Feature

Kisah Perawat Rodhiyal Amry bersama Tim Relawan RS Aisyiyah Bojonegoro, Hadirkan Layanan Kesehatan Mobile untuk Penyintas

44
×

Kisah Perawat Rodhiyal Amry bersama Tim Relawan RS Aisyiyah Bojonegoro, Hadirkan Layanan Kesehatan Mobile untuk Penyintas

Sebarkan artikel ini
Kisah perawat Rodhiyal Amry bersama Tim Relawan Disaster Medical Committe (DMC) RS Aisyiyah Bojonegoro Jatim. Mereka hadirkan layanan kesehatan mobile untuk penyintas banjir di Aceh
Kisah perawat Rodhiyal Amry bersama Tim Relawan Disaster Medical Committe (DMC) RS Aisyiyah Bojonegoro. Relawan Amry saat melakukan pemeriksaan kepada pasien korban bencana banjir Aceh (Tagar.co/Novita Dwi Nur Hidayah)

Kisah perawat Rodhiyal Amry bersama Tim Relawan Disaster Medical Committe (DMC) RS Aisyiyah Bojonegoro Jatim. Mereka hadirkan layanan kesehatan mobile untuk penyintas banjir di Aceh

Tagar.co – Kondisi fasilitas kesehatan pascabanjir di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan serius. Hal tersebut diungkapkan Rodhiyal Amry, S. Kep,. Ns., relawan medis dari Tim MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dan MDC RS Aisyiyah Bojonegoro, Kamis (15/1/2026).

Rodhiyal Amry terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir Aceh. Saat pertama kali tiba di lokasi tugas, kondisi fasilitas kesehatan tidak sepenuhnya siap untuk memberikan pelayanan optimal. Puskesmas Bandar Pusaka memang sudah mulai beroperasi, namun masih dengan berbagai keterbatasan.

“Beberapa peralatan kesehatan di Puskesmas Bandar Pusaka mengalami kerusakan karena terendam banjir, sehingga pelayanan belum bisa berjalan secara maksimal,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi yang lebih memprihatinkan terjadi di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sunting. Hingga tim relawan tiba, fasilitas tersebut masih terendam lumpur dan belum dilakukan pembersihan. Sehingga Pustu belum dapat difungsikan sama sekali untuk pelayanan kesehatan masyarakat.

Baca Juga:  Enam Relawan Muhammadiyah, Dua Mobil, dan Jalan Panjang Menuju Langkat dan Aceh Tamiang

Tantangan Keterbatasan Alat dan Tenaga

Akibat keterbatasan tersebut, tim MDMC dan MDC RS Aisyiyah Bojonegoro melakukan pelayanan kesehatan secara mobile. Berkeliling dari desa ke desa untuk menjangkau warga terdampak. Kehadiran tim medis keliling ini disambut dengan penuh antusias oleh masyarakat.

“Saat kami melakukan pelayanan kesehatan mobile keliling desa, masyarakat sangat bahagia dan menerima kami dengan baik. Mereka benar-benar membutuhkan layanan kesehatan di tengah kondisi yang serba terbatas,” ungkap Amry – sapaan akrabnya.

Dia memaparkan, bekerja di lapangan dengan keterbatasan alat dan tenaga bukanlah hal yang mudah. Namun, kondisi tersebut justru menjadi tantangan yang memperkuat kerjasama tim.

“Bekerja dengan keterbatasan alat dan tenaga tentu menjadi tantangan tersendiri. Tapi justru di situlah kami dituntut untuk bekerja lebih efisien dan saling berkoordinasi. Capek, tapi seru, dan itu menjadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan,” tuturnya.

Kisah perawat RS Aisyiyah Bojonegoro di Aceh. Relawan Rodhiyal Amry dan tim lainnya melakukan Screening Kesehatan di tengah pemulihan banjir Aceh (Tagar.co/Novita Dwi Nur Hidayah)

Bertahan Hidup di Tenda Darurat 

Selama menjalankan tugas selama kurang lebih 10 hari, tim medis MDMC dan DMC RS Aisyiyah Bojonegoro telah memberikan berbagai tindakan medis kepada warga terdampak. Dia menyebutkan, tim telah melakukan 17 kali tindakan rawat luka, serta satu tindakan bedah minor pada seorang anak yang bibirnya tertancap mata pancing.

Baca Juga:  MDMC Jatim di Aceh Tamiang, Sinergi Medis dan Psikososial Pulihkan Desa Sunting

“Alhamdulillah, seluruh pasien yang kami layani memiliki identitas lengkap, sehingga memudahkan pencatatan dan tindak lanjut pelayanan,” paparnya.

Amry mengungkapkan, pengalaman paling menyedihkan selama bertugas adalah ketika melihat secara langsung dampak banjir terhadap kehidupan masyarakat. Banyak permukiman warga mengalami kerusakan berat.

“Ada rumah yang roboh, terendam lumpur, bahkan ada rumah yang terbalik, terutama rumah panggung dari kayu. Kondisi ini sangat memprihatinkan,” katanya.

Selain kerusakan rumah, para penyintas juga masih harus bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang dikelilingi lumpur. Situasi semakin berat karena cuaca masih sering hujan, sehingga menambah risiko kesehatan dan ketidaknyamanan bagi warga, khususnya anak-anak dan lansia.

Namun di balik kesedihan tersebut, Amry juga merasakan kebahagiaan dan kekuatan luar biasa dari para penyintas. Dia menyebut, semangat dan ketahanan masyarakat menjadi penguat bagi para relawan.

“Momen paling membahagiakan adalah melihat semangat masyarakat yang tetap kooperatif dan saling membantu di tengah keterbatasan. Saat pelayanan kesehatan, meskipun sederhana, bisa memberikan senyuman untuk mereka, bahkan kami didoakan oleh para penyintas. Itu kebahagiaan yang luar biasa,” ungkapnya haru.

Baca Juga:  Banjir Bandang Situbondo, 116 Rumah Guru dan Siswa Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Terdampak

Di akhir masa tugas, Amry mengaku merasakan emosi yang mendalam ketika harus berpisah dengan rekan-rekan relawan yang telah berjuang bersama di lapangan.

“Ada rasa haru saat harus berpisah. Kebersamaan selama bertugas benar-benar memperkuat makna solidaritas dan kemanusiaan,” ujarnya.

Menutup keterangannya, Amry menyampaikan harapan agar Aceh dapat terus bangkit dengan dukungan pemulihan yang berkelanjutan dari berbagai pihak.

“Harapan kami, Aceh dapat bangkit dengan pemulihan yang berkelanjutan, baik dari sisi kesehatan, infrastruktur, maupun kesiapsiagaan bencana. Semoga masyarakat terdampak bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih aman dan layak. Mudah-mudahan ke depan sistem penanganan bencana dan layanan kesehatan semakin siap menghadapi situasi serupa,” harapnya. (#)

Jurnalis Novita Dwi Nur Hidayah. Penyunting Sugiran.