Feature

Menyusuri Jejak Langit: Dari Jabal Sur ke Jabal Rahmah

87
×

Menyusuri Jejak Langit: Dari Jabal Sur ke Jabal Rahmah

Sebarkan artikel ini
Peserta Safari Spiritual Leader Inspiration Journey SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya berkunjung di Jabal Sur Kota Makkah tempat Rasulullah  dan Abu Bakar berlindung dari kejaran kaum kafir Quraish. (Tagar.co/M. Rusman Fajar)

Di perbukitan Makkah, kisah hijrah, iman, dan cinta manusia bertaut. Safari spiritual ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ziarah batin yang menata ulang niat dan harap.

Catatan seri ke-7 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya

Tagar.co — Pagi di Makkah pada hari ketujuh Safari Spiritual Leader Inspiration Journey, Senin, 19 Januari 2026, terasa berbeda. Udara masih ramah, mentari belum galak.

Sejak pukul 07.30 waktu setempat, para peserta telah berkumpul rapi di lobi Al Olayan Golden Hotel, tempat rombongan bermukim selama di Tanah Suci. Hotel yang berada di salah satu jalur strategis Makkah ini menjadi saksi persiapan sebuah perjalanan yang sarat makna.

Tepat pukul 08.00, bus melaju meninggalkan hotel. Di sepanjang perjalanan menuju Jabal Sur, mata peserta dimanjakan panorama khas Makkah: perbukitan batu cokelat keabu-abuan yang kokoh, jalan-jalan lebar yang tak pernah sepi oleh kendaraan jemaah dari berbagai negara, serta bangunan modern yang berdampingan harmonis dengan jejak sejarah Islam. Makkah memang unik—antara masa lalu yang sakral dan masa kini yang dinamis.

Baca Juga:  SD Muhammadiyah 10 Surabaya Salurkan Dana Sosial Ramadan Rp34 Juta

Baca juga: Mengetuk Langit, Menegakkan Bumi Pendidikan

Sesampainya di kawasan Jabal Sur, rombongan tidak berlama-lama. Dari kejauhan, tampak gunung sunyi yang menyimpan kisah besar hijrah Rasulullah Saw. sang mutawif, M. Rusman Fajar, menjelaskan bahwa jika ingin mendaki hingga ke Gua Sur, diperlukan waktu sekitar 2,5 jam—cukup menguras tenaga dan fisik. Dengan pertimbangan keselamatan dan efektivitas waktu, rombongan pun memilih melanjutkan perjalanan.

Meski demikian, kisah Jabal Sur tetap hidup dalam ingatan. Di gunung inilah Rasulullah Saw. bersama sahabat setia beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berlindung dari kejaran kaum Quraisy. Di dalam gua yang sempit itu, Allah menunjukkan kuasa-Nya: laba-laba membuat sarang dan burung merpati bertelur.

Ketika musuh telah sampai di mulut gua, Abu Bakar sempat diliputi kecemasan. Rasulullah Saw. menenangkan dengan kalimat abadi, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Sebuah pelajaran tentang iman, tawakal, dan ketenangan di tengah situasi paling genting.

Langit cerah kebiruan di atas padang Arofah, terlihat dari kejauhan tugu Jabal Rahmah berwarna putih setinggi 8 meter menjadi latar foto para peserta Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya (Tagar.co/M. Rusman Fajar)

Ke Jabakk Rahmah

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Jabal Rahmah. Sepanjang jalan, M. Rusman Fajar menjelaskan berbagai titik penting dalam rangkaian ibadah haji: Padang Arafah sebagai tempat wukuf, Muzdalifah sebagai lokasi mabit, Mina dengan lautan kemah jemaah haji, hingga area lempar jumrah.

Baca Juga:  Berbagi Kebahagiaan Ramadan, Ikwam SD Mumtas Kunjungi SLB Karya Bakti

Bagi peserta yang belum pernah berhaji, penjelasan ini terasa seperti pengantar spiritual—membangkitkan rindu dan menumbuhkan harapan untuk suatu hari menjadi tamu Allah.

Bus juga melintasi Universitas Ummul Qura Makkatul Mukarramah. Kampus ternama di kota suci ini, yang banyak diisi mahasiswa asal Indonesia, menghadirkan senyum harap di wajah para orang tua. Dalam hati, terbersit doa: semoga suatu hari anak-anak mereka dapat menuntut ilmu di tanah yang diberkahi ini.

Sekitar pukul 10.15, rombongan tiba di area parkir Jabal Rahmah dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kawasan ini tampak sangat ramai, terutama di puncak. Jabal Rahmah dikenal sebagai tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa setelah lama terpisah—sebuah simbol cinta, tobat, dan awal kehidupan berumah tangga. Tak heran jika banyak pasangan suami istri datang ke tempat ini dengan harapan keharmonisan dan keberkahan rumah tangga.

Namun, pemandangan yang memantik keprihatinan juga terlihat. Batu-batu di kawasan Jabal Rahmah dipenuhi coretan nama, inisial pasangan, hingga simbol-simbol cinta sederhana. Bahkan, ada pula yang memeluk batu sambil meratap.

Baca Juga:  Lautan Manusia, Lautan Air Mata: Ramadan yang Menggetarkan di Makkah

Padahal, pada monumen beton persegi empat berwarna putih setinggi sekitar delapan meter di kawasan tersebut, tertulis larangan dalam lima bahasa agar jemaah tidak berlebihan mengkultuskan tugu ini. Cinta memang fitrah manusia, tetapi menjaga adab di tempat mulia juga merupakan bagian dari ibadah.

Menjelang pukul 12.30, rombongan kembali ke bus dan bergegas menuju hotel untuk melaksanakan salat Zuhur berjemaah.

Perjalanan hari itu bukan sekadar wisata religi atau city tour. Ia adalah perjalanan batin—menyusuri jejak sejarah, menata kembali niat, dan menebalkan iman. Sebuah safari spiritual yang tidak hanya dilihat dengan mata, tetapi dirasakan dengan hati. (#)

Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni