
Harga cukur itu cuma delapan belas ribu rupiah. Tapi percakapan singkat di kursi tua sebuah kios desa membuat seorang guru pulang dengan cara pandang yang berubah.
Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB
Tagar.co – Pukul 10.17 WIB, matahari hari pertama Ramadan 1447 mulai naik, memantulkan cahaya pada seng tipis yang menaungi kios cukur berukuran 2 x 2,5 meter di ujung Desa Ketumbar, kota rempah.
Kios itu sederhana: satu kursi putar tua berlapis kulit yang mulai retak, cermin besar dengan sudut sedikit mengelupas, bangku bambu panjang di sisi barat, serta kipas angin kecil yang berputar malas.
Baca cerpen lainnya” Ramadan Terakhir Ustazah Hanifah
Di dalamnya, Pak Sadeli—51 tahun, tubuhnya masih tegap meski rambut mulai beruban halus—duduk menikmati lantunan dangdut lawas dari radio kecil di sudut meja. Lagu Syahdu dari Rhoma Irama dan Rita Sugiarto mengalun pelan, seolah mengisi ruang yang lengang dengan kenangan.
Kios sedang sepi.
Lamunan Pak Sadeli terputus ketika sebuah motor berhenti di depan kios. Pak Ari, guru SMP berwajah ramah, turun dari motor kesayangannya. Istrinya menunggu di luar sambil tersenyum.
“Assalamu’alaikum, Pak Deli,” sapa Pak Ari.
“Wa’alaikumussalam, Pak. Monggo, silakan,” jawab Pak Sadeli cepat sambil mengecilkan suara radio.
Pak Ari duduk di kursi cukur. Kain hijau metalik diselimuti ke tubuhnya. Gunting mulai berbunyi, cekrek-cekrek, memotong helai demi helai rambut. Bau minyak rambut bercampur tipis aroma kayu tua.
Tiba-tiba terdengar salam dari arah pintu.
“Assalamu’alaikum…”
Seorang lelaki tua berkaos putih lusuh dan celana kain panjang yang tampak kotor berdiri di ambang pintu. Topi bambu menutupi sebagian rambutnya yang telah memutih. Dialah Mbah Sukiran, 69 tahun, petani sepuh yang sawahnya membentang tak jauh dari desa.
“Waalaikumussalam, Lek Ran. Monggo, lenggah rumiyin,” ujar Pak Sadeli ramah.
Mbah Sukiran duduk di bangku bambu sisi barat. Tangannya yang kasar karena cangkul terlipat di pangkuan. Ia memandangi proses cukur dengan tenang.
“Lagi nandur opo, Lek?” tanya Pak Sadeli memecah hening.
“Biasa, padi,” jawab Mbah Sukiran enteng.
“Wes umur piro? Kapan panene?”
“Saiki wes rong setengah ulan. Panen kira-kira sewulan maneh.”
Pak Sadeli tersenyum optimis. “Pastine panene apik, ya?”
Mbah Sukiran melepas topi bambunya, mengipas-kipaskan di wajah sambil menggaruk kepala penuh uban. “Kayane kurang apik tahun iki. Ulan-ulan iki akeh tikuse. Angine yo kenceng. Arep diobati larang. Terpaksa dipasang setrum wae.”
Gunting tetap berbunyi, namun suasana menjadi sedikit sendu.
“Kiro-kiro entuk piro, Lek?” lanjut Pak Sadeli.
“Yen rega gabah teles pitung ewu limang atus, paling entuk rong yuta,” jawabnya pelan, namun tetap tersenyum.
Dua juta rupiah. Untuk kerja berbulan-bulan, melawan tikus dan angin.
Pak Ari yang sedang dicukur terdiam. Di cermin, ia melihat pantulan wajah Mbah Sukiran—keriputnya dalam, tetapi matanya tetap bercahaya.
“Meski ngono, Alhamdulillah, isih sehat. Isih iso neng sawah,” tambah Mbah Sukiran.
Pak Sadeli mengangguk mantap. “Nggih, lek. Sing penting awak sehat. Iso salat, iso puasa Ramadan, iso tarawih, iso silaturahmi.”
Mbah Sukiran terkekeh pelan. “Juragan Haji Jujun, sepantaran karo aku, saiki lara-laran terus. Panene melimpah, tapi ora iso nikmati.”
“Iyo, lek. Disyukuri wae awak sehat iki,” sahut Pak Sadeli lembut.
Percakapan sederhana itu seperti angin sejuk di tengah panasnya hari. Tak ada keluhan panjang. Tak ada nada iri. Hanya penerimaan yang tulus.
Pak Ari merasakan sesuatu menggetarkan dadanya. Ia yang sering mengeluh tentang seabrek aktivitas sekolah, target kurikulum, dan biaya pendidikan anak yang semakin besar, kini seperti ditegur tanpa dimarahi. Di hadapannya ada dua lelaki sederhana yang mengajarkan makna syukur tanpa ceramah panjang.
Proses cukur selesai. Pak Sadeli menepuk-nepuk sisa rambut di leher Pak Ari, lalu memijat kepala dan pundaknya dengan cekatan. Jemarinya yang kasar terasa hangat dan menenangkan.
“Alhamdulillah, enteng tenan, Deli,” ujar Pak Ari setelah pijatan usai.
Di cermin, wajahnya tampak lebih segar. Bukan hanya karena rambut yang rapi, tetapi juga karena pikirannya terasa lebih ringan.
“Ongkose wolulas ewu, Pak,” kata Pak Sadeli.
Delapan belas ribu rupiah. Murah untuk layanan plus pijat kepala.
Pak Ari membayar sambil tersenyum. Ia menyalami Pak Sadeli dan Mbah Sukiran. Istrinya ikut bersalaman, penuh hormat.
“Semoga panennya dimudahkan, Mbah,” ucap Pak Ari tulus.
“Amin. Mugi-mugi Ramadan iki nggawa berkah kanggo kabeh,” jawab Mbah Sukiran.
Motor kembali menyusuri jalan desa. Debu tipis terangkat pelan di belakang roda. Di dalam kios, radio lawas kembali diputar dengan volume kecil.
Pak Sadeli merapikan guntingnya. Mbah Sukiran menepuk-nepuk topi bambu sebelum memakainya lagi. Matahari kian tinggi, sementara kios kecil di ujung Desa Ketumbar itu tetap berdiri sederhana—menjadi saksi percakapan tentang hidup yang tak selalu melimpah, tetapi selalu bisa disyukuri.
Ramadan hari pertama belum genap setengah hari. Namun bagi Pak Ari, pagi itu meninggalkan sesuatu yang sulit dijelaskan: rasa lapang yang datang diam-diam, seperti angin yang lewat tanpa suara.
Di kios cukur berukuran 2 x 2,5 meter itu, tiga lelaki biasa mengingatkannya bahwa kadang-kadang keberlimpahan tidak hadir dalam angka, melainkan dalam tubuh yang masih sehat, tangan yang masih bisa bekerja, dan hati yang masih mampu berkata, “Alhamdulillah.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












