Opini

Guru, Empati, dan Madrasah sebagai Rumah Bersama

×

Guru, Empati, dan Madrasah sebagai Rumah Bersama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Madrasah tumbuh dari kepedulian kolektif. Ketika empati guru menipis, yang rapuh bukan hanya kelas, tetapi juga masa depan lembaga.

Oleh Nurkhan; Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co — Empati kerap dipahami sebatas kemampuan merasakan dan memahami kondisi orang lain. Dalam dunia pendidikan, pemaknaan ini sesungguhnya terlalu sempit. Empati tidak berhenti pada relasi guru dengan murid, tetapi juga mencakup kepekaan terhadap sekolah atau madrasah sebagai sebuah ekosistem—ruang bersama tempat nilai, kerja, dan pengabdian saling bertemu.

Madrasah bukan sekadar tempat bekerja. Ia adalah komunitas hidup yang bertumbuh melalui kerja kolektif dan rasa saling bergantung. Guru yang berempati menyadari bahwa kehadirannya di madrasah bukan hanya soal mengajar di kelas, melainkan juga tentang kehadiran moral, sosial, dan profesional.

Baca juga: Dari Madrasah, Nurkhan Menulis Manusia: Resensi Buku-Buku Bekas Abdul Mu’ti

Setiap peran, sekecil apa pun, bila dijalankan dengan tanggung jawab, akan memberi dampak besar bagi iklim belajar dan keberlangsungan lembaga pendidikan. Sayangnya, empati semacam ini belum selalu tumbuh kuat pada setiap pendidik.

Salah satu fenomena yang kerap muncul adalah kebiasaan sebagian tenaga pendidik atau kependidikan yang terlalu sering meninggalkan madrasah—baik karena urusan keluarga maupun kegiatan di luar—tanpa koordinasi yang memadai. Kegiatan keluarga dan pengembangan diri tentu penting. Guru memang dituntut terus belajar, memperluas wawasan, dan meningkatkan kompetensi.

Baca Juga:  Siswa MI Mutwo Turun ke Kampung, Galang Dana untuk Bencana Sumatra-Aceh

Namun persoalan muncul ketika aktivitas tersebut menjadi alasan untuk sering absen tanpa mempertimbangkan kebutuhan murid dan madrasah. Kelas ditinggal tanpa persiapan, tugas pembelajaran terbengkalai, dan urusan administratif terabaikan. Di titik inilah empati mulai diuji: apakah kepentingan pribadi telah menggeser tanggung jawab bersama?

Fenomena guru meninggalkan kelas tanpa memastikan pengganti, atau abai terhadap kewajiban administrasi, menunjukkan rendahnya kesadaran bahwa kehadirannya bukan hanya penting bagi dirinya, tetapi juga sangat dibutuhkan oleh murid dan rekan sejawat.

Kurangnya empati juga tampak dalam sikap terhadap lingkungan fisik madrasah. Ada guru yang merasa tugasnya berhenti pada jam pelajaran. Soal kebersihan ruang kelas, fasilitas yang rusak, atau suasana belajar yang kurang kondusif dianggap di luar tanggung jawabnya. Padahal, madrasah yang nyaman dan tertata lahir dari kepedulian kolektif, bukan semata hasil kerja petugas kebersihan atau kebijakan pimpinan.

Kepedulian kecil—ikut menjaga kebersihan, mengingatkan perawatan fasilitas, atau menciptakan suasana kelas yang menyenangkan—sesungguhnya adalah bentuk empati yang memperkuat rasa memiliki terhadap madrasah.

Baca Juga:  Belajar dari Tetesan Air: Pesan Ketekunan di Pondok Ramadan MI Mutwo

Minimnya empati juga terlihat dari keengganan terlibat dalam kegiatan bersama. Rapat dianggap membuang waktu, kerja bakti dinilai melelahkan, dan kegiatan kebersamaan sering dihindari dengan berbagai alasan. Perlahan, sikap semacam ini menggerus solidaritas dan kebersamaan di lingkungan madrasah. Padahal, kultur lembaga pendidikan yang sehat dibangun dari interaksi, komunikasi, dan kerja tim yang konsisten.

Empati juga diuji dalam relasi antarguru. Di setiap madrasah selalu ada pendidik yang memikul beban lebih berat—baik karena tanggung jawab tambahan, kondisi pribadi, maupun tantangan pembelajaran. Guru yang berempati akan berusaha memahami, membantu, atau setidaknya tidak menambah beban dengan sikap dan ujaran negatif.

Sebaliknya, kurangnya empati sering melahirkan sikap acuh, komentar sinis, bahkan kebiasaan membicarakan rekan sejawat di belakang. Pembentukan kelompok-kelompok eksklusif dan budaya saling mencibir perlahan merusak iklim kerja yang seharusnya saling menguatkan. Padahal, solidaritas antarpengajar adalah kekuatan utama dalam menghadapi keterbatasan.

Empati terhadap madrasah juga tercermin dari kontribusi nyata bagi kemajuan lembaga. Guru yang berempati selalu menempatkan dirinya sebagai bagian dari solusi. Ia bertanya, apa yang bisa ia lakukan agar madrasah ini tumbuh lebih baik. Ia mau berbagi hasil pelatihan, mengembangkan inovasi kecil di kelas, dan mendukung program sekolah sesuai kemampuannya.

Baca Juga:  Foskam SD/MI Gresik Serap Inspirasi Pendidikan di SDIT Abata Lombok

Sebaliknya, guru yang kurang empati lebih sering berorientasi pada apa yang bisa ia peroleh—sertifikasi, tunjangan, atau fasilitas—tanpa merasa perlu mengembalikan manfaatnya kepada madrasah.

Hal lain yang tak kalah penting adalah rasa bangga dan memiliki. Guru yang berempati akan menjaga nama baik madrasah, baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Ia mungkin menyadari kekurangan lembaganya, tetapi memilih memperbaiki, bukan merendahkan.

Sebaliknya, sikap gemar mengeluh, membandingkan secara negatif, atau menyebarkan citra buruk madrasah kepada publik justru melemahkan kepercayaan masyarakat dan melukai identitas lembaga itu sendiri.

Pada akhirnya, empati terhadap madrasah bukan sekadar soal hadir setiap hari atau menuntaskan kewajiban administratif. Empati adalah kesediaan untuk peduli, terlibat, dan merasa memiliki. Guru yang berempati mampu menyeimbangkan pengembangan diri dan pengabdian. Ia belajar bukan untuk pergi menjauh, tetapi untuk kembali dan memberi dampak.

Sebab madrasah tidak hanya membutuhkan guru yang cerdas dan terlatih, tetapi juga pendidik yang memiliki hati, kepekaan, dan komitmen untuk tumbuh bersama komunitas pendidikannya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni