Feature

Belajar Memimpin dari Tanah Suci

61
×

Belajar Memimpin dari Tanah Suci

Sebarkan artikel ini
Berempat: dari kiri M. Zacky Fanani (SDM 2), Priyo Sasongko (SDM 21), penulis (SDM 10), dan Adre Marsetio (Tata Usaha PDM Kota Surabaya) berasa di atas Bukit Rumat dengan begron di belakang Jabal Uhud dengan warna merah Kecoklatan (Tagar.co/Adre Marsetio)

Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya menapaki Raudah, Bukit Rumat, dan Gua Hira sebagai ruang belajar kepemimpinan yang rendah hati, setia pada amanah, dan berani bertumbuh dalam keheningan.

Catatan seri ke-11 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya

Tagar.co – Perjalanan kepemimpinan tidak selalu ditempa di ruang rapat atau forum diskusi. Kadang, ia justru tumbuh dari langkah-langkah sunyi yang mengolah batin.

Itulah yang dirasakan para peserta Leader Inspiration Journey, kegiatan penguatan kepemimpinan yang diselenggarakan K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya, dalam rangkaian perjalanan spiritual di Tanah Suci.

Baca juga: Jabal Nur: Saat Kaki Protes, Paru-Paru Demo, tapi Hati Justru Tenang

Dalam perjalanan ini, tiga tempat menjadi titik refleksi yang memberi pelajaran mendalam tentang makna kepemimpinan: Raudah, Bukit Rumat, dan Gua Hira. Ketiganya bukan sekadar destinasi ziarah, melainkan ruang belajar nilai—tentang kerendahan hati, kesetiaan pada amanah, dan keberanian bertumbuh melalui keheningan.

Raudah: Kepemimpinan yang Menundukkan Ego

Berada di Raudah, area di antara mimbar dan makam Rasulullah Saw. di Masjid Nabawi, bukanlah perkara mudah. Jemaah harus bersabar dalam antrean panjang, berdesakan, dan patuh sepenuhnya pada arahan petugas. Waktu sangat terbatas. Tidak ada ruang untuk ego—semua mendapat kesempatan yang sama dalam keterbatasan yang ketat.

Baca Juga:  Menyusuri Jejak Langit: Dari Jabal Sur ke Jabal Rahmah

Baca juga: Sepuluh Menit di Raudah: Doa-Doa yang Tak Ingin Selesai

Di tempat yang disebut Rasulullah sebagai taman surga ini, peserta Leader Inspiration Journey menemukan pelajaran penting tentang kepemimpinan.

Di antara mimbar tempat Rasulullah memimpin umat dan makam tempat beliau kembali menghadap Allah Swt., tersirat pesan kuat bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang ingin selalu didahulukan.

Kepemimpinan justru diuji ketika seseorang mampu menahan ego, patuh pada aturan, dan memberi ruang bagi orang lain.

Raudah mengajarkan bahwa kepemimpinan yang besar lahir dari hati yang tunduk, bukan dari jabatan yang diagungkan.

Penulis di antara para peziarah di puncak Jabal Nur (Gunung Cahaya). Tampak dari kejauhan berdiri megah menjulang ke angkasa Menara Makkah Royal Clok Tower (Menara Abraj Al-Bait ) dengan khas warna hijaunya. (Tagar.co/M. Ain)

Bukit Rumat: Setia pada Amanah di Titik Kritis

Pelajaran berikutnya hadir dari Bukit Rumat, bukit kecil yang menyimpan pesan besar dalam sejarah Perang Uhud. Di tempat inilah Rasulullah Saw. menempatkan pasukan pemanah dengan satu perintah tegas: jangan meninggalkan posisi apa pun yang terjadi.

Baca juga: Mengunjungi Raudah: Detak Hati di Taman Surga Nabawi

Namun sejarah mencatat, pelanggaran terhadap amanah—sekecil apa pun—di titik strategis dapat berakibat besar. Godaan harta rampasan membuat sebagian pasukan turun sebelum perintah dicabut. Akibatnya, keadaan berbalik dan kaum Muslim mengalami kerugian.

Baca Juga:  Getaran Hati di Serambi Nabawi

Bukit Rumat menjadi cermin bagi para pemimpin hari ini, termasuk pemimpin pendidikan. Kepala sekolah, pimpinan organisasi, dan penggerak komunitas sejatinya adalah “pemanah” di posisi penting. Ketika prinsip dan amanah ditinggalkan demi kenyamanan, popularitas, atau keuntungan sesaat, dampaknya tidak hanya bersifat personal, tetapi juga kolektif.

Dari Bukit Rumat, peserta belajar bahwa kesetiaan pada amanah lebih utama daripada hasil instan, dan disiplin terhadap nilai jauh lebih mulia daripada kemenangan semu.

Gua Hira: Kepemimpinan yang Lahir dari Keheningan

Pendakian menuju Gua Hira di Jabal Nur menjadi perjalanan yang paling menguras fisik sekaligus paling mengguncang batin. Jalur terjal, antrean padat, dan kelelahan menguji kesabaran setiap langkah. Namun semua itu terasa terbayar saat akhirnya tiba di gua kecil tempat Rasulullah Saw. menerima wahyu pertama.

Baca juga: Jabal Nur: Saat Kaki Protes, Paru-Paru Demo, tapi Hati Justru Tenang

Di Gua Hira, keheningan justru berbicara lantang. Di tempat inilah Rasulullah bertahannus, menyepi, dan merenung hingga datang perintah besar yang mengubah arah peradaban manusia. Pesan yang ditangkap para peserta jelas: perubahan besar tidak lahir dari kegaduhan, tetapi dari perenungan yang sungguh-sungguh.

Baca Juga:  PPIU/PIHK Masuk Bursa: Antara Transparansi dan Amanah Ibadah

Seorang pemimpin, pada titik tertentu, perlu berani “naik ke Jabal Nur”-nya sendiri—bersabar, berjuang, dan menyepi untuk berpikir jernih. Kepemimpinan yang mencerahkan lahir dari kedalaman visi, kekuatan refleksi, dan keberanian mengambil tanggung jawab besar demi kemaslahatan umat.

Kepemimpinan sebagai Perjalanan Spiritual

Tiga titik cahaya—Raudah, Bukit Rumat, dan Gua Hira—menegaskan satu pesan penting dalam Leader Inspiration Journey: kepemimpinan sejati adalah perjalanan spiritual yang terus hidup. Ia tidak berhenti pada kemampuan mengatur, tetapi tumbuh dari kesediaan untuk belajar, berubah, dan menularkan nilai.

Melalui kegiatan ini, K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya mengajak para pemimpin pendidikan menata ulang makna peran mereka—bukan sekadar sebagai pengelola lembaga, tetapi sebagai teladan nilai, penjaga amanah, dan penyalur cahaya bagi generasi masa depan. (#)

Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni