Cerbung

Pecahan Memori dan Langit yang Runtuh: Jejak Kuningan Terakhir

34
×

Pecahan Memori dan Langit yang Runtuh: Jejak Kuningan Terakhir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ketika peta kuningan meleleh dan langit retak, Raka menemukan jati diri yang terlupakan. Kebangkitan Mata Ketiadaan memaksanya memilih: tetap menjadi manusia biasa atau kembali menjadi Penjaga yang menyegel kehancuran dunia.

Jejak Kuningan Terakhir ( Seri 3, Tamat): Pecahan Memori dan Langit yang Runtuh; Cerbung oleh Abdul Rokhim Ashari; Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Angin di puncak menara itu berhenti mendadak, seolah waktu sendiri menahan napasnya.

Kalimat Ardan masih menggantung di udara dan terasa berat.
“Kau mati saat mencoba menghentikanku…”

Baca Seri 1: Peta yang Tak Seharusnya Ada: Jejak Kuningan Terakhir

Aku mundur selangkah, menggeleng kuat.

“Kau salah orang. Aku Raka. Penjaga toko buku. Aku bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali aku berkelahi, apalagi menjaga dunia!”

Ardan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melangkah maju, jubah hitamnya berdesir menyapu lantai obsidian. Lyss, makhluk kecil di sampingku, gemetar hebat hingga kakinya beradu dengan lantai batu.

“Jangan mendekat!” teriak Lyss, suaranya melengking ketakutan. Ia mencoba menarik tanganku menjauh.

“Raka, kita harus pergi! Energi di sini… ini bukan energi kehidupan. Ini energi kematian yang dipadatkan!”

Namun, Ardan sudah berada di hadapanku. Wajah di balik tudung itu akhirnya terlihat jelas saat ia mengangkat dagu. Wajah itu tampan, namun retak—secara harfiah. Kulit pucatnya dipenuhi garis-garis emas yang berdenyut redup, seakan tubuhnya adalah keramik yang direkatkan kembali secara paksa.

“Peta itu tidak pernah memilihmu, Raka,” bisik Ardan, suaranya terdengar seperti gaung dari dalam gua. “Peta itu mengenalimu.”

Sebelum aku sempat menghindar, jari telunjuk Ardan yang bercahaya menyentuh dahiku.

Blarr!

Duniaku meledak menjadi putih.

Toko buku lenyap. Hutan kristal lenyap. Menara hitam lenyap.

Aku berdiri di tengah medan perang yang terbakar. Langit di atas bukan ungu atau biru, melainkan merah darah yang robek. Ribuan makhluk bayangan—jauh lebih besar dari Lurhar yang mengejarku di hutan—sedang merayap turun dari langit seperti tetesan tinta raksasa.

Di sampingku, berdiri seseorang. Itu aku. Tapi bukan “aku” yang kerdil dan bingung. Sosok itu mengenakan zirah emas yang menyilaukan, memegang tombak yang terbuat dari cahaya murni.

“Ardan! Jangan lakukan itu!” teriak sosokku di masa lalu.

Di seberang sana, Ardan melayang di udara, matanya hitam total, tertawa gila saat ia menarik energi gelap dari inti bumi untuk memusnahkan musuh-musuh itu. Ia tidak peduli bahwa dunia ikut hancur bersamanya.

Aku melihat diriku melompat, menancapkan tombak cahaya itu ke dada Ardan untuk menghentikan kegilaannya, tepat saat ledakan energi menyapu segalanya menjadi debu.

“Hah!”

Aku tersentak, jatuh berlutut di lantai dingin menara. Napasku memburu, keringat dingin membasahi punggung. Rasa sakit dari tombak itu… aku bisa merasakannya di dadaku sendiri, meski yang tertusuk adalah Ardan.

Baca Juga:  Tilawah dan Sambung Ayat Menggema, Open School SD Muri Sarat Nuansa Qur’ani

Ardan menatapku dengan mata emasnya yang kini redup, penuh kesedihan.

“Kau melihatnya?”

“Itu… itu ingatan siapa?” tanyaku parau.

“Ingatanmu. Sebelum kau hancur dan jiwamu terlempar ke dimensi manusia, melupakan segalanya.”

Tiba-tiba, menara berguncang hebat. Bukan guncangan biasa—ini terasa seperti seluruh fondasi dunia sedang ditarik paksa.

Lyss menjerit sambil menunjuk ke langit.

Langit kelabu di atas Tanah Para Penjaga mulai retak. Celah raksasa terbuka, dan dari sana, bukan cahaya yang masuk, melainkan kehampaan. Suara berderit yang mengerikan terdengar, seperti tulang-tulang raksasa yang patah.

“Mereka menemukan kita,” geram Ardan. Wajahnya mengeras.

“Para Pemangsa Dimensi.”

Dari retakan langit itu, turunlah sebuah tangan raksasa—hitam legam, besarnya melebihi ukuran menara tempat kami berdiri. Jari-jarinya yang runcing mencengkeram puncak menara.

Baca Seri 2: Reinkarnasi Penjaga Kedua: Jejak Kuningan Terakhir

Batu-batu obsidian meledak. Puing-puing berjatuhan.

“Raka! Peta itu!” teriak Ardan, suaranya kini penuh komando. “Itu bukan sekadar penunjuk jalan. Itu Kunci Pasung! Kau harus mengaktifkannya sekarang, atau dimensi ini—dan duniamu—akan dimakan habis!”

Aku menatap peta kuningan di tanganku. Peta itu kini panas membara, garis-garisnya tidak lagi diam, tetapi berputar liar membentuk pola rumit yang menyakitkan mata.

“Bagaimana caranya?!” teriakku di tengah gemuruh runtuhnya atap.

“Ingat rasa sakit itu! Ingat saat kau memegang tombak cahaya itu! Panggil senjatamu!”

Monster bayangan mulai berjatuhan dari langit seperti hujan meteor hitam, mendarat di sekitar kami. Lyss terlempar ke sudut, pingsan tertimpa reruntuhan kecil.

Melihat Lyss tak berdaya, amarah meledak di dadaku. Ketakutan itu lenyap, digantikan oleh naluri purba yang tidak kukenal tetapi terasa akrab.

Aku menggenggam peta itu dengan kedua tangan, memejamkan mata, dan berteriak sekuat tenaga, memanggil memori yang baru saja kulihat.

Peta kuningan itu meleleh.

Logam cairnya merambat naik ke lenganku, bukan membakar, tetapi menyatu dengan kulit, membentuk pelindung lengan emas yang bercahaya menyilaukan. Di tanganku, logam itu memanjang, memadat, dan membentuk sebuah tombak bermata dua yang berdenyut seirama dengan jantungku.

Ardan tersenyum tipis di tengah kekacauan.

“Selamat datang kembali, Saudaraku.”

Aku membuka mata. Iris mataku tak lagi cokelat, tetapi menyala ungu terang.
Aku menghentakkan tombak itu ke lantai.

Boom!

Gelombang kejut emas menyapu keluar dari menara, memotong langit kelabu, menghancurkan tangan raksasa yang mencengkeram atap, dan melempar ribuan monster bayangan kembali ke angkasa. Cahayanya begitu terang hingga menembus batas cakrawala, menerangi seluruh Tanah Para Penjaga yang gelap gulita.

Namun, saat cahaya itu mereda, aku melihat sesuatu di balik retakan langit yang membuat darahku membeku.

Baca Juga:  Ramadan Seru di SD Muri: Siswa Jadi “Detektif Ilmu Pengetahuan”

Itu bukan sekadar monster.

Di balik celah dimensi itu, terlihat sebuah mata raksasa seukuran bulan, menatap lurus ke arahku.

Dan sebuah suara berat bergema langsung di dalam kepalaku, membuat tombak di tanganku bergetar ketakutan:

“Kau pikir kau sudah menang, Penjaga Kecil? Kau baru saja memberitahu kami di mana kau bersembunyi.”

Keheningan menggantikan raungan pertempuran. Tanah Para Penjaga yang gelap kini bermandikan cahaya ungu dari tombak di tanganku, sebuah anomali di tengah kegelapan abadi.

Retakan di langit tidak menutup. Ia justru melebar, menampakkan kegelapan yang lebih dalam. Dan di balik kegelapan itu, mata raksasa seukuran bulan itu memandangku—tanpa berkedip, tanpa emosi. Sebuah Mata Kosong.

Suara berat yang bergema tadi terasa seperti tekanan fisik, membuat napasku tersendat.

Aku masih memegang tombak, separuh badanku diselimuti zirah emas cair yang berasal dari peta kuningan. Aku adalah Penjaga Kedua yang bereinkarnasi. Aku adalah Raka—penjaga toko buku yang kini memegang senjata yang mampu membelah dimensi.

“Mata itu…” desisku. “Apa itu?”

Ardan, yang berdiri di sampingku, kini terlihat lebih rapuh setelah ledakan energi tadi. Garis-garis retak emas di wajahnya bersinar lemah.

“Itu Tuan dari Ketiadaan,” jawab Ardan lirih. “Dialah yang kita segel ribuan tahun lalu. Dan dia baru saja bangun.”

Lyss siuman, merangkak dari balik reruntuhan. Makhluk kecil itu menatap Mata Kosong, lalu beralih ke tombak di tanganku. Ketakutan di matanya bercampur takjub.

“Raka… kau membangkitkan senjatamu: Tombak Pilar. Itu kunci untuk mengunci kembali gerbang, tapi kau…” Lyss menunjuk retakan di zirah Ardan. “…kau juga membangunkan Ardan!”

Ardan tersenyum masam.
“Memang begitu. Kita selalu menjadi satu paket, Lyss. Cahaya dan bayangan. Kehancuran dan penciptaan.”

