
Di Madinah, langkah tak lagi sekadar perjalanan fisik. Ia berubah menjadi dialog batin yang sunyi, menuntun hati menemukan kembali ketenangan, syukur, dan makna ibadah yang sejati.
Seri Ke-1 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya.
Tagar.co — Madinah menyambut bukan dengan hiruk-pikuk, melainkan dengan keheningan yang menenangkan. Dalam kesunyian itulah hati perlahan menemukan ritmenya sendiri. Setiap langkah terasa lebih pelan, setiap tarikan napas lebih bermakna. Seakan ada ruang baru di dalam diri yang terbuka, tempat doa-doa lama berdiam dan kini mulai berbicara kembali.
Ada getaran yang sulit dilukiskan dengan kata ketika kaki kali pertama benar-benar menapak di Kota Nabi. Getaran itu bukan sekadar sisa lelah setelah perjalanan panjang, melainkan bisikan batin yang meneguhkan keyakinan: ini bukan mimpi. Inilah perjalanan spiritual yang menghadirkan kehadiran Allah dengan cara yang sangat personal.
Baca juga: Tuk… Tuk… Tuk…: Langkah Tawaf si Buta di Baitullah
Getaran itu mulai terasa sejak pesawat mendarat di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, Selasa (13/1/26). Tanpa sebab yang jelas, mata berkaca-kaca. Hati terasa sesak oleh rasa haru ketika menyadari bahwa Allah Swt benar-benar memberi izin untuk berkunjung dan beribadah di Tanah Suci. Doa-doa yang selama ini terucap lirih seakan menemukan rumahnya.
Perjalanan menuju Madinah ditempuh dengan dua bus, menyusuri jarak sekitar 420 kilometer. Jalan panjang yang sunyi menjadi ruang kontemplasi. Tidak banyak percakapan. Setiap penumpang larut dalam dialognya sendiri dengan Tuhan.
Rombongan sempat beristirahat sekitar 30 menit di Mut’am Muhammadiyah. Udara mulai menusuk, pertanda Madinah semakin dekat. Setelah lima hingga enam jam perjalanan, bus akhirnya berhenti di Hotel Al-Karam Hijaz, tak jauh dari Masjid Nabawi.
Di lobi hotel, rombongan K3 SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya berkumpul menunggu pembagian kamar. Waktu terasa berjalan cepat. Tak lama, azan pertama berkumandang, merambat lembut ke relung jiwa.
Setelah menerima kunci kamar, satu per satu bergegas bersiap. Satu kamar diisi Munahar, M.Pd., Drs. Ahmad Zaini, M.Pd., Drs. H. Muhammad Naim, M.Pd., dan penulis.
Azan kedua menggema lebih syahdu, seolah panggilan yang tak bisa ditunda. Meski suhu Madinah berkisar 10–15 derajat Celsius dan dingin menembus tulang, langkah tak surut sedikit pun. Jemaah dari berbagai penjuru dunia mengalir menuju masjid. Beragam bahasa, warna kulit, dan usia melebur dalam satu tujuan: memenuhi undangan Allah.
Ketika menara Masjid Nabawi akhirnya berdiri di hadapan mata, dada terasa penuh oleh rasa syukur. Air mata kembali jatuh. Terbayang Rasulullah Saw dan para sahabat membangun masjid ini dengan iman dan pengorbanan yang agung.
Di tempat inilah setiap sujud terasa berbeda, setiap rakaat seolah berbicara langsung dengan langit. Sabda Rasulullah Saw terasa hidup: satu rakaat salat di Masjid Nabawi bernilai seribu rakaat dibanding masjid lain.
Perjalanan ini merupakan bagian dari program ziarah rohani yang diikuti rombongan K3 SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya, bekerja sama dengan Pustaka Cendekia Surabaya, KBIHU Muhammadiyah, dan Chatour Travel.
Namun lebih dari sekadar perpindahan tempat, perjalanan ini adalah perjalanan hati — pengingat bahwa ibadah adalah panggilan cinta, dan Allah selalu tahu kapan seorang hamba siap dipanggil lebih dekat. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












