
Di tengah putaran tawaf yang tak pernah hening, seorang lelaki buta melangkah perlahan dengan irama ketukan tongkatnya. Dari sana, saya belajar kembali arti ketundukan dan kesetiaan dalam beribadah.
Oleh Masroin Assafani
Tagar.co – Mengitari Ka’bah di tengah arus manusia yang tak pernah surut, dalam bahasa ibadah disebut tawaf. Saat itu, Rabu 7 Januari 2026, saya berada di lantai dua. Putaran demi putaran saya lalui, hingga pada lintasan keempat, perhatian saya tertarik pada satu sosok yang berjalan perlahan di tengah lautan manusia.
Seorang lelaki bertongkat.
Tongkat itu diketukkan dengan irama khas: “tuk… tuk… tuk… tuk…”
Lembut, teratur, setia menemani langkahnya.
Ia mengenakan baju panjang dan celana dengan warna sepadan, abu-abu tua. Kopiah cepak di kepalanya pun senada. Dari bibirnya mengalir lirih doa-doa yang nyaris tak terdengar, namun cukup bagi hati saya untuk terperangah. Refleks saya berucap, Subhanallah.
Baca juga: Tiga Kubah Kembar Masjidilharam, 1001 Insan, dan Salam Tempel Euro
Ia tidak bisa melihat.
Namun ia berjalan di tengah manusia yang semuanya menuju tujuan yang sama: Allah.
Berbeda hanya pada satu hal—kesempurnaan fisik.
Ia ditakdirkan tuna penglihatan, tetapi tidak kecil hati dalam pengabdian. Dalam keterbatasan, justru terpancar kesungguhan jiwa yang begitu murni: tunduk sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Suci.
Dalam gegap gempita orang-orang yang bertawaf, lelaki itu terus melangkah, setia dengan tongkat di tangan kanannya. Ketukan demi ketukan seolah menjadi dzikir langkah:
tuk… tuk… tuk…
Wajahnya memancarkan ketulusan.
Semangat ibadahnya menembus keramaian.
Di sanalah saya menemukan “amunisi” batin—energi spiritual yang menyegarkan kembali tekad pengabdian diri kepada Ilahi.
Ingatan saya melayang pada kisah sahabat Rasulullah Saw., Abdullah bin Ummi Maktum, yang meski buta, tetap datang ke masjid selama ia mendengar azan. Ia tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berjarak dari panggilan Tuhan.
Belajar dari mereka melahirkan nyala ketaatan yang tidak mengenal padam.
Menyala, tak kenal lelah.
Menyibak kemalasan.
Menumbuhkan jati diri hamba yang penuh takwa.
Setiap kali rasa malas ibadah datang, bayangan lelaki buta dengan ketukan tongkatnya itu kembali hadir. Ia bertawaf tanpa penuntun, hanya berbekal iman dan keyakinan.
Saya ingin mengabadikannya dalam foto, namun niat itu saya urungkan. Saya khawatir melukai perasaannya, meskipun mungkin beliau tak keberatan bahkan bersedia diajak berswafoto.
Kini, ketukan tongkat si buta itu terus bergema dalam ingatan saya.
Ia menjadi hiasan jiwa, pengingat yang sunyi namun kuat—tentang bagaimana meraih mardatillah dengan sepenuh hati. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












