Cerbung

Foto Lama, Ancaman Baru: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

28
×

Foto Lama, Ancaman Baru: Skandal Pinjol Seragam Cokelat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Satu foto lama mengancam seluruh perjuangan Zikri. Di balik senyuman perempuan Asia Timur itu, tersimpan masa lalu yang bisa membunuh kredibilitas dan nyawa. Saat publik mulai percaya pada mereka, algoritma lawan mulai bekerja—menghapus jejak, membalik narasi, dan menjadikan mereka musuh bangsa.

Skandal Pinjol Seragam Cokelat (Seri 18) Foto Lama, Ancaman Baru

Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Satu foto lama mengancam seluruh perjuangan Zikri. Di balik senyuman perempuan Asia Timur itu, tersimpan masa lalu yang bisa membunuh kredibilitas dan nyawa. Saat publik mulai percaya pada mereka, algoritma lawan mulai bekerja—menghapus jejak, membalik narasi, dan menjadikan mereka musuh bangsa. Serangan balik telah dimulai. Tapi pertanyaannya: siapa yang akan jadi umpan pertama?

Tagar.co – Sebuah foto lama dari masa lalu Zikri muncul sebagai ancaman baru yang bisa membalik arah perjuangan mereka. Sementara publik mulai menaruh harapan pada tim pembongkar skandal, musuh diam-diam menyiapkan serangan balik yang jauh lebih kejam: bukan hanya membunuh karakter, tetapi juga menghancurkan ikatan, kepercayaan, dan kehidupan yang mereka lindungi.

Zikri masih memandangi foto itu dengan wajah pucat. Dalam gambar, ia berdiri di balkon apartemen mungil di New York, tangan kanan menggenggam erat tangan seorang perempuan Asia Timur yang tersenyum tenang, rambutnya dipotong sebahu, dan tatapannya menyiratkan keintiman yang tak mungkin dibantah. Di balik foto itu, tertulis kalimat tipis namun menggetarkan: “Semua orang punya sisi gelap. Tunggu giliranmu.”

Ayu membaca ekspresi wajah Zikri seperti seorang jaksa membaca berita acara. “Siapa perempuan itu?” tanyanya tanpa intonasi.

Zikri menunduk. “Namanya Kim Sora. Dulu kami rekan satu tim saat aku jadi relawan riset keamanan digital. Kami dekat… lebih dari seharusnya. Tapi itu sebelum aku mengenalmu.”

Baca Juga:  Menemukan Makna Hidup: Tiga Jejak Tugas Manusia di Bumi

Ayu terdiam. Ia bukan perempuan yang cemburu karena masa lalu. Tapi ia tahu, dalam dunia pertarungan opini publik, satu foto bisa berarti kehancuran total. Terlebih lagi jika di-framing sebagai ‘skandal hubungan luar negeri’, apalagi dengan narasi “agen asing”.

“Kalau Bambang atau orang-orangnya menggunakan ini, mereka bisa membunuh kredibilitasmu, dan pada akhirnya, membungkam semua data yang sudah kita sebarkan,” gumam Ayu.

“Bukan cuma itu,” Zikri menyahut pelan. “Kalau mereka tahu tentang Sora… bisa jadi dia dalam bahaya sekarang.”

Baca seri selengkapnyaSkandal Pinjol Seragam Cokelat

Sementara itu, Della menyusup ke kantor lama Yayasan Bhakti Manunggal yang kini dikunci permanen. Tapi satu pintu belakang masih bisa dibuka menggunakan ID lama yang belum dinonaktifkan.

Di dalam ruang server, Della mencari satu file yang dulu dikaburkan: BH-Alpha-Sura. File itu, menurut Yusron sebelum tewas, adalah semacam kill switch, data pengunci semua transaksi dan komunikasi rahasia yang melibatkan aktor-aktor besar dalam skandal pinjol termasuk jaringan pelindung internasionalnya.

Ia berhasil menyalin sebagian data sebelum alarm keamanan berbunyi. Tapi satu nama dalam daftar transaksi membuatnya hampir jatuh terduduk: Kompol Raka Wibisono mantan suaminya.

Sore hari itu, Ayu dan Zikri berkendara menuju perbatasan Cirebon untuk bertemu seseorang dari jaringan ‘media bawah tanah’ yang disebut bisa melindungi mereka sementara waktu. Tapi saat mobil melintasi jembatan kecil, seseorang memotong jalur mereka: sepeda motor tua yang dikendarai pria berjaket jaket hitam dan helm kaca hitam.

Baca Juga:  Aib Lama yang Kembali Mengetuk

Ledakan kecil terdengar di bagian belakang mobil. Mereka dibom molotov.

Zikri sigap membanting stir dan menyelinap ke gang sempit. Tapi di sudut sempit itulah, seorang pria bertubuh tinggi dengan pistol bersensor laser menodongkan senjatanya ke kaca depan mobil.

“Keluar. Sekarang.”

Mereka mengikuti. Tangan Ayu tetap menggenggam tas berisi harddisk eksternal.

Pria itu membuka helm. Wajahnya datar, tapi sorot matanya mengisyaratkan kejutan.

“Zikri,” katanya pelan. “Kukira kau sudah mati.”

Zikri terhenyak. “Nico?”

Pria itu tersenyum tipis. “Mereka menyuruhku membunuhmu. Tapi kau pernah menyelamatkan adikku dari overdosis di Brooklyn. Jadi kali ini… aku beri kau waktu tiga hari.”

“Tiga hari untuk apa?” tanya Ayu.

“Tiga hari sebelum seluruh sistem propaganda mereka menampilkan Zikri sebagai pengkhianat bangsa dan kau sebagai komunis digital. Tiga hari sebelum algoritma mereka menenggelamkan seluruh data kalian dengan konten-konten buatan.”

Zikri mengangguk pelan. “Terima kasih. Kau tak akan menyesal.”

Tapi Nico tertawa pelan. “Aku akan tetap diburu, jadi jangan beri aku harapan. Ini cuma utang yang ku bayar.”

Malamnya, mereka kembali ke markas kecil di Yogyakarta, tempat Della telah menunggu dengan napas memburu.

“Aku punya data baru,” kata Della. “Dan… kabar buruk.”

Ia menyerahkan satu folder bertuliskan nama-nama yang mereka tak duga akan terlibat.

Di halaman pertama: Kompol Raka Wibisono, disusul oleh Brigjen Pol (Purn) Abidin Harso, lalu yang mengejutkan: Redaktur Pelaksana Harian Rakyat Pagi media yang selama ini membela perjuangan mereka.

Ayu menggeleng. “Jadi selama ini… sebagian data yang dibocorkan sudah dipantau sejak awal?”

Baca Juga:  Keutamaan Salat Syuruk: Kapan dan di Mana Dilaksanakan, serta Bedanya dengan Duha

Della menunduk. “Dan disaring. Mereka biarkan kita ‘menang kecil’ agar tampak seolah sistem bekerja. Tapi data besar… tidak akan pernah mereka lepaskan.”

Zikri membuka laptop. Ia tak lagi bicara banyak. Tangannya sibuk menulis pesan ke kontak luar negeri: Kim Sora.

Pesannya singkat: “Jika kau masih hidup, waktunya memilih. Kirimkan semua backup datamu. Atau mereka akan datang padamu duluan.”

Keesokan harinya, akun @PenebusDosa77 menghilang. Semua cuitan, thread, dan tautannya lenyap. Google Drive yang tadinya publik, kini menampilkan pesan error: “404 – File Not Found.”

Media mulai bergeser narasinya. Beberapa menyebut data sebelumnya sebagai “rekayasa digital asing untuk memecah belah bangsa.” Sementara itu, muncul akun-akun anonim dengan narasi: “Zikri diduga agen Korea Utara.”

Zikri menatap layar dengan mata sayu. “Inilah yang mereka siapkan. Serangan balik.”

Ayu menggenggam tangannya. “Tapi kita belum habis. Selama kita belum berhenti, mereka belum menang.”

Della menyahut. “Kita perlu tim keempat. Bukan aparat, bukan media, bukan LSM. Tapi orang-orang kecil yang tahu bagaimana dunia digital bekerja… dan tak punya apa-apa lagi untuk ditakutkan.”

Zikri mengangguk. “Kita bangun jaringan. Hacker lokal, aktivis, penggiat komunitas, guru honorer, pedagang daring. Kita jadi saluran suara mereka.”

Ayu memicingkan mata. “Dan siapa yang akan jadi umpan pertama?”

Zikri tersenyum tipis, menatap foto lamanya bersama Kim Sora. “Aku. Mereka ingin menghancurkanku, kan? Kita beri mereka panggung… tapi kali ini, naskahnya aku yang tulis.” (#) Bersambung seri ke-19: Pertunjukan Umpan dan Penyamaran

Penyunting Mohammad Nurfatoni