Feature

Bedah Film Suara Kirana, Saat Remaja Diajak Mengisi Gelas Kosongnya

×

Bedah Film Suara Kirana, Saat Remaja Diajak Mengisi Gelas Kosongnya

Sebarkan artikel ini
PDNA Gresik menggelar program Pashmina di SRMA 37. Mereka mengedukasi siswa mengenai dampak psikologis perkawinan anak demi menjaga masa depan remaja lewat bedah film Suara Kirana.
Sayyidah Nuriyah, S.Psi mengajak siswa SRMA 37 Gresik memahami dampak psikologis perkawinan anak melalui bedah film Suara Kirana. (Tagar.co/Indah Putri Shofiyana)

PDNA Gresik menggelar program Pashmina di SRMA 37. Mereka mengedukasi siswa mengenai dampak psikologis perkawinan anak demi menjaga masa depan remaja lewat bedah film Suara Kirana.

Tagar.co — Pagi itu, suasana aula Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 Gresik mendadak sunyi. Sebanyak 75 siswa kelas X duduk menatap layar lebar pada Interactive Flat Panel (IFP).

Mereka tidak sedang menonton film aksi atau romansa remaja biasa. Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Gresik memutar film berjudul Suara Kirana sebagai pembuka materi pertama pada program Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah (Pashmina), Rabu, 4 Februari 2026.

Film edukatif ini memotret realitas pahit pernikahan anak yang sering kali tersembunyi di balik kata “tradisi” atau “solusi”. Lewat tokoh Kirana, para siswa menyaksikan bagaimana impian seorang remaja bisa kandas seketika.

Para siswa juga mengamati bagaimana ruang tumbuh yang seharusnya penuh tawa di sekolah berganti dengan beban domestik yang menghimpit. Film ini secara tajam menyoroti kerugian yang harus remaja tanggung, sebab belum siap secara mental.

Baca Juga:  PWNA Jatim Perkuat Dakwah Digital melalui Kreator Konten dan Mubaligah

Antusiasme peserta terlihat jelas saat diskusi mulai mengalir. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga meresapi kegelisahan Kirana. Melalui tema “Remaja Muda Berdaya, Menjaga Diri dan Masa Depan”, Pashmina PDNA Gresik berupaya membangun benteng pertahanan pertama: kesadaran.

Sebanyak 75 siswa SRMA 37 Gresik menonton film Suara Kirana. (Tagar.co/Indah Putri Shofiyana)

Analogi Gelas Kosong dan Beban Psikologis

Usai pemutaran film, Sayyidah Nuriyah, S.Psi., bergerak ke depan kelas. Konselor yang sehari-harinya mengabdi di SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik ini membedah isi film tersebut dengan perspektif psikologi yang mendalam.

Sebelumnya, ia menguji pemahaman siswa terkait film berdurasi 30 menit tersebut. Salah satu siswa, Liyana, memberanikan diri maju. Dengan nada bicara yang tegas, ia mengutarakan pendapatnya.

“Menikah di usia muda itu terasa sangat rumit karena belum ada kesiapan. Apalagi dalam film tadi, suami Kirana tidak mau membantu dan kurang bertanggung jawab,” ujar Liyana di hadapan teman-temannya.

Setelah memastikan pesan film tersebut sampai ke jantung pemikiran para remaja, ia mengajak siswa refleksi tentang apa saja yang hilang dari hidup Kirana. Di antaranya, rasa aman, dukungan emosional, arah hidup, ilmu pernikahan, bahkan identitas diri.

Baca Juga:  Tips Melejitkan Semangat Belajar di Semester Genap

Sayyidah lantas memberikan perumpamaan yang menarik. Ia mengibaratkan dua insan yang menikah di usia dini ibarat “gelas kosong”. Tanpa bekal pengetahuan, kematangan mental, dan stabilitas emosional, sebuah pernikahan akan terasa hambar dan penuh konflik.

Kondisi ini berbeda jauh dengan seseorang yang menikah saat sudah siap, layaknya gelas yang telah terisi penuh. “Mereka bisa saling berbagi, belajar bersama, dan membangun hubungan yang sehat dalam pernikahan,” imbuh Sayyidah.

Baca Juga: Blak-blakan Demi Masa Depan Remaja: Dokter Edukasi Reproduksi di Sekolah Rakyat

Para siswa SRMA 37 Gresik, pemateri, dan kader PDNA Gresik maupun Dinas KBP3A Gresik berfoto bersama setelah sesi materi berakhir. (Tagar.co/Indah Putri Shofiyana)

Merajut Kembali Harapan yang Nyaris Hilang

Sayyidah mengungkap, Kirana dalam film tersebut mengalami kehampaan luar biasa. Minimnya dukungan emosional membuatnya menjauh dari lingkungan sosial. Ia kehilangan tempat bercerita tentang betapa beratnya hidup setelah menikah. Rasa aman yang ia dambakan justru sirna; ia harus berjuang sendirian melindungi dirinya dan sang buah hati.

“Pernikahan bukanlah solusi atas rasa kosong atau pelarian dari masalah,” tegas Sayyidah dalam pemaparannya.

Ia menekankan, pernikahan adalah komitmen besar yang membutuhkan tanggung jawab dan kesadaran penuh. Karena itulah, melalui program Pashmina ini, PDNA Gresik ingin memastikan, tidak ada lagi “Kirana” lain di dunia nyata.

Baca Juga:  Dapat Hadiah Terindah, SMAN 1 Jetis Ponorogo Terakreditasi Unggul

Kegiatan ini berakhir dengan semangat baru di wajah para siswa. Mereka keluar kelas membawa pemahaman, masa remaja adalah waktu untuk mengejar cita-cita, bukan untuk terburu-buru memikul beban yang belum saatnya mereka tanggung.

“Setiap individu punya kekuatan untuk mengubah hidup. Kamu berhak menciptakan jalan yang sesuai impianmu, tanpa terbebani masa lalu keluargamu,” imbuhnya menutup sesi materi pertama pagi itu. Dengan bekal ini, ia optimis dapat mendorong generasi yang berdaya dalam menjaga masa depannya sendiri. (#)

Jurnalis Elsa Wahyuningtyas Penyunting Sayyidah Nuriyah