Cerpen

Jejak Kaki Palsu Bapak

49
×

Jejak Kaki Palsu Bapak

Sebarkan artikel ini
Setiap langkahnya meninggalkan jejak perjuangan. Suara kaki palsunya menggema di masjid, hingga suatu hari tak terdengar lagi. Namun, kasih dan teladannya tetap hidup di hati kami.
Ilustrasi AI

Setiap langkahnya meninggalkan jejak perjuangan. Suara kaki palsunya menggema di masjid, hingga suatu hari tak terdengar lagi. Namun, kasih dan teladannya tetap hidup di hati kami.

Cerpen oleh Sri Asian, Guru SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Tagar.co – Ceramah salat tarawih telah diakhiri dengan salam, menandakan ibadah malam itu usai. Ratusan pasang kaki perlahan meninggalkan masjid, derap langkah mereka terdengar samar dalam keheningan malam. Namun, di antara semua itu, selalu ada satu suara yang khas, mendominasi di antara derap lainnya.

“Prak… prak… prak…”

Ya, itu suara kaki palsu Bapak.

Suara itu selalu menjadi irama tersendiri setiap kali ia melangkah keluar dari Masjid Al-Abror. Masjid itu berdiri kokoh dengan dinding putih bersih, dihiasi lampu kristal keemasan yang menggantung megah.

Jemaah, yang sebagian besar mengenakan baju koko dan sarung, perlahan membubarkan diri. Dan suara kaki Bapak tetap terdengar, seolah mengiringi kepergian mereka.

Baca cerpen lainnya: Hafalan Terakhir untuk Ayah

Namun, kini suara itu tak lagi ada.

Bapak telah pergi, meninggalkan kami sepuluh hari sebelum Ramadan tiba.

Padahal, pagi itu, ia masih tampak bersemangat. Mas Yahya, kakakku yang bekerja di dealer Honda, baru saja membelikannya kaki palsu baru—lebih ringan dan lebih nyaman dibandingkan yang lama.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

“Pak, besok kakinya datang ya,” kata Mas Yahya. Bapak mengangguk dengan wajah berbinar. Kami tahu, jauh di lubuk hatinya, ia sangat ingin memilikinya. Namun, Tuhan lebih dulu memanggilnya pulang.

Bapak sudah lama menderita. Sepekan terakhir, ia tak lagi bisa makan dengan normal, harus menggunakan selang. Dokter telah memvonis ada tumor di kerongkongannya. Sebelumnya, ia mengalami pendarahan dari telinganya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, aku tak kuasa melihatnya semakin lemah dari hari ke hari.

Sepuluh tahun lalu, kaki Bapak harus diamputasi karena diabetes yang parah. Namun, tak sekalipun ia mengeluh.

“Kenapa Bapak tak pernah mengeluh sakit?” tanyaku suatu hari.

Ia tersenyum tenang. “Mengapa harus mengeluh, Nduk? Bapak berjalan dalam skenario-Nya. Itu yang membuat Bapak tenang. Bukankah hidup ini tentang mencari ketenangan?”

Jawaban itu membuatku terdiam. Aku tahu, hatinya jauh lebih kuat dari tubuhnya.

Kata Ibu, dulu Bapak pernah berjaya. Usaha pracangannya maju pesat, namun setelah anak-anak masuk sekolah, usahanya bangkrut. Bapak tak menyerah. Ia mulai membuat jajanan, menitipkannya ke warung-warung dan kantin sekolah, dibantu Ibu. Ia juga mahir menjahit, menerima permak baju dari para tetangga.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Setiap hari, Bapak bangun pukul dua dini hari. Ia menyiapkan adonan kue, lalu menjelang Subuh, ia pergi ke masjid. Meski hanya memiliki satu kaki, ia tetap menjalankan semua tanggung jawabnya. Bahkan, ia masih bisa mengendarai motor, berboncengan dengan Ibu untuk berbelanja keperluan dagangan.

Keteguhan hati Bapak berbuah manis. Kami bertiga—dua kakakku dan aku—berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, semua berkat kerja kerasnya. Aku yakin, itu adalah prestasi terbesar seorang ayah.

##

Pagi itu, matahari baru saja menampakkan wajahnya saat Bapak bersiap pergi ke pasar bersama Ibu. Namun, sebelum sempat memarkir motor, tubuhnya tiba-tiba melemah. Orang-orang segera menolongnya, dan ia dilarikan ke rumah sakit. Dokter berkata, kali ini radang paru-parunya semakin parah.

Meski kesehatannya semakin menurun, ia tetap berusaha menjalankan aktivitasnya. Pagi-pagi ia menyelesaikan pekerjaan, siang hingga sore menerima permak baju. Bapak selalu tampak tenang, dengan senyum khasnya yang sulit aku lupakan.

Kesulitan hidup tak pernah membuatnya berkeluh kesah. Ia hanya berkata, “Bapak berjalan dalam skenario-Nya, Ndok.”

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Ah, Bapak… Bisakah kami meneladanimu?

Siang itu udara panas, seolah memberi pertanda. Keringat membasahi dahi Bapak yang terbaring lemah. Jemarinya perlahan bergerak, seakan menghitung dzikir yang ia lafalkan dalam hati. Lalu, dengan mata sayu, ia melakukan tayamum.

“Belum waktunya Zuhur, Pak?” tanyaku lirih.

Ia tersenyum lemah. “Tidak apa-apa, Nduk. Bapak ingin menghadap-Nya. Harus suci.”

Azan berkumandang, menggema hingga ke rumah kami yang hanya berjarak beberapa meter dari masjid. Bapak tampak khusyuk, menjawab setiap kalimat muazin dengan lirih. Keringat membasahi tubuhnya, tetapi ia tetap tenang.

Kami mengelilinginya, bergantian menuntunnya membaca syahadat. Suaranya semakin lirih, hingga akhirnya hanya satu kata yang terucap dengan perlahan:

“Allah…”

Matanya tertutup. Kami semua spontan mengucapkan, “Innalillahi wainnailaihi rajiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.”

Kini, Bapak telah sembuh. Tak ada lagi sakit, tak ada lagi derita. Suara kaki palsumu tak lagi terdengar di masjid, tapi kasih dan teladanmu akan selalu hidup di hati kami. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni