Feature

Dusun Pilang Asri, Kisah Kampung Baru di Atas Tanah Lama

920
×

Dusun Pilang Asri, Kisah Kampung Baru di Atas Tanah Lama

Sebarkan artikel ini
Gerbang masuk Dusun Pilangasri di Desa Pelangwot, Kecamatan Laren, Lamongan, Jawa Timur, menjadi saksi perjalanan warga yang bangkit dari longsor tepi Bengawan Solo menuju kehidupan baru yang aman dan bersih. (Foto: Malikan Saputra untuk Tagar.co)

Bencana tanah longsor di tepi Bengawan Solo tahun 2006 memaksa ratusan warga Desa Pelangwot meninggalkan rumah mereka. Dari relokasi itu lahir Dusun Pilang Asri — “Pindah Langsung Aman dan Bersih” — simbol harapan baru yang tumbuh dari semangat kebersamaan.

Tagar.co — Tidak ada yang menyangka bahwa bencana bisa menjadi awal dari kehidupan baru. Itulah yang dialami warga Desa Pelangwot, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan.

Setelah tanah longsor besar mengguncang tepian Bengawan Solo pada 2006, mereka terpaksa meninggalkan rumah dan membangun kembali kehidupan di tempat baru yang kini dikenal dengan nama Dusun Pilang Asri.

Bencana itu datang hanya sepekan setelah gempa bumi melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Tanah di tepi Bengawan Solo—sekitar dua kilometer dari aliran sungai utama—tiba-tiba bergeser dan longsor. Tiga RW di Desa Pelangwot terdampak parah. Sebanyak 29 rumah hancur, puluhan lainnya rusak ringan, dan sekitar 150 kepala keluarga harus direlokasi demi keselamatan.

Dari sanalah muncul tekad bersama: membangun kehidupan baru yang lebih kuat dan aman di tempat baru.

Baca Juga:  Hati Gelap di Balik Wajah Bercahaya

Berdiri di Atas Tanah Lama

Pemerintah kemudian menetapkan lahan di sebelah utara Desa Pelangwot sebagai lokasi relokasi. Kawasan itu dulunya merupakan rawa atau tanah solopalai, milik pemerintah pusat yang sudah dibebaskan sejak masa pemerintahan Belanda tahun 1914.

Hal itu diketahui dari peta dan keterangan petugas dari Yogyakarta saat memberikan laporan kepada Gubernur Jawa Timur, Basofi Sudirman, pada kunjungan tahun 1993.

Pembangunan Dusun Pilangasri dimulai pada akhir tahun 2006 dan berlangsung hingga 2007, dengan dukungan dana dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Lamongan. Untuk menghindari risiko serupa, tanahnya ditinggikan rata-rata satu meter dari permukaan semula.

Diresmikan dan Diuji Banjir

Pada akhir Agustus 2007, Dusun Pilang Asri resmi diresmikan oleh Bupati Lamongan H. Masfuk, SH, bersama Kepala Desa Khudori. Namun, ujian belum berhenti di situ.

Hanya beberapa bulan kemudian, pada November–Desember 2007, banjir besar melanda akibat jebolnya tanggul di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban. Air menggenangi kawasan Pilang Asri dengan ketinggian 60–75 sentimeter.

Baca Juga:  Masjid Darussalam Kalimondo: Bertahan dari Banjir, Bangkit dengan Gotong Royong

Melihat kondisi tersebut, sejumlah pengusaha setempat tergerak membantu. Mereka menyumbangkan 350 truk pedel (material uruk) untuk memperbaiki jalan utama dusun.

Warga pun bergotong royong meratakan tanah dan membangun akses jalan baru. Dari situ lahir semangat kebersamaan yang menjadi fondasi sosial Pilangasri hingga kini.

Makna di Balik Nama

Pilangasri ternyata bukan sekadar nama tempat. Ia merupakan akronim dari “Pindah Langsung Aman dan Bersih”, mencerminkan harapan warga untuk memulai hidup baru yang lebih baik.

Kini dusun tersebut terdiri atas dua RW dan empat RT, menjadi rumah bagi ratusan keluarga yang dulu hidup di kawasan rawan longsor.

Salah satunya adalah saya, yang menempati Blok B Nomor 2, RW 12 RT 1, sejak 18 Oktober 2008. Rumah saya berdekatan dengan Mushala Manurul Ilmi, Mushala Hidayatul Muttaqin, dan MI Muhammadiyah 8—tiga pusat kegiatan spiritual dan pendidikan anak-anak di Pilang Asri.

Rumah itu dipilih berdasarkan hasil kunjungan kerja sejumlah anggota DPRD Lamongan—di antaranya Mat Iskan, Husnul Aqib, Amar Syaifuddin, dan M. As’ad — yang saat itu ikut meninjau lokasi relokasi warga.

Baca Juga:  Klinik Muhammadiyah dalam Holding Management: Strategi Memperkuat Layanan Primer

Dari Reruntuhan ke Kehidupan Baru

Kini, setiap jalan yang diratakan dan setiap rumah yang berdiri di Pilangasri menyimpan cerita panjang tentang ketabahan. Dari longsor di tepi Bengawan Solo hingga banjir besar yang datang kemudian, warga belajar arti sejati dari gotong royong, kesabaran, dan rasa syukur.

Semoga kampung ini selalu membawa manfaat dan berkah bagi semua penghuninya. (#)

Jurnalis Malikan Saputra Penyunting Mohammad Nurfatoni