Feature

Empat Wajah Anak dalam Keluarga

53
×

Empat Wajah Anak dalam Keluarga

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua PDM Lamongan Masroin Assafani memberikan pengajian pada Penerimaan Rapor dan Pertemuan Wali Murid SMP Muhammadiyah 17 Laren (22/12/25) (Tagar.co/Slamet Hariadi)

Kadang dibanggakan, kadang bikin jengkel, kadang bikin orang tua belajar sabar. Pengajian wali murid di SMP Muhammadiyah 17 Laren mengajak orang tua bercermin lewat empat wajah anak dalam keluarga.

Tagar.co – Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Masroin Assafani, menyampaikan refleksi mendalam tentang empat tipologi anak menurut Al-Qur’an dalam acara Penerimaan Rapor dan Pertemuan Wali Murid SMP Muhammadiyah 17 Laren, Lamongan, Jawa Timur, Senin (22/1/2025).

Dalam pengajian yang berlangsung hangat dan komunikatif itu, Masroin Assafani—akrab disapa Ustaz Roin—mengajak para orang tua memahami posisi anak dalam kehidupan keluarga bukan hanya sebagai kebanggaan, tetapi juga sebagai amanah dan ujian keimanan.

Anak sebagai Ujian

Tipologi pertama, menurut Ustaz Roin, adalah anak sebagai fitnah atau cobaan. Ia merujuk Surah Al-Anfal 28 dan Surah At-Tagabun 15 yang menegaskan bahwa harta dan anak hanyalah ujian, sementara pahala besar ada di sisi Allah.

Baca juga: Dari 700 ke 1.500 Mahasiswa, Rektor Umla Ungkap Arah Besar Kampus

Baca Juga:  Subuh, Tawaf, dan Hikmah dari Tiga Negeri

“Bapak-Ibu pernah diuji oleh anak atau tidak?” tanyanya kepada wali murid. Spontan para wali murid menjawab pernah. “Berarti semuanya diuji. Justru dari ujian itulah Allah menjanjikan ganjaran yang besar,” ujarnya.

Anak sebagai Perhiasan Dunia

Tipologi kedua, anak sebagai hiasan kehidupan, dijelaskan Ustaz Roin dengan merujuk Surah Al-Kahfi 46. Anak dapat menjadi kebanggaan dan kesenangan orang tua, namun ia mengingatkan agar orang tua tidak berhenti pada rasa bangga semata.

“Anak boleh membanggakan, anak pandai dan nurut. Tapi yang paling menentukan keselamatan kita adalah amal kita sendiri,” tegasnya.

Wali murid SMP Muhammadiyah 17 Laren mendengarkan pengajian dari Ustaz Masroin Assafani, dalam Penerimaan Rapor dan Pertemuan Wali Murid SMP Muhammadiyah 17 Laren, Senin 22/12/25 (Tagar.co/ Tholin)

Anak sebagai Tantangan Emosional

Tipologi ketiga adalah anak—dan pasangan—yang dalam kondisi tertentu bisa menjadi ‘musuh’ bagi orang tua, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Tagabun 14. Ustaz Roin menjelaskan, yang dimaksud musuh bukanlah permusuhan fisik, melainkan situasi emosional yang menjengkelkan atau menguji kesabaran.

“Pernah dimusuhi atau dijengkelkan suami atau anak?” tanyanya, disambut tawa dan anggukan para wali murid. Menurutnya, Al-Qur’an justru memerintahkan sikap hati-hati, pemaaf, dan penuh kasih. “Kalau kita memaafkan anak-anak, Allah pun akan mengampuni kita,” katanya.

Baca Juga:  Keluarga dalam Cahaya Lima Kesucian

Anak sebagai Penyejuk Hati

Tipologi keempat menjadi harapan semua orang tua: anak sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun), sebagaimana doa dalam Surah Al-Furqan 74. Anak bukan hanya membanggakan, tetapi menenangkan dan menuntun orang tua dalam jalan takwa.

“Dari empat kelompok ini, anak panjenengan masuk yang mana?” tanya Ustaz Roin, mengajak wali murid untuk merenung sekaligus berdoa agar anak-anak menjadi permata hati keluarga.

Pengajian ditutup dengan yel-yel penuh semangat yang diikuti seluruh wali murid dan dewan guru. Dengan gerakan tangan di dada dan di atas kepala, mereka mengucapkan serempak, “Anakku permata hatiku, anakku bintang negeriku.”

Acara itu menjadi peneguhan peran orang tua bahwa mendidik anak bukan sekadar tugas domestik, melainkan perjalanan spiritual yang sarat ujian, harapan, dan doa. (#)

Jurnalis Slamet Hariadi Penyunting Mohammad Nurfatoni