Opini

Media Sosial sebagai Ruang Literasi, Hindari Ruang Sensasi

44
×

Media Sosial sebagai Ruang Literasi, Hindari Ruang Sensasi

Sebarkan artikel ini
Media sosial lebih sering memelihara kegaduhan daripada menumbuhkan kedewasaan. Algoritma kerap lebih ramah pada kontroversi dibanding kualitas.
Media sosial

Media sosial lebih sering memelihara kegaduhan daripada menumbuhkan kedewasaan. Algoritma kerap lebih ramah pada kontroversi dibanding kualitas.

Oleh Ansorul Hakim, Guru di Bojonegoro

Tagar.co – Di zaman ini, anak-anak kita mungkin lebih banyak belajar dari layar daripada dari lembaran buku. Lebih akrab dengan notifikasi daripada narasi. Lebih cepat mengetahui kabar viral daripada memahami nilai moral.

Dunia digital telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan membentuk cara pandang terhadap kehidupan. Media kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan telah menjadi ruang pendidikan baru—ruang yang diam-diam ikut membesarkan generasi.

Namun media sosial yang semestinya menjadi ruang literasi, hari ini justru menjelma menjadi ruang sensasi.

Media sosial lebih sering memelihara kegaduhan daripada menumbuhkan kedewasaan. Algoritma kerap lebih ramah pada kontroversi dibanding kualitas.

Konten yang dangkal sering lebih viral daripada gagasan yang bernas. Judul bombastis lebih cepat menarik perhatian daripada substansi yang mencerahkan.

Ruang digital yang semestinya menjadi taman pengetahuan, perlahan berubah menjadi pasar perhatian: siapa paling heboh, dia paling dilihat, Siapa paling emosional, dia paling dibagikan.

Yang menang bukan selalu yang benar, tetapi yang paling ramai. Di sinilah letak problem peradaban kita: media tidak lagi hanya memotret realitas, tetapi ikut membentuk realitas berpikir masyarakat.

Baca Juga:  Benarkah Tidur Orang Puasa Bernilai Ibadah?

Jika yang terus dikonsumsi adalah sensasi, maka yang tumbuh adalah generasi yang reaktif, dangkal, dan mudah terseret arus. Tetapi jika yang dihadirkan adalah literasi, maka yang lahir adalah generasi yang reflektif, kritis, dan matang secara intelektual.

Marshall McLuhan dalam karya monumentalnya Understanding Media: The Extensions of Man (1964) menyatakan, the medium is the message. Media bukan sekadar saluran penyampai pesan. Cara media bekerja itu sendiri membentuk cara manusia berpikir.

Ketika hidup dibiasakan dalam format serba cepat, serba singkat, dan serba instan, cara berpikir manusia pun ikut menjadi cepat, pendek, dan sering kali dangkal. Kita terbiasa membaca judul tanpa isi, berkomentar tanpa memahami, bereaksi tanpa verifikasi.

Fenomena ini makin nyata dalam kehidupan pelajar. Banyak siswa hari ini cakap berselancar di internet, tetapi belum tentu cakap menyaring informasi.

Cepat membuat konten, tetapi lambat membaca buku. Fasih berbicara di ruang digital, tetapi miskin kedalaman berpikir. Akibatnya literasi berkembang secara teknis, tetapi tidak selalu tumbuh secara substantif.

Padahal literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan kemampuan membaca makna, memahami konteks, menimbang informasi, dan mengambil hikmah.

Baca Juga:  Puasa di Ujung Syakban: Antara Kehati-hatian dan Ketepatan Syariat

Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menyebut literasi sebagai proses reading the word and reading the world—membaca teks sekaligus membaca realitas.

Orang yang literat tidak mudah diprovokasi, tidak gampang termakan hoaks, tidak cepat menghakimi, dan tidak ringan menyebar informasi yang belum jelas kebenarannya.

Wahyu Pertama

Dalam perspektif Islam, budaya literasi bahkan diletakkan sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Saw adalah: Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq.

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah pertama Islam bukan berbicara, bukan menyebarkan, bukan pula bereaksi, melainkan membaca.

Ini bukan kebetulan. Membaca adalah awal peradaban. Membaca melatih kedalaman. Membaca menumbuhkan kebijaksanaan. Membaca menahan manusia dari kesimpulan yang tergesa-gesa.

Karena itu, media semestinya menjadi ruang iqra’ modern—ruang yang menumbuhkan nalar, memperluas wawasan, memperhalus rasa, dan menguatkan akhlak.

Media harus menghadirkan konten yang mendidik, bukan sekadar memancing klik; menghidupkan diskusi yang sehat, bukan memelihara polarisasi; memperkuat budaya baca, bukan sekadar budaya scroll.

Pidato Hari Pendidikan Nasional 2026 menegaskan pentingnya integrasi empat pusat pendidikan: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media dalam membangun pendidikan bermutu untuk semua.

Penempatan media sejajar dengan sekolah dan keluarga menunjukkan betapa besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter generasi.

Baca Juga:  Ramadan Usai, Ujian Dimulai

Media hari ini adalah guru tanpa kelas, kurikulum tanpa buku, dan panggung besar yang memengaruhi jutaan pikiran sekaligus.

Karena itu, tanggung jawab media sangat besar. Jurnalisme harus tetap menjaga marwah mencerahkan. Kreator konten harus sadar bahwa setiap unggahan adalah jejak nilai.

Orang tua harus hadir mendampingi anak dalam ekosistem digital. Sekolah harus mengajarkan literasi media, bukan hanya literasi akademik. Dan masyarakat harus berhenti memberi panggung berlebihan pada sensasi yang miskin substansi.

Kita membutuhkan pergeseran budaya: dari viral menuju bernilai, dari ramai menuju bermakna, dari sensasi menuju literasi. Sebab bangsa ini tidak akan maju hanya karena cepat menerima informasi, tetapi karena cerdas mengolah informasi menjadi pengetahuan, dan bijak mengubah pengetahuan menjadi peradaban.

Media adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi jendela ilmu, tetapi juga pintu kerusakan. Ia bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjadi api.

Maka pilihan ada di tangan kita: menjadikan media sekadar ruang sensasi yang memanjakan emosi, atau menjadikannya ruang literasi yang menumbuhkan generasi. Dan masa depan bangsa sangat ditentukan oleh pilihan itu. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto