Feature

Bayi-Bayi yang Mewarisi Takdir Negeri

51
×

Bayi-Bayi yang Mewarisi Takdir Negeri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Di tengah cerita hangat ibu dari berbagai negara, Sari menegaskan satu hal: warisan terbesar bukan fasilitas, tapi ketangguhan untuk bertahan di dunia yang tak adil.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Cahaya pagi menerobos tirai tipis ruang tunggu rumah sakit internasional itu, jatuh di lantai marmer yang mengilap seperti kolam dangkal. Aroma antiseptik yang khas membuat ruangan terasa dingin, terlalu sunyi untuk sebuah tempat yang dipenuhi suara kehidupan yang baru belajar menangis.

Lima ibu duduk berderet, masing-masing menggendong bayi yang baru membuka mata terhadap dunia yang akan menyiapkan jalan berbeda bagi mereka. Ruangan itu seperti panggung kecil yang mempertemukan lima cerita hidup yang tidak pernah bersinggungan hingga pagi itu.

Baca juga: Retakan Pertama di Lingkaran Busuk

Ibu pertama, perempuan berabaya hitam modern, mengayun bayinya yang tenang. “Di negara kami,” katanya, “rumah pertama untuk bayi sudah siap. Orang tua tidak perlu cemas tentaang tempat tinggal bertahun-tahun ke depan.”

Ibu kedua tersenyum sambil menepuk punggung bayinya. “Kami punya cuti orang tua panjang. Ayahnya tinggal di rumah beberapa bulan, tetap digaji. Kami ingin anak tumbuh melihat ayahnya, bukan sekadar foto di ruang kerja.”

Ibu ketiga mengusap pipi bulat anaknya. “Biaya rumah sakit, kebutuhan bayi, bahkan sampai sekolah nanti… semua ditanggung. Kami hanya perlu mengasuh dengan hati yang tenang.”

Ibu keempat menimpali dengan nada lembut, “Di tempat kami, seluruh pendidikan hingga kuliah ditanggung negara. Orang tua hanya fokus membesarkan anak, bukan sibuk menghitung pengeluaran.”

Baca Juga:  Daftar Lengkap 24 Titik Lokasi Salat Idulfitri 1447 Muhammadiyah Kabupaten Semarang

Pembicaraan mengalir hangat, meski masing-masing berasal dari dunia berbeda. Mereka tersenyum, tertawa, saling bertanya. Ruangan itu terasa diikat oleh harapan sederhana yang sama: ingin yang terbaik untuk anaknya.

Hanya satu yang belum bicara.

Sejak tadi, Sari duduk di ujung deretan kursi, memeluk bayinya seperti menjaga benda paling rapuh di dunia. Jilbabnya sederhana, matanya tampak lelah namun hangat. Bayinya sesekali terkekeh melihat pantulan cahaya di dinding, keceriaan yang membuat ruangan itu menjadi sedikit lebih manusiawi.

Sofia menoleh padanya. “Bagaimana denganmu? Dari negara mana?”

“Indonesia,” jawabnya singkat.

Empat ibu lain mengangguk, beberapa memuji keindahan alam dan keramahan masyarakatnya.

Setelah jeda kecil, salah satu dari mereka bertanya dengan sopan, “Lalu, apa yang negara kalian berikan untuk bayi yang baru lahir?”

Pertanyaan itu tulus, tanpa nada meremehkan. Namun Sari diam sejenak, menatap wajah bayinya. Tatapannya kosong, seperti menimbang kata-kata yang tepat agar tidak terdengar getir.

Akhirnya ia berkata pelan, “Dia lahir dengan warisan yang tak terlihat. Utang negara. Biaya hidup yang naik tiap tahun. Ketidakpastian. Dan tuntutan untuk bertahan sebelum sempat belajar berjalan.”

Suasana hening seketika. Ruang tunggu itu seperti menyusut, menyisakan suara napas bayi-bayi yang belum mengenal arti kata beban.

Baca Juga:  Dapur yang Tak Pernah Kosong

Sari buru-buru menambahkan, “Tapi kami survive. Kami terbiasa. Kami bekerja keras untuk memberi tempat yang aman bagi anak-anak kami. Kami tidak diberi banyak fasilitas, tapi diajari cara berharap.”

Ia tersenyum kecil, senyum yang tidak pahit, hanya jujur.

Empat ibu lain menunduk. Sebagian karena simpati, sebagian karena kesadaran bahwa dunia, setelah semua kata-kata manis habis dikatakan, memang tidak pernah membagi jalan hidup dengan adil.

Panggilan dari pengeras suara memecah sunyi.

“Bu Sari, silakan masuk ke ruang imunisasi.”

Sari berdiri, mengangguk pada empat ibu lain, lalu masuk ke ruang kecil beraroma alkohol yang dinginnya seperti menembus kulit. Ia keluar beberapa menit kemudian dengan bayi yang baru saja menangis sebentar, kini kembali tenang di dadanya.

Namun saat ia kembali duduk, seorang perawat menghampirinya sambil membawa sebuah kartu identitas kecil yang tadi jatuh.

“Maaf, Bu. Ini kartunya tertinggal.”

Empat ibu lain tanpa sengaja melihat tulisan di kartu itu. Ada logo lembaga penelitian internasional dan nama lengkap Sari beserta gelar akademiknya.

Sari tersenyum canggung. “Ya, maaf. Kadang saya lupa menyimpannya.”

Sofia menatapnya, bingung. “Kamu peneliti?”

“Bukan,” jawab Sari lembut. “Saya hanya asisten riset. Membantu studi tentang pengalaman ibu baru dari berbagai negara. Tapi saya juga ibu yang sedang mencoba bertahan seperti orang lain. Saya membawa dua hal sekaligus: bayi saya dan cicilan pendidikan saya.”

Baca Juga:  Mimpi di Bawah Gunung Sampah

Kata-katanya sederhana, tetapi ada getaran di dalamnya, lahir dari hidup yang dihadapkan pada pilihan-pilihan keras.

Keempat ibu itu menatapnya diam-diam, tidak lagi dengan rasa iba, melainkan dengan hormat. Mereka menyadari sesuatu yang tidak mereka lihat sebelumnya: Sari bukan sekadar ibu dari negeri yang penuh kesenjangan. Ia adalah representasi jutaan perempuan yang membesarkan anak di dunia yang sejak awal dibuat tidak seimbang.

Sari menggendong bayinya lebih erat, lalu berkata, “Saya tidak tahu masa depan seperti apa yang menunggu anak saya. Tapi saya ingin ia tumbuh dengan satu hal yang tidak diberikan negara mana pun: ketangguhan.”

Ruangan kembali sunyi, namun sunyi itu bukan dingin. Sunyi itu penuh makna.

Ketika mereka bersiap pulang dan berjalan menuju pintu keluar, seorang ibu berbisik pada yang lain, “Lucu ya. Kita datang dari tempat berbeda, tapi hari ini belajar dari ibu yang paling diam.”

Dan saat Sari melangkah melewati pintu rumah sakit, cahaya matahari pagi menyambutnya. Dunia masih sama, tidak adil, tidak merata, dan penuh beban yang diwariskan sejak lahir.

Namun di dadanya, bayi itu tertawa kecil, tawa ringan yang entah bagaimana membuat langkah Sari sedikit lebih tegap.

Kadang, warisan terbesar bukan fasilitas negara. Kadang, warisan itu adalah ibu yang tidak menyerah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni