Opini

Erdogan dan Seni Mengambil Risiko dalam Kepemimpinan Negara

58
×

Erdogan dan Seni Mengambil Risiko dalam Kepemimpinan Negara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Keberanian mengambil keputusan besar kerap dipuji, sekaligus dipersoalkan. Kepemimpinan Erdogan menunjukkan bahwa jiwa entrepreneur bisa menjadi kekuatan, tetapi juga menyimpan konsekuensi serius.

Oleh: Mohamad Najib, Wakil Ketua PRM Moropelang, Babat, Lamongan

Tagar.co – Di era globalisasi yang sarat ketidakpastian, kepemimpinan negara tak lagi cukup mengandalkan kecakapan administratif dan kelihaian mengelola kekuasaan.

Pemimpin dituntut memiliki jiwa entrepreneur: keberanian mengambil risiko, ketajaman membaca peluang, serta daya tahan menghadapi guncangan. Tanpa itu, kebijakan mudah terjebak pada sikap menunggu, reaktif, dan kehilangan visi jangka panjang.

Baca juga: Krisis Konstitusi dan Harapan pada Kepemimpinan Prabowo

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjadi contoh menarik untuk dibaca secara kritis. Erdogan dikenal sebagai pemimpin yang kerap mengambil keputusan besar justru di tengah tekanan—baik tekanan ekonomi global, dinamika geopolitik kawasan, maupun situasi politik domestik. Pilihan-pilihan itu mencerminkan gaya kepemimpinan yang tidak selalu bermain aman.

Seorang pemimpin berjiwa entrepreneur memahami bahwa setiap keputusan strategis mengandung risiko. Dalam dunia kewirausahaan, kegagalan bukanlah anomali, melainkan bagian dari proses belajar. Cara pandang inilah yang relevan dalam kepemimpinan negara, terutama saat krisis ekonomi, fluktuasi pasar global, dan perubahan geopolitik datang silih berganti tanpa jeda.

Baca Juga:  AUM dan Tantangan Menjaga Roh Kaderisasi Muhammadiyah

Kebijakan Erdogan dalam mendorong pembangunan infrastruktur besar, penguatan industri nasional, serta agenda kemandirian ekonomi menunjukkan pola pikir tersebut.

Di tengah tekanan nilai tukar dan kritik internasional, Turki tidak sepenuhnya menarik rem, tetapi tetap menekan pedal gas pada sektor-sektor yang dipandang strategis. Ini adalah logika entrepreneur: tidak sekadar bertahan hidup, melainkan berupaya menciptakan peluang baru melalui visi jangka panjang—meski konsekuensinya tidak ringan.

Jiwa entrepreneur itu juga tercermin dalam kebijakan luar negeri Turki. Erdogan berusaha menaikkan posisi tawar negaranya di panggung global dengan pendekatan yang tegas sekaligus pragmatis.

Turki memainkan peran di antara kekuatan-kekuatan besar dunia, layaknya pengusaha yang membaca peta pasar global dan memilih celah paling menguntungkan. Kepemimpinan semacam ini menuntut keberanian, kreativitas, dan ketajaman kalkulasi.

Namun, di sinilah letak ujian terberatnya. Jiwa entrepreneur dalam kepemimpinan negara bukan tanpa risiko sosial dan politik. Keputusan yang terlalu berani, jika tidak disertai pengelolaan risiko yang matang, dapat memicu ketegangan sosial, tekanan ekonomi domestik, hingga erosi kepercayaan publik. Karena itu, keberanian harus berjalan beriringan dengan transparansi, akuntabilitas, dan kepekaan sosial.

Baca Juga:  Workshop Prinsip Agile Leadership Digelar Smamdela

Pengalaman Erdogan mengajarkan bahwa jiwa entrepreneur memang dapat menjadi modal penting bagi pemimpin di era modern, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Keberanian perlu dikawal oleh kebijaksanaan, dan visi besar harus ditopang oleh tata kelola yang kuat.

Di tengah ketidakpastian global, pemimpin masa depan dituntut bukan hanya piawai berpolitik, tetapi juga mampu bertindak sebagai visionary entrepreneur—tanpa kehilangan keberpihakan pada kepentingan publik. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…