
Sebanyak 171 peserta lomba mewarnai, puluhan peserta tahfiz, azan, dan salat berjemaah memeriahkan Mumtas Festival 2026 di SD Muhammadiyah 10 Surabaya. Gerimis turun, semangat anak-anak tetap membara.
Tagar.co — Pagi itu, Selasa (10/2/2026), langit Sidoyoso tampak cerah dan bersahabat. Angin semilir menyambut rombongan anak-anak taman kanak-kanak yang berdatangan ke SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas), Jalan Sidoyoso IX/14–16, Simokerto. Mereka bukan datang untuk piknik, melainkan mengikuti rangkaian lomba dalam Mumtas Festival 2026.
Baca juga: Mumtas Festival 2026: Enam Dekade Mengabdi dengan Hati
Sejak pagi, halaman sekolah berubah menjadi lautan warna. Seragam merah-putih, hijau, biru, hingga kuning cerah berjejer rapi. Tawa anak-anak pecah di berbagai sudut, diselingi pertanyaan polos yang mengundang senyum para panitia.
“Bu, kalau menang dapat hadiah, ya?” tanya seorang peserta dengan mata berbinar.
Festival ini digelar dalam rangka Milad ke-60 Mumtas. Mengusung semangat “Sekolah Generasi Qur’ani”, perayaan tidak diisi seremoni formal semata, melainkan ajang kompetisi yang mengasah kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri anak-anak sejak dini.
171 Peserta Ramaikan Lomba Mewarnai
Lomba Mewarnai Kreatif menjadi kategori dengan peserta terbanyak, yakni 171 anak. Mereka tampak serius menggoreskan krayon di atas kertas. Sementara itu, para orang tua terlihat tak kalah tegang—menahan diri agar tidak “ikut membantu” pewarnaan.
Di sela perlombaan, para orang tua dan guru TK disuguhi penampilan siswa-siswi Mumtas serta bazar makanan dan minuman yang dapat dinikmati sepanjang kegiatan. Suasana terasa meriah namun tetap tertib.

Salat Berjemaah hingga Tahfiz: Tegang tapi Menggemaskan
Lomba Salat Berjemaah yang diikuti delapan kelompok menghadirkan momen-momen menegangkan sekaligus menggemaskan. Salah satu peserta sempat terdiam beberapa detik di tahiyat akhir karena lupa bacaan.
Suasana hening seketika. Juri dan panitia ikut menahan napas. Namun tak lama kemudian, sang peserta melanjutkan bacaan dengan lancar, disambut senyum lega orang tua dan guru pendamping.
Pada Lomba Tahfidzul Qur’an yang diikuti 39 peserta, sebagian anak tampil mulus dan percaya diri. Ada pula yang sempat mengulang-ulang ayat karena kehilangan sambungan. Meski demikian, keberanian mereka berdiri di depan juri menjadi nilai tersendiri.

Lomba Azan Penuh Semangat
Tak kalah menarik, Lomba Azan yang diikuti 23 peserta juga menyita perhatian. Beberapa anak melantunkan adzan dengan suara lantang dan merdu. Ada pula yang sempat menukar urutan kalimat, namun tetap menyelesaikan dengan penuh semangat.
Bagi panitia dan orang tua, momen-momen spontan itu justru menjadi kenangan manis yang memperkaya suasana festival.
Gerimis Tak Surutkan Keceriaan
Menjelang siang, cuaca yang semula cerah berubah menjadi gerimis. Namun tak satu pun peserta yang mundur. Orang tua merapatkan payung, guru tetap memberi semangat, dan anak-anak terus tampil percaya diri.
Festival ini bukan sekadar ajang mencari juara. Lebih dari itu, Mumtas Festival 2026 menjadi ruang belajar tentang keberanian, sportivitas, dan keceriaan. Di usia ke-60, SD Muhammadiyah 10 Surabaya menunjukkan komitmennya dalam menumbuhkan generasi Qur’ani yang tangguh sejak dini.
Sidoyoso hari itu bukan hanya cerah oleh matahari pagi, tetapi juga oleh tawa anak-anak—tawa kecil yang kelak bisa menjadi awal lahirnya generasi hebat. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyuning Mohammad Nurfatoni