Aku bingung.
“Tunggu! Kalau kita sudah pernah menyegelnya, kenapa dia bisa bangun lagi?”

“Karena aku,” kata Ardan. Ia menunduk.
“Dalam kegilaanku memusnahkan monster-monster kecil itu di masa lalu, aku terlalu banyak menarik energi dari inti Segel Utama. Itu melemahkannya. Dan saat kau menggunakan Tombak Pilar dengan kekuatan penuh barusan, kau merobek segel itu lebih lebar.”

Mata Kosong itu bergerak, bergeser sedikit ke bawah. Fokus.

Hembusan angin mengerikan datang dari retakan langit—bukan angin, melainkan daya isap kehampaan. Puing-puing menara langsung tersedot ke celah dimensi.

“Kita tidak punya waktu!” teriak Ardan. Ia mencengkeram bahuku.
“Satu-satunya cara untuk menyegelnya kembali adalah mengaktifkan Jantung Pilar di dasar menara. Kau harus memasukkan Tombak Pilar ke sana!”

“Kau tahu jalannya?”
“Menara ini aku yang membuatnya. Ikuti aku!”

Lorong Menara Hitam

Kami berlari masuk ke dalam menara. Lorongnya gelap gulita, namun zirah kuningan di tubuhku memancarkan cahaya yang cukup. Kami menuruni tangga spiral dari batu basal yang dingin dan licin.

Baca Juga:  Kolaborasi HW dan Nasyiatul Aisyiyah Perkuat Pembinaan Karakter di SD Muri

“Dulu kau menyukai tangga ini,” kata Ardan sambil berlari. “Katanya, tangga ini melambangkan perjalanan jiwa yang tak pernah lurus.”

“Aku benci tangga ini. Aku benci lari!” gerutuku terengah-engah.

Suara deru keras datang dari atas. Sebagian langit-langit runtuh, menutup jalan kembali.

“Cepat!”

Kami tiba di sebuah aula bundar, dan tiga makhluk besar—lebih besar dari Lurhar—menghadang. Cakar mereka tajam, kulit mereka keras seperti batu hitam.

“Aku yang urus! Kau teruskan!” seru Ardan.

Ia melepaskan kilatan energi emas. Kilatan itu membentuk cambuk cahaya, membelit dua monster sekaligus. Salah satunya terpecah menjadi debu.

Monster ketiga melompat ke arah Ardan.

Tanpa berpikir, aku mengayunkan Tombak Pilar, menciptakan perisai cahaya berbentuk kubah.

Krangg!

Serangan tertahan, tapi energiku terserap banyak.

“Aku bilang teruskan!” Ardan menatapku tajam.

“Kau harus utuh saat mencapai Inti!”

Aku mengangguk.

“Lyss, ikut aku!”

Kami menyelinap ke lorong lain yang ditunjukkan Ardan.

Jantung Pilar

Lorong itu berakhir di sebuah ruangan sempit. Di tengahnya, sebuah lubang sedalam sumur memancarkan cahaya hijau limau.

“Ini… Jantung Pilar,” kata Lyss, suaranya gemetar.

Dari kegelapan lubang, ratusan serangga kecil bersinar merayap keluar.

“Semut Khoros! Mereka memakan energi magis!”

Serangga-serangga itu langsung menutupi kakiku, menyedot cahaya zirah kuningan. Sensasinya seperti ratusan jarum halus menusuk kulitku.

Aku mengayunkan tombak, menciptakan gelombang energi, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.

“Raka! Cepat! Masukkan tombaknya!”

Aku tak punya pilihan.

Aku mengangkat Tombak Pilar, memfokuskan energi terakhirku, lalu menancapkannya ke dalam lubang.

Saat ujung tombak menyentuh cahaya hijau, dunia bergetar.
Bukan cahaya yang meledak, melainkan bunyi yang tidak bersuara.

Pilar cahaya ungu raksasa menyembur ke langit, menembus retakan dimensi—tepat ke arah Mata Kosong.

Mata itu bereaksi, menggeliat seperti makhluk purba terusik.

Tubuhku bergetar hebat. Aku merasa seperti menusuk mata seorang dewa.

Pilar cahaya dan kehampaan bertabrakan.

Dalam tabrakan itu, seluruh ingatanku—sebagai Raka dan sebagai Penjaga Kedua—menyatu.

Dari celah retakan, suara berat bergema:

Kau tidak bisa menyegel kehendak. Kami akan menemukanmu… termasuk di duniamu yang rapuh.

Retakan perlahan menutup.

Pilar cahaya memudar.

Aku tersungkur. Zirah emas itu mencair, kembali menjadi peta tua di lantai.

Lyss mendekat, terisak pelan.

“Kita… berhasil?”

Aku menatap langit yang kembali kelabu.

“Ya. Untuk sekarang.”

Namun jauh di udara, samar-samar, bekas retakan itu masih berdenyut.

Seolah dunia hanya diberi jeda—bukan keselamatan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni