kau yang bisa menghentikannya.”
Aku hendak bertanya ketika tiba-tiba Lyss maju satu langkah, wajahnya penuh amarah—reaksi yang tidak pernah kulihat sebelumnya dari makhluk kecil itu.
“Kau masih berani bicara seolah-olah kau penyelamat?!” teriak Lyss.
Aku terkejut. “Lyss? Kau kenal dia?”
Lyss menggertakkan giginya, matanya berubah gelap.
“Kenal? Dia adalah alasan semua Penjaga lain mati!”
Aku terpaku. “Apa?!”
Ardan tidak menunjukkan reaksi marah, hanya menghela napas panjang seperti seseorang yang sudah lelah menanggung dosa selama ratusan tahun.
“Benar,” katanya tenang. “Aku yang menghancurkan mereka. Tapi bukan karena aku ingin.”
Lyss menatapku. “Jangan dengarkan dia. Itu semua kebohongan.”
Aku menatap keduanya. “Tunggu sebentar. Ada yang tidak aku mengerti—kalau kau Penjaga Pertama, kenapa peta kuningan memilih aku? Mengapa bukan kau?”
Ardan memejamkan mata.
Dan saat ia membuka matanya lagi, warna emasnya berubah menjadi biru.
Lyss terpaku. Aku pun.
Ardan mengangkat kedua tangannya. Cahaya biru dari telapaknya menyala dan sesuatu yang mustahil terjadi.
Peta kuningan di tanganku merespons. Garis-garisnya berubah—bukan hanya bergerak, tapi membentuk pola yang persis dengan cahaya Ardan.
Aku merasakan getaran kuat di dadaku.
“Tidak…” bisik Lyss.
“Itu tidak mungkin…”
Ardan menatapku lurus.
“Raka,” katanya, “kau bukan dipilih oleh peta.”
Aku mengerutkan dahi. “Lalu apa yang memilihku?”
Ardan menghela napas dalam lalu menjawab:
“Kau adalah reinkarnasi Penjaga Kedua.”
Dunia seakan berhenti.
Lyss menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar.
“Itu berarti… itu berarti dia tidak kembali sebagai memori tapi sebagai manusia penuh dunia benar-benar berada di ambang kehancuran.”
Aku mundur beberapa langkah. “Tunggu! Aku? Penjaga Kedua? Aku cuma pekerja toko buku!”
Ardan menggeleng pelan.
“Kau pernah. Seribu tahun yang lalu. Kau dan ak pernah menjaga dunia ini bersama. Kau adalah satu-satunya yang mampu menyeimbangkan energiku.”
Ia menatap lembut, tapi ada luka di matanya.
“Kau mati saat mencoba menghentikanku saat aku kehilangan kendali. Dan sejak itu dunia ini runtuh pelan-pelan.”
Aku merasakan sesuatu berdenyut di dada, seperti memori hidup yang berusaha bangkit ke permukaan.
“Kau tidak ingat,” lanjut Ardan. “Kau tidak seharusnya ingat sampai Gerbang Pertama membangunkan bagian dirimu yang lama.”
Lyss menatapku dengan campuran takut dan hormat.
“Raka…” katanya pelan.
“Jika itu benar, maka hanya kau yang bisa menghentikan Ardan jika dia kehilangan kendali lagi.”
Aku menatap Ardan—seseorang yang dulu mungkin sahabatku atau musuhku.
Ardan menatap balik. Di sudut bibirnya muncul senyum getir.
“Selamat datang kembali, Saudara Lama.” (bersambung!)
Penyunting Mohammad Nurfatoni







