Feature

Doa Sapu Jagat Terucap ketika Sadar dari Koma

152
×

Doa Sapu Jagat Terucap ketika Sadar dari Koma

Sebarkan artikel ini
Doa sapu jagat terucap dari bibir Sri Yatmiatik saat dari dari koma akibat kanker payudara. Aktivis Aisyiyah itu akhirnya wafat.
Pimpinan Lazismu Lumajang takziah ke rumah Ketua KLL Senduro Jaswadi. (Tagar.co/Kuswantoro)

Doa sapu jagat terucap dari bibir Sri Yatmiatik saat dari dari koma akibat kanker payudara. Aktivis Aisyiyah itu akhirnya wafat.

Tagar.co – Pagi masih dingin ketika telepon itu berdering di meja salah satu amil. Suara di seberang langsung dikenal: Drs. Djatto, M.M., Ketua Lazismu Lumajang.

“Mas, monggo nanti jam sembilan kita takziah ke Senduro. Ke rumah Pak Jaswadi,” katanya, Selasa (15/7/2025).

Sehari setelah kabar duka datang dari dataran dingin Senduro: Sri Yatmiatik, istri dari Jaswadi, Ketua Kantor Layanan Lazismu Senduro, berpulang ke rahmatullah.

“Istrinya meninggal kemarin. Kita harus ke sana. Istri seorang tokoh itu,” kata Djatto di sambungan telepon.

Amil yang menerima telepon itu mengangguk. “Istri Pak Jas itu juga Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah Senduro,” ucapnya pelan.

Djatto langsung merespons, tanpa ragu. “Ya sudah. Nanti sampaikan ke Mas Said Romdhon untuk kumpul di kantor jam sembilan.”

Tepat pukul 09.00 WIB, semua sudah berkumpul. Nugroho Dwi Admoko datang lebih awal. Said Romdhon, Direktur Lazismu Lumajang, langsung mengajak berangkat.

Baca Juga:  Puasa Orang-Orang Terdahulu Diceritakan di Acara Ini

“Monggo, Pak. Berangkat,” katanya.

“Ayo,” sambut Nugroho singkat.

Dalam perjalanan menuju Senduro, satu mobil itu dipenuhi cerita masa lalu. Tentang program lama. Tentang orang-orang yang kini tinggal nama. Kadang tawa kecil menyelip, membasuh suasana yang murung.

Tepat pukul 10.00, rombongan tiba di rumah duka. Letaknya tak jauh dari Gedung Dakwah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Senduro.

Dari kejauhan, Jaswadi sudah menunggu. “Alhamdulillah, dikunjungi sesepuh,” ucapnya pelan, menahan haru. “Monggo, pinarak, Pak,” lanjutnya, mempersilakan masuk ke ruang tamu.

Djatto memecah suasana, “Ibu sakit apa, Pak?”

Jaswadi menarik napas. “Sudah lama, Pak. Kanker payudara, sejak 1994. Hampir 31 tahun.”

Djatto tertegun. “Wah, sudah lama ya? Tapi saya lihat beliau semangat terus, aktif ngurus organisasi.”

Jaswadi mengangguk. Matanya berkaca-kaca.

“Beliau orang kuat, Pak. Sakitnya enggak dirasa. Masih ngurus anak-anak panti. Masih mengembangkan Aisyiyah di sini. Kajian-kajian dengan ibu-ibu terus jalan,” kenangnya.

“Almarhumah juga masih main bulu tangkis. Bahkan jadi juara. Cuma sejak Mei kemarin mulai melemah. Harus bolak-balik ke rumah sakit.”

Baca Juga:  Lazismu Lumajang Audiensi ke Bupati

Ia lalu melanjutkan, “Hari Kamis kemarin saya juga masih telepon Mas Rezy, sopir ambulans Lazismu Lumajang. Saya minta tolong agar diantar ke RS Saiful Anwar Malang. Sudah terjadwal waktu itu. Tapi Allah berkehendak lain. Allah lebih sayang ke istri,” ucapnya dengan suara tertahan.

Di tengah obrolan, Jaswadi juga menambahkan satu kisah yang membuat semua yang mendengarnya terdiam.

“Ketika dirawat di RS Wijaya Kusuma, beliau sempat koma. Tapi ketika sadar, kalimat pertama yang keluar adalah doa sapu jagad

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةًۭ ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةًۭ ۖ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.

Almarhumah lalu berkata pelan, “Yang saya hafal kok cuma ini ya, Pak…”

Jaswadi menatap istrinya, lalu menjawab lembut, “Enggak apa-apa, Bu. Itu doa paling bagus.”

Ia lalu menambahkan, “Semasa sehat, beliau hafal banyak surat dalam Al-Qur’an. Saya sering dengar murajaah sendiri waktu malam, kadang sambil masak atau nyapu halaman.”

Baca Juga:  Rakerda Lazismu Bakorwil 3 Digelar di Situbondo

Djatto menunduk sebentar, lalu berkata pelan, “Insyaallah husnul khatimah, Pak. Beliau orang baik. Saya bersaksi. Yang sabar ya, Pak.”

Tak ada kata-kata lain. Yang tertinggal hanya doa. Dan kenangan akan seorang perempuan yang kuat yang hidupnya bukan hanya mendampingi, tapi juga memimpin, hingga akhir.

Djatto dan rombongan tak lama di sana. Tapi kehadiran mereka cukup menjadi penguat. Dalam duka, kadang yang paling dibutuhkan bukan kata-kata, melainkan kedatangan yang tulus. Duduk bersama dalam diam pun bisa menjadi pelipur.

Sebelum pamit, Djatto sempat berdiri di teras rumah, memandang langit Senduro yang perlahan mendung.

“Semoga langkah almarhumah sampai ke tempat terbaik,” ucapnya lirih.

Jaswadi hanya menunduk. Di dadanya, kenangan bersama istrinya menggumpal, tapi hari itu ia tak sendiri.

Semuanya berawal dari satu panggilan pagi: “Kita harus ke Senduro.” (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto