
Di balik jas hitam dan gelar “Konsultan Narasi”, Zikri merancang pengkhianatan besar. Saat mikrofon dinyalakan, ia menelanjangi skandal pinjol seragam cokelat yang selama ini disembunyikan di balik narasi resmi.
Skandal Pinjol Seragam Cokelat (Seri 20, Tamat): Zikri di Tengah Bayangan Penguasa
Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Zikri menghilang dari radar. Tapi ia tak mati, juga tak ditangkap. Ia menyusup ke jantung kekuasaan, berdiri di antara pusaran kelicikan dan kekuasaan, menyaksikan langsung bagaimana narasi dibentuk dan manusia dikorbankan demi citra. Tapi justru di titik itulah, keputusan paling berbahaya diambil: mengorbankan dirinya sendiri … atau membocorkan semuanya.
Zikri berdiri tegak di depan cermin besar dalam kamar hotel mewah di lantai 23, Jakarta Selatan. Jas hitam disetrika rapi, dasi merah darah mengikat leher dengan presisi. Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala bagai urat nadi kapitalisme. Malam itu, ia akan tampil di acara resmi sebagai “Konsultan Narasi dan Strategi Digital” dari satuan tugas anti-hoaks nasional.
Gila? Mungkin.
Atau justru, ini adalah bagian akhir dari rencananya yang telah disusun sejak ia “menghilang” dari markas Nitikan.
Tiga pekan sebelumnya, Zikri tahu dirinya tak akan mampu bertahan hanya dengan video dan bukti. Mereka yang ia lawan adalah algojo sistem. Dan satu-satunya cara menumbangkan sistem adalah dengan berpura-pura menjadi bagiannya.
Baca seri selengkapnya: Skandal Pinjol Seragam Cokelat
Ia datang sendiri ke sebuah rumah yang dikenal sebagai “posko mediasi”. Tempat para aktivis yang tertangkap diberi dua pilihan: dibungkam, atau dipakai.
Zikri memilih yang kedua.
Dalam waktu dua minggu, Zikri sudah duduk di satuan tugas intelijen terbatas. Ia tidak langsung dipercaya. Tapi ia cepat membaca peta: siapa yang hanya boneka, siapa yang pengendali utama. Ia tahu Briptu Elfan sudah dibuang ke Papua, dan Pak H justru naik pangkat diam-diam.
Di sebuah rapat tertutup, ia menyaksikan langsung bagaimana “kerusakan digital” bukan untuk diperbaiki, tapi untuk dikelola. Krisis bukan untuk dicegah, tapi dipanen. Fitnah bukan musuh, tapi alat ukur seberapa jinak rakyat telah menjadi.
“Zik, bagus naskah framing kemarin,” puji salah satu jenderal. “Publik sekarang sibuk debat soal janda TNI, padahal kita habis tebas dua penyelidik pajak.”
Zikri tersenyum. Tapi di dadanya, hati mendidih.
Ayu dan Della masih bergerak dari bawah. Mereka mulai curiga. Video-video Zikri semakin kabur. Narasi yang dulu tajam, kini datar dan normatif. Banyak orang bilang Zikri sudah dibeli. Sudah jadi “salah satu dari mereka.”
Tapi Della, yang paling dekat dengan Zikri, menolak percaya. Ia bersikeras Zikri sedang menyusun ledakan terakhir. Dan benar saja, tiga hari sebelum pelantikan kepala satuan siber nasional, Ayu menerima kiriman file terenkripsi berisi arsip gelap: dokumen rahasia operasional, transkrip pemalsuan data pinjol, hingga rencana sistemik pencucian uang lewat koperasi seragam cokelat.
Di akhir file, hanya tertulis:
“Tayang saat aku berdiri di podium. Biar seluruh negeri lihat siapa aku sebenarnya.”
Hari pelantikan itu datang. Ruangan mewah, penuh wartawan, disiarkan langsung di 13 stasiun TV nasional. Zikri berdiri di podium, membaca pidato yang disiapkan tentang nasionalisme digital, perlunya kontrol informasi, dan bahaya disinformasi yang katanya “bisa menghancurkan negara dari dalam”.
Tapi di tengah pidato, sebuah notifikasi masuk di semua gawai: Twitter, Instagram, bahkan WhatsApp.
Akun @PenebusDosa77 kembali aktif.
Satu video ditayangkan: wajah Zikri sendiri, dengan latar ruang server rahasia. Ia berbicara:
> “Mereka mungkin pikir aku sudah tunduk. Tapi justru dari dalam aku melihat semuanya. Aku tahu siapa yang membunuh kebenaran, siapa yang hidup dari utang rakyat… dan sekarang, aku serahkan semuanya kepada kalian. Jangan percaya siapa pun, bahkan padaku. Percayalah hanya pada nurani kalian.”
Semua orang di ruangan membeku. Termasuk jenderal bintang tiga yang duduk di deretan depan. Wajahnya pucat. Karena dalam video itu, ada dirinya memerintahkan pemalsuan data, menyebut nama Zikri sebagai ‘alat’ sekaligus ‘target eliminasi’.
Zikri menutup pidatonya dengan kalimat yang tak tertulis dalam teks resmi:
“Negara bukan lembaga. Negara adalah nurani. Dan hari ini, nurani itu bangkit, bukan dari podium… tapi dari amarah rakyat.”
Setelah itu, Zikri menghilang lagi. Tak ada yang tahu ke mana. Sebagian bilang dia kabur ke luar negeri. Sebagian bilang ia dibunuh malam itu juga, dan jenazahnya dimusnahkan. Tapi sebagian lain percaya: Zikri masih ada, dan sedang menulis ulang peta kekuasaan dari balik layar.
Satu hal yang pasti: setelah hari itu, kepercayaan rakyat pada narasi resmi tak pernah pulih sepenuhnya.
Beberapa bulan kemudian, Della duduk di sebuah warung kecil di pinggir Kali Code. Ia membaca ulang pesan terakhir dari Zikri yang baru bisa dibuka setelah 90 hari:
“Kau mungkin kecewa karena aku harus jadi bagian dari mereka. Tapi kejahatan yang terorganisir hanya bisa dihancurkan oleh infiltrasi yang lebih sabar. Jangan cari aku. Aku bukan pahlawan. Aku hanya lelaki yang tak tahan melihat kebenaran diperkosa seragam.”
Della meneteskan air mata.
Di belakangnya, seorang pengamen memetik gitar dan menyanyikan lagu lama…
“Seragammu cokelat, hatimu hitam… Kau jual nurani demi pinjaman…” (Tamat)
Penyunting Mohammad Nurfatoni

