Opini

Ramadan di Tanah Suci: Saat Cuaca Bersahabat dan Panggilan Ibadah kian Dekat

67
×

Ramadan di Tanah Suci: Saat Cuaca Bersahabat dan Panggilan Ibadah kian Dekat

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Musim yang lebih sejuk, durasi puasa yang moderat, dan keutamaan pahala umrah Ramadan menjadi momentum yang patut dipikirkan ulang bagi mereka yang selama ini menunda perjalanan ke Baitullah.

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur.

Tagar.co – Ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan kepada diri sendiri menjelang Ramadan: “Jika Allah membuka kesempatan ibadah yang lebih ringan, lebih nyaman, dan lebih mulia, mengapa kita justru menundanya?”

Ramadan tahun ini menghadirkan momentum yang berbeda bagi umat Islam yang merindukan Baitullah. Banyak orang masih membayangkan umrah Ramadan sebagai perjalanan yang berat: panas, melelahkan, dan penuh tantangan fisik. Padahal, kabar gembiranya adalah tahun ini kondisi justru menunjukkan sesuatu yang sebaliknya.

Baca juga: Ramadan 2026 Diprediksi Jadi Musim Emas Umrah

Ramadan tahun ini datang ketika Arab Saudi masih berada pada fase musim sejuk menuju awal musim semi. Suhu udara relatif bersahabat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang jatuh pada puncak musim panas.

Baca Juga:  PPIU/PIHK Masuk Bursa: Antara Transparansi dan Amanah Ibadah

Ini bukan sekadar soal kenyamanan fisik. Cuaca yang lebih sejuk akan menghadirkan ruang ibadah yang lebih khusyuk: tawaf terasa lebih ringan, sa’i lebih tenang, dan ibadah malam lebih panjang tanpa beban panas berlebih.

Di sisi lain, durasi puasa di Makkah dan Madinah tahun ini juga tergolong moderat. Durasi puasa di Arab Saudi pada awal Ramadan berkisar sekitar 12 jam 45 menit, dan di akhir Ramadan sekitar 13 jam 20 menit. Siang hari yang tidak terlalu panjang memberi kesempatan jemaah menjaga stamina, memperbanyak tilawah, serta menjalani rangkaian ibadah dengan energi yang lebih stabil.

Banyak jemaah yang pernah merasakan Ramadan di Tanah Suci mengakui bahwa keseimbangan antara waktu ibadah dan istirahat menjadi kunci kekhusyukan. Namun sesungguhnya, alasan terbesar bukanlah faktor cuaca atau durasi puasa. Yang lebih mendalam adalah makna spiritual yang Allah janjikan.

Rasulullah Saw. bersabda bahwa umrah di bulan Ramadan nilainya seperti haji bersama beliau. Hadis ini bukan sekadar motivasi emosional, tetapi pesan yang menggetarkan: ada peluang pahala yang luar biasa besar yang tidak hadir di bulan lain.

Baca Juga:  Jabal Nur: Saat Kaki Protes, Paru-Paru Demo, tapi Hati Justru Tenang

Sering kali orang menunda dengan alasan klasik: menunggu waktu yang lebih longgar, kondisi ekonomi yang lebih mapan, atau kesiapan hati yang lebih sempurna. Padahal, sejarah hidup manusia menunjukkan bahwa kesiapan sempurna hampir tidak pernah datang. Justru langkah kecil menuju ibadah sering menjadi awal perubahan besar dalam hidup seseorang.

Ramadan di Tanah Suci bukan hanya perjalanan fisik menuju Ka’bah, tetapi juga perjalanan batin menuju ketenangan. Ketika jutaan manusia berbuka puasa bersama di pelataran Masjid Nabawi, ketika lantunan Al-Qur’an menggema sepanjang malam di Masjid Nabawi dan Masjidilharam, dan ketika air mata jatuh di antara doa-doa yang dipanjatkan, maka di situlah banyak hati menemukan kembali makna hidup yang selama ini terasa hilang di tengah hiruk-pikuk dunia.

Bagi sebagian orang, keputusan berangkat umrah Ramadan mungkin terasa berat. Namun, barangkali yang perlu diubah bukanlah kemampuan, melainkan cara pandang. Jika kita memahami betul keutamaan umrah Ramadan, maka umrah Ramadan bukanlah perjalanan mahal, melainkan sebuah investasi ruhani yang dampak dan pahalanya melampaui hitungan materi, berapa pun itu.

Baca Juga:  Ramadan Datang, Sudahkah Batin Kita Siap?

Tahun ini, dengan kondisi yang lebih kondusif, cuaca yang lebih sejuk, durasi siang hari puasa yang bersahabat, dan atmosfer spiritual yang begitu kuat, Ramadan seakan datang membawa pesan yang tidak tersurat namun terasa jelas: “Kesempatan itu kini sedang terbuka.”

Maka mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang kepada diri sendiri, bukan “Mengapa harus umrah?”, tetapi “Mengapa tidak?” Siapa tahu, Ramadan di Tanah Suci bukan hanya mengubah satu bulan dalam hidup kita, tetapi juga mengubah arah hidup kita selamanya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni