
Antara adab dan ilmu, mana yang harus didahulukan? Inilah telaah dari Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al-Islah, Menganti, Gresik.
Tagar.co – Riuh rendah suara jrmaah memecah keheningan pagi di halaman Masjid Al-Islah, Sidowungu, Menganti, Gresik.
Ahad (8/12/2024) itu, ratusan pasang mata tertuju pada sosok Ustaz Nasrullah, Lc. Shi. MH, yang berada di hadapan mereka. Pengajian Ahad Pagi kali ini mengangkat tema yang menggelitik: Nanakah yang Lebih Utama Didahulukan, Adab atau Ilmu?
Pertanyaan retoris itu langsung dilontarkan Ustaz Nasrullah di awal kajian. “Adab dan ilmu, mana yang lebih dulu?” tanyanya, memancing interaksi jamaah.
Spontan, jawaban “adab” terdengar dari beberapa sudut. Namun, sang ustaz buru-buru mengingatkan untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan.
“Di dalam Al-Qur’an, kata ‘adab’ tidak disebutkan secara eksplisit. Ia menjelma menjadi ‘akhlak’,” jelas Ustaz Nasrullah.
Ia mengutip hadis riwayat Imam Al-Baihaqi, “Innama buistu liutammima makarimal akhlak (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).”
Penjelasan ini menegaskan bahwa misi utama diutusnya Rasulullah Saw bukanlah sekadar memberikan pengajaran, melainkan menyempurnakan akhlak manusia.
Meski demikian, Ustaz Nasrullah kembali mengingatkan, “Jangan lantas menyimpulkan adab lebih utama dari ilmu.”
Ia merujuk pada wahyu pertama yang diturunkan, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan),” sebuah perintah yang jelas menekankan pentingnya ilmu. Bahkan, Allah Swt menjanjikan peningkatan derajat bagi seorang muslim melalui ilmu.
Lagi-lagi, ia mewanti-wanti agar jemaah tidak terburu-buru menyimpulkan ilmu lebih utama. Ia mengajak mereka untuk merenungkan definisi adab dan ilmu melalui sebuah demonstrasi sederhana.

Al-Quran di HP
Ustaz Nasrullah, yang juga Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pasuruan, memegang sebuah kitab dan bertanya, “Apakah ini Al-Qur’an?”
Hampir seluruh jemaah mengangkat tangan tanda setuju. Ia kemudian menjelaskan konteks era digital saat ini, di mana Al-Qur’an dapat diakses melalui berbagai perangkat elektronik atau bahkan tersimpan dalam memori ingatan.
Inti dari demonstrasi ini terletak pada perlakuan terhadap kitab tersebut. Ustaz Nasrullah menanyakan apakah boleh meletakkan kitab yang diidentifikasi sebagai Al-Qur’an itu di lantai.
Serentak, jemaah menjawab tidak boleh. Kemudian, ia membandingkannya dengan telepon genggam yang juga berisi aplikasi Al-Qur’an, yang diperbolehkan diletakkan di lantai bahkan dibawa ke kamar mandi. Begitu pula dengan hafalan Al-Qur’an yang tersimpan di dalam otak.
Dari perbandingan ini, Ustaz Nasrullah menjelaskan esensi perbedaan adab dan ilmu. “Meletakkan Al-Qur’an di lantai berkaitan dengan adab, sementara membedakan mana Al-Qur’an dan benda lainnya, mana yang boleh dibawa ke tempat najis dan mana yang tidak, itu adalah ilmu,” paparnya.
Adab, menurutnya, menjelma menjadi akhlak ketika diimplementasikan dalam tindakan.
Ia menekankan bahwa untuk mendefinisikan Al-Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah), dibutuhkan ilmu. Ilmu Allah bukan hanya terbatas pada bentuk fisik buku, perangkat elektronik, atau memori ingatan, melainkan juga mencakup pemahaman dan penghayatan terhadapnya.
Kesimpulan yang ditarik dari kajian ini adalah pentingnya menyandingkan ilmu dan adab. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Ada adab dalam ilmu, dan ada ilmu dalam adab. Keduanya berjalan beriringan, membentuk insan kamil yang berilmu dan berakhlak mulia. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni











