
Sebelum kita bisa menyebut nama, ibu telah bekerja dalam diam. Hari Ibu 22 Desember hanyalah penanda; cinta ibu hidup jauh melampaui tanggal dan perayaan.
Oleh Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur
Tagar.co – Kita semua pernah sama. Pernah kecil, rapuh, dan tak berdaya. Pernah hidup pada fase ketika menangis adalah satu-satunya bahasa, dan diam adalah cara bertahan.
Pada masa itulah, tanpa kita sadari, ada satu sosok yang selalu hadir lebih dulu daripada siapa pun: beliau adalah ibu kita. Beliau ada bukan karena diminta, tetapi karena cinta yang bekerja sebelum logika sempat bertanya.
Baca juga: Moderasi Finansial: Belajar dari Konsep Ibadurahman dalam Al-Qur’an
Hari ini, 22 Desember, kita menyebutnya Hari Ibu. Namun sejatinya, ibu tak pernah mengenal kalender. Beliau bekerja sejak kita belum punya nama, sejak detak jantung kita masih menjadi rahasia.
Di rahim beliau, kita belajar makna pertama tentang kesabaran: menunggu tanpa kepastian, memberi tanpa perjanjian, mencintai tanpa syarat. Ibu mengajarkan pelajaran besar tanpa pernah menuliskannya: “bahwa cinta sejati tidak berisik dan tidak menuntut balasan.”
Ironisnya, justru ketika kita mulai merasa “berdiri”, kita sering lupa siapa yang menopang saat kita jatuh berkali-kali. Kita sibuk menjadi seseorang, mengejar peran, pengakuan, dan pencapaian. Sementara bagi ibu, kebahagiaan sering kali sesederhana mendengar suara kita baik-baik saja. Beliau tidak meminta banyak, hanya ingin kita pulang sebagai manusia yang tetap beradab dan tahu berterima kasih.
Hari ini seharusnya menjadi hari kejujuran batin. Sudahkah kita benar-benar mendengarkan ibu, atau hanya sekadar mendengar? Sudahkah kita menyapanya dengan sabar, atau hanya ketika ada waktu?
Sudahkah kita memahami lelahnya, atau justru menuntut pengertiannya tanpa henti? Ibu bukan malaikat; beliau manusia yang juga punya lelah, kecewa, dan pernah menangis dalam diam. Namun dari manusia bernama ibu itulah, Tuhan menitipkan kasih yang tak tergantikan.
Jika ibu kita masih ada, mendekatlah hari ini. Peluklah, atau setidaknya ucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh. Jika ibu kita telah tiada, jangan biarkan doa kita menjadi lalai, sebab doa anak yang saleh adalah hadiah yang tak pernah sia-sia.
Dan jika hubungan kita dengan ibu tak sempurna, ingatlah satu hal yang tak pernah berubah: “bahwa rahim yang melahirkan kita tetap mulia, meski perjalanan hidup tak selalu indah.”
Al-Qur’an mengingatkan kita dengan lembut namun tegas: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Lukman: 14)
Rasulullah Saw. pun menegaskan dengan kata yang singkat namun menggetarkan hati. Ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapat perlakuan baik, beliau menjawab: “Ibumu.” Ditanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ditanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” ( Bukhari dan Muslim).
Hari ini, mari kita tundukkan kepala sejenak. Bukan karena lemah, tetapi karena kita ingat bahwa kita pernah sangat kecil, dan ibu pernah sangat kuat. Selamat Hari Ibu. Untuk perempuan yang, lewat rahim dan doanya, membuat kita layak hidup dan pantas menjadi manusia. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












