Feature

Kuatkan Psikologi Masyarakat, Relawan Psikososial Muhammadiyah Jateng Dampingi Penyintas di Tapanuli Selatan

40
×

Kuatkan Psikologi Masyarakat, Relawan Psikososial Muhammadiyah Jateng Dampingi Penyintas di Tapanuli Selatan

Sebarkan artikel ini
Kuatkan psikologi masyarakat, Relawan Psikososial Muhammadiyah Jateng dampingi penyintas di Tapanuli Selatan. Mereka menampung keluhan warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga lanjut usia
Kuatkan psikologi masyarakat, Relawan Psikososial Muhammadiyah Jateng dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto dampingi penyintas di Tapanuli Selatan (Tagar.co/M. Taufiq Ulinuha)

Kuatkan psikologi masyarakat, Relawan Psikososial Muhammadiyah Jateng dampingi penyintas di Tapanuli Selatan. Mereka menampung keluhan warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga lanjut usia

Tagar.co – Upaya pemulihan pasca bencana di Tapanuli Selatan Provinsi Sumatra Utara terus berjalan setelah banjir dan longsor menerjang 11 kecamatan. Selain kerusakan fisik, para penyintas juga menghadapi tekanan psikis yang tak kalah berat. Situasi itu mendorong Muhammadiyah mengirimkan tim relawan dari Jawa Tengah. Termasuk tenaga psikososial dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) yang sejak awal langsung bergerak di lapangan.

Tim Psikososial UMP tiba pada Jumat (5/12/2025) dan langsung melakukan asesmen awal terhadap warga terdampak. Tim tersebut terdiri dari Jamaludin Pratama, Ahmad Sidiq Maulana, Aryane Clearesta Maharani, Mohamad Ali Masruri, Marshanda Dwi Sabrina Rahmawati, dan Asyifa Zahra.

Seorang anggota tim menjelaskan bahwa asesmen menjadi langkah pertama sebelum layanan lanjutan diberikan. Setelah asesmen, tim membuka layanan dukungan psikososial di beberapa titik terdampak. Fokus utama mereka berada di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, karena wilayah ini termasuk salah satu daerah dengan beban terdampak yang tinggi.

Baca Juga:  Tim Tanggap Bencana TBIG Jangkau Enam Lokasi, Salurkan 2,5 Ton Bantuan di Penghujung 2025

Aktivitas layanan berlangsung di pos-pos pengungsian dan ruang terbuka yang masih bisa digunakan warga. Relawan menjelaskan, penyintas membutuhkan ruang aman untuk bercerita. Mereka menampung keluhan warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga lanjut usia.

Permainan Sederhana dan Konseling

Dalam kegiatan tersebut, tim psikososial mengajak anak-anak melakukan aktivitas bermain guna mengurangi ketegangan. Mereka menyediakan permainan sederhana, kegiatan mewarnai, hingga sesi konseling kelompok kecil. Pendekatan itu dipilih karena anak-anak sering kali menyimpan trauma tanpa mampu mengungkapkannya secara jelas. Melalui aktivitas tersebut, relawan dapat mengidentifikasi apa yang sebenarnya dirasakan mereka.

Kelompok dewasa juga mengikuti sesi konseling. Di sesi ini, para penyintas berbagi pengalaman ketika banjir dan longsor terjadi. Beberapa warga mengaku masih sulit tidur akibat suara gemuruh tanah longsor yang mereka dengar beberapa hari sebelumnya. Relawan mencatat berbagai keluhan itu dan memberikan dukungan emosional serta teknik pernapasan sederhana untuk meredakan kecemasan.

Salah seorang warga menyampaikan bahwa kehadiran relawan membantu mereka merasa lebih tenang. “Kami sangat terbantu. Setidaknya ada tempat untuk menceritakan kejadian itu tanpa merasa takut,” katanya. Pernyataan serupa juga muncul dari warga lain yang merasa bahwa kunjungan relawan membuat mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi masa sulit.

Baca Juga:  TBIG Perluas Bantuan Banjir di 25 Titik di Sumatra dengan 10.000 Penerima Manfaat

Kelola Stres Pasca Bencana

Hingga Rabu (10/12), Tim Psikososial Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah telah melayani puluhan penyintas di berbagai titik. Jumlah itu terus bertambah seiring perluasan area pendampingan. Relawan menyebutkan bahwa kebutuhan dukungan psikososial masih cukup besar karena banyak warga yang belum sempat mengikuti sesi sebelumnya.

Selain konseling, relawan juga memberikan edukasi mengenai cara mengelola stres pasca bencana. Mereka mengajarkan langkah sederhana yang bisa dilakukan warga di rumah atau di tempat pengungsian. Edukasi ini dianggap penting agar penyintas memiliki kemampuan dasar untuk menjaga kestabilan diri meski relawan tidak selalu berada di lokasi.

Tim psikososial menilai dukungan jangka panjang tetap dibutuhkan. Meski beberapa warga mulai menunjukkan tanda-tanda pulih, sebagian lainnya masih memerlukan pendampingan lebih intensif. Tim berkoordinasi dengan relawan lokal agar layanan psikososial dapat berlanjut setelah mereka kembali ke Jawa Tengah.

Hingga laporan ini disusun, relawan Muhammadiyah terus menjalankan program pemulihan psikis bagi penyintas. Mereka berkomitmen mendampingi warga sampai kondisi emosional dan sosial masyarakat kembali stabil. “Kami akan terus membantu. Pemulihan psikis tidak bisa selesai hanya dalam satu atau dua hari,” ujar salah satu relawan. (#)

Baca Juga:  Banjir Pekalongan, Relawan Muhammadiyah Cepat dan Sigap Evakuasi Warga

Jurnalis M. Taufiq Ulinuha. Penyunting Sugiran.