Rileks

Tiga Kubah Kembar Masjidilharam, 1001 Insan, dan Salam Tempel Euro

258
×

Tiga Kubah Kembar Masjidilharam, 1001 Insan, dan Salam Tempel Euro

Sebarkan artikel ini
Penulis (kiri) dengan latar belakang tiga kubah kembar Masjidilharam (Masroin Assafani untuk Tagar.co)

Di jantung Masjidilharam, di bawah tiga kubah kembar yang anggun, seorang lelaki dari Kairo menyampaikan kebaikan lewat salam, zikir, dan mata uang Euro—sebuah perjumpaan sunyi yang menyingkap makna iman di antara 1001 insan.

Oleh Masroin Assafani

Tagar.co – Jumat pagi, 9 Januari 2026, kami berlima—Mas Piet Hizbullah Khaidir, Mas Siswanto, Pak Sucipto, dan Pak Mustakim, dan saya—bergegas meninggalkan hotel, menyibak arus manusia yang bergerak menuju satu titik yang sama: Masjidilharam.

Lautan jemaah mengalir seperti sungai besar. Di pintu 91, kami ikut terhanyut dalam kepadatan yang tertib: naik eskalator pertama, kedua, hingga mencapai lantai atas, lalu berbelok ke kiri memasuki pintu 92.

Baca juga: Selembar Plastik dan Cahaya Ukhuah di Masjidilharam

Di sana, fajar menyapa dengan lembut. Lantai atas Masjidilharam terasa lebih lapang, lebih sunyi, dan lebih khusyuk.

Kami melangkah perlahan menembus celah-celah jemaah dari berbagai penjuru dunia—beragam bahasa, warna kulit, dan rupa wajah—namun bersatu dalam satu tujuan ibadah, menapaktilasi jejak Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail alaihissalam, di tanah kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga:  Makkah Hujan Deras setelah Salat Istiska

Kami tiba di lantai pamungkas. Di tempat mulia itu berdiri tiga kuba kembar yang anggun dan kokoh, dikelilingi menara-menara megah. Suasana Subuh terasa begitu menenteramkan.

Ornamen kubanya memesona: lingkar puncak berwarna cokelat, sabuk lingkaran berpadu putih, merah muda, dan hijau, jendela bernuansa putih, abu-abu, dan cokelat muda. Kesederhanaan yang menyimpan keindahan.

Ahmad bersama penulis (kiri) serta Pak Cipto dan Pak Mustakim (Masroin Assafani untuk Tagar.co)

Salam Tempel Euro

Siangnya, menjelang pelaksanaan salat Jumat, kami bertiga—saya, Pak Sucipto, dan Pak Mustakim—duduk berzikir dan melantunkan doa. Tiba-tiba seorang pria mendekat. Ia berjubah lengan pendek, berkulit putih, berambut pirang.

Tanpa berkata apa pun, ia merogoh saku jubahnya, merunduk, lalu menempelkan tangannya ke tangan Pak Sucipto—di dalamnya tampak uang—seraya mengucapkan salam, “Assalamualaikum.”

Ia berdiri, kembali merogoh saku, melakukan hal yang sama kepada Pak Mustakim. Kemudian kepada saya. Salam demi salam, senyum tanpa kata. Setelah itu ia melangkah menuju saf depan, mendekat ke arah tiga kuba, sambil terus berzikir.

Ketika kami membuka uang yang diberikannya, masing-masing Pak Sucipto dan Pak Mustakim menerima 20 Euro, sementara saya menerima 10 Riyal dan 5 Euro.

Baca Juga:  Di Lingkaran Tawaf, Semangat Tiada Batas

Usai salat Jumat, kami menghampirinya dan berfoto bersama. Saat berswafoto, lisannya tak henti melantunkan zikir:

Waktubnaa ma‘asy-syaahidin… waktubnaa ma‘asy-syaahidin… waktubnaa ma‘asy-syaahidin…

Subhanallah. Di zaman seperti ini, masih ada insan seindah itu.

Kami bertanya namanya. Ia memperkenalkan diri: Ahmad, dari Kairo, Mesir.

Seribu satu manusia, barangkali, sulit menemukan sosok seperti beliau—seorang hamba yang saleh, dermawan, dan hidupnya penuh zikir kepada Allah Swt.

Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Ahzab: 35, tentang orang-orang yang beriman, khusyuk, sabar, dermawan, dan banyak berzikir—merekalah yang disiapkan ampunan dan pahala yang besar.

Dan pagi itu, di bawah tiga kuba kembar Masjidilharam, kami merasa sedang menyaksikan ayat itu berjalan dalam wujud seorang manusia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni