Feature

Blak-blakan demi Masa Depan Remaja: Dokter Edukasi Reproduksi di Sekolah Rakyat

×

Blak-blakan demi Masa Depan Remaja: Dokter Edukasi Reproduksi di Sekolah Rakyat

Sebarkan artikel ini
Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Gresik menggelar Pashmina Goes to School di SRMA 37 Gresik guna mengedukasi siswa mengenai kesehatan reproduksi, bahaya pernikahan dini, serta risiko kehamilan remaja.
dr. Lestari interaktif ketika membahas dampak pernikahan terhadap kesehatan reproduksi di hadapan siswa SRMA 37 Gresik. (Tagar.co/Indah Putri Shofiyana)

Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Gresik menggelar Pashmina Goes to School di SRMA 37 Gresik guna mengedukasi siswa mengenai kesehatan reproduksi, bahaya pernikahan dini, serta risiko kehamilan remaja.

Tagar.co — Aula Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 37 Gresik tampak riuh pada Rabu, 4 Februari 2026. Sejak pukul 10.00 WIB, puluhan pasang mata siswa tertuju pada layar proyektor yang menampilkan anatomi tubuh manusia.

Hari itu, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik hadir membawa misi penting lewat program “Pashmina Goes to School”. Mengusung tema “Remaja Muda Berdaya, Menjaga Diri & Masa Depan”, acara ini membedah realitas kesehatan reproduksi secara blak-blakan namun edukatif.

Dr. Lestari Sudaryanti, dr., M.Kes., mengawali paparannya dengan menekankan pentingnya kesehatan mental dalam mendukung fungsi fisik. “Kesehatan itu meliputi kondisi sehat fisik dan mental. Untuk menghasilkan reproduksi yang baik, kalian harus mempunyai mental yang stabil,” ujar dr. Lestari dengan nada tegas namun bersahabat.

Ia mulai mengajak 75 siswa yang hadir untuk bersama-sama merinci satu per satu organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Mulai dari organ reproduksi laki-laki seperti penis hingga testis. Menurutnya, testis harus berfungsi optimal agar bisa memproduksi sperma demi kelangsungan keturunan.

Beralih ke organ reproduksi wanita, ia menjelaskan fungsi vagina, tuba Fallopi, hingga ovarium. Sambil menunjuk gambar, wanita asal Desa Tenggor, Balongpanggang, Gresik, ini meluruskan kekeliruan umum. “Vagina itu bentuknya tabung di bagian dalam. Yang terlihat di luar itu bukan vagina namanya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kajian Ekoteologi Berbuah Aksi: Bibit Pohon, Umrah, dan Bantuan Masjid di Jember

Lestari juga menggambarkan perjuangan luar biasa di tingkat seluler. Ia menyebut satu kali ejakulasi bisa melepaskan 10 juta sperma, namun hanya satu yang berhasil membuahi.

“Lelaki itu tercipta sebagai warrior atau pejuang sejak dalam bentuk sperma. Sperma yang bagus jalannya sat-set,” kelakarnya yang memicu tawa siswa.

Namun, ia mengingatkan agar para siswa menjaga aset masa depan mereka. “Kalau sering infeksi, sperma tidak sehat dan sulit menghasilkan keturunan. Maka senjatanya jangan kalian luncurkan sekarang, simpan!”

Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Gresik menggelar Pashmina Goes to School di SRMA 37 Gresik guna mengedukasi siswa mengenai kesehatan reproduksi, bahaya pernikahan dini, serta risiko kehamilan remaja.
dr. Lestari menjelaskan dampak pernikahan terhadap kesehatan reproduksi di hadapan siswa SRMA 37 Gresik. (Tagar.co/Indah Putri Shofiyana)

Dampak Fatal Seks Bebas dan Pernikahan Dini

Diskusi semakin dalam saat dr. Lestari menyentuh ranah penyimpangan dan dampak kesehatan. Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Gresik ini memperingatkan bahwa aktivitas seksual di bawah umur memicu masalah prostat di masa tua.

Ia juga menekankan bahaya hubungan melalui anal yang sangat berisiko penyakit. “Itu jalan kotoran. Karena banyak hal kotor, tubuh membuangnya. Masak kalian mau makan kotoran sendiri?” cetusnya memberi perumpamaan keras.

Tak hanya fisik, Lestari menyoroti fenomena sosial di Gresik. Berdasarkan data pengadilan, terdapat 194 permohonan rekomendasi nikah tahun lalu karena usia calon mempelai belum mencapai 19 tahun sesuai Undang-Undang. Penyebab utamanya adalah hamil di luar nikah.

“Kira-kira aslinya lebih banyak atau sedikit? Banyak! 194 itu baru yang meminta rekomendasi. Menikah di bawah usia 19 itu melanggar undang-undang dan ada sanksinya,” tegas alumni S3 Pendidikan Doktoral Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.

Baca Juga:  Ketika Kepala Spemdalas Lantumkan Lagu Sepohon Kayu di Leadership Training PR IPM

Lestari memaparkan betapa berat beban perempuan yang hamil di usia remaja. Risiko komplikasi persalinan hingga gangguan mental seperti baby blues mengintai di depan mata. Ia menceritakan pengalaman nyata saat seorang siswi SMP pingsan di tengah upacara 17 Agustus.

“Harusnya tensinya rendah karena pingsan, tapi anak ini justru tensinya tinggi. Setelah tes kehamilan, hasilnya positif,” kenangnya.

Ia mengungkapkan, rahim remaja belum siap secara biologis. Jika terjadi kehamilan, risiko perdarahan hebat lebih dari setengah liter sangat mungkin terjadi. Belum lagi ancaman fistula obstetri, di mana robekan jalan lahir membuat kotoran (feses) bisa keluar melalui saluran yang salah.

“Bayangkan kepala bayi melewati jalur lahir yang belum siap. Rahim remaja itu ibarat kasur yang belum kuat untuk menempel janin. Dampaknya bisa kematian ibu atau bayi lahir stunting,” jelas wanita aktif memimpin Ikatan Alumni Universitas Airlangga ini.

Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Gresik menggelar Pashmina Goes to School di SRMA 37 Gresik guna mengedukasi siswa mengenai kesehatan reproduksi, bahaya pernikahan dini, serta risiko kehamilan remaja.
Para siswa SRMA 37 Gresik berfoto dengan kader Nasyiatul Aisyiyah dan para undangan. (Tagar.co/Indah Putri Shofiyana)

Mengelola Hormon dan Menjawab Penasaran Siswa

Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling dinanti. Seorang siswa bertanya mengapa mimpi basah terjadi. Lestari menjelaskan, mimpi basah adalah nama lain dari ejakulasi atau pengeluaran sperma yang menandakan seseorang memasuki masa pubertas. Ia berkisah tentang seorang hafiz Qur’an berusia 17 tahun yang belum mimpi basah karena tidak terbiasa berfantasi.

Baca Juga:  Ketika Scorpion 100 Tongkat Karya HW Spemdalas Raih Prestasi di Ajang Hisco

“Untuk bisa ejakulasi, biasanya ada dorongan seksual. Itu harus kalian kelola, misalnya dengan olahraga. Jika sudah terjadi, itu normal, asalkan kalian mandi junub agar shalat kembali sah,” tuturnya memberikan solusi praktis sesuai ajaran agama.

Pertanyaan lain muncul mengenai siklus menstruasi yang berbeda-beda pada setiap remaja. Lestari menjelaskan bahwa hormon Luteinizing Hormone (LH) dan estrogen sangat memengaruhi hal tersebut. Jika dalam lima hari tidak ada perkembangan janin, maka dinding rahim meluruh.

Namun, kadar estrogen yang tinggi menjelang menstruasi sering kali memengaruhi suasana hati. “Itulah kenapa perempuan jadi mudah marah saat mau menstruasi,” tambahnya.

Ia menutup sesi dengan pesan menyentuh tentang siklus hidup. Manusia berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa, lalu menua. Baginya, memahami ilmu reproduksi adalah cara untuk menghargai diri sendiri.

“Hidup kita ini siklus, dan kita hanya menjalaninya sekali. Setelah tua, kita mati. Maka, pahami ilmu ini agar kalian bisa menjaga diri dan menghargai masa depan kalian yang masih panjang,” pungkasnya.

Sebelum menyimak materi ini, mereka juga membedah film “Suara Kirana” dan membahas dampak pernikahan dini secara psikologis bersama Sayyidah Nuriyah, S.Psi, Motivator Pashmina PDNA Gresik. Kemudian, setelahnya, mereka berlanjut mengikuti beragam fasilitas asesmen di Pos Kesehatan, Pos Konseling Kesehatan Reproduksi maupun Pos Kesehatan Mental. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni