
Dalam Pengajian Akbar dan Silaturahmi 2025 di Ponpes Al-Fattah Buduran, Dirut PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menegaskan pesantren sebagai pilar utama pembentukan SDM Indonesia yang tangguh dan siap bersaing global.
Tagar.co — Suasana semarak menyelimuti Pengajian Akbar dan Silaturahmi Pondok Pesantren Al Fattah Buduran yang digelar di Dusun Gesing, Desa Banjarsari, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Ahad (21/12/2025). Mengusung tema Pendidikan Pesantren dalam Mewujudkan Islam Rahmatanlilalamin, kegiatan ini dihadiri santri, wali santri, serta tokoh masyarakat dari berbagai kalangan.
Salah satu pembicara utama, Direktur Utama PT PAL Indonesia, Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., menyampaikan refleksi mendalam tentang peran strategis pesantren dalam membentuk sumber daya manusia Indonesia yang tangguh, berakhlak, dan visioner.
Ia mengawali paparannya dengan menyinggung lagu Al-Fattah yang dinyanyikan para santri, yang menurutnya mencerminkan cita-cita besar pesantren dalam mencetak generasi unggul.
Baca juga: Syafiq A. Mughni: Pesantren Harus Mencetak Umat Terbaik, Bukan Terbanyak
“Yang saya tangkap dari lagu tadi adalah tekad besar Pondok Pesantren Al Fattah untuk membentuk manusia-manusia Muslim Indonesia yang kuat dan mampu berkontribusi bagi negeri yang kita cintai,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah negeri yang dibangun melalui pengorbanan para syuhada dari Sabang hingga Merauke.
Kaharuddin kemudian mengaitkan peran pendidikan dengan perintah Allah Swt. dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Anfal ayat 60 tentang kewajiban mempersiapkan kekuatan. Menurutnya, Islam akan benar-benar hadir sebagai rahmatanlilalamin jika umatnya memiliki kesiapan akhlak, ilmu, dan kekuatan.
Kondisi geopolitik global serta penderitaan saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia, katanya, menjadi pengingat pentingnya kemandirian dan ketangguhan bangsa.
“Pondok pesantren adalah pilar pembentuk SDM tangguh. Pesantren bukan sekadar pendidikan alternatif, melainkan pendidikan utama untuk mencetak manusia Indonesia yang berakhlak mulia,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi—minimal sebagai pemimpin dalam keluarga, hingga memikul tanggung jawab besar membangun peradaban. Karena itu, pembangunan institusi pendidikan harus menjadi prioritas, disertai penguatan pilar teknologi.
Dalam pandangannya, Indonesia memiliki potensi besar yang kerap disebut sebagai “raksasa yang sedang tidur”. Kini, menurutnya, raksasa itu mulai bangkit dan menggeliat. Pesantren harus menjadi bagian penting dari kebangkitan tersebut dengan menyiapkan generasi yang berakhlak sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbagi pengalaman pribadi, Kaharudin mengaku tidak mengenyam pendidikan pesantren sejak kecil. Namun, ketika menempuh studi desain kapal di Jepang, ia justru menyadari pentingnya pendalaman ilmu agama.
Sejak itu, selain mendalami teknologi, ia juga memperkuat pendidikan keislaman dalam keluarganya dengan memondokkan anak-anaknya, salah satunya di Pondok Pesantren Al Fattah, yang kini melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Ia menegaskan, hingga kini penguasaan teknologi masih didominasi negara-negara non-Islam. Karena itu, pesantren perlu membangun dua pilar utama secara simultan: akhlak dan teknologi. Industri kapal, menurutnya, adalah industri strategis yang selalu hadir sebelum sebuah bangsa mencapai posisi sebagai negara adidaya.
Untuk memperkuat argumennya, Kaharuddin mengajak hadirin mengambil ibrah dari sejarah. Ia menyinggung kisah Nabi Nuh yang membangun kapal raksasa dari kayu dan batu di masa ketika teknologi logam belum dikuasai. Kapal tersebut, katanya, bahkan melampaui ukuran kapal modern dan menjadi kunci penyelamatan peradaban.
Contoh lain adalah Sultan Muhammad Al-Fatih dari Turki Utsmani, yang mampu membangun ratusan kapal perang dalam waktu singkat dan mengangkutnya melewati Bukit Galata untuk menaklukkan Konstantinopel. Sejarah itu, menurutnya, menunjukkan bahwa penguasaan teknologi maritim merupakan salah satu kunci pembuka peradaban besar.
“Di pondok pesantren inilah pilar teknologi harus mulai dibangun. Santri-santri harus dipersiapkan untuk belajar teknologi ke seluruh penjuru dunia,” ujarnya. (#)
Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni












