Feature

Membaca Al-Qur’an Isyarat: Ramadan Inklusif di Baitul Insan Nur

6494
×

Membaca Al-Qur’an Isyarat: Ramadan Inklusif di Baitul Insan Nur

Sebarkan artikel ini
Innik Hikmatin, M.Pd.I menerjemahkan bahasa isyarat santri Baitul Insan Nur. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Baitul Insan Nur Gresik menghadirkan Ramadan inklusif melalui program Tadarus Al-Qur’an Isyarat, memberikan ruang bagi teman tuli dan netra untuk memperdalam ibadah serta memahami petunjuk suci Al-Qur’an.

Tagar.co — Sore itu, halaman hingga ruang tengah rumah di Desa Golokan, Sidayu, Gresik, perlahan mulai ramai. Para teman tuli datang satu per satu. Ada yang melangkah mantap bersama keluarga. Ada pula yang saling menggandeng tangan rekan sejawatnya. Di sudut lain, beberapa teman netra berjalan hati-hati, meraba ruang dengan penuh rasa syukur, dengan dituntun sang orangtua.

Rumah itulah Baitul Insannur yang berdiri sejak 5 November 2022, kediaman Innik Hikmatin, S.Pd., M.Pd.I. Innik bukan sekadar tuan rumah, ia merupakan pengajar sekaligus anggota tim pengembang Al-Qur’an Isyarat yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan inklusivitas.

Hari itu, teman tuli, teman dengar, dan teman netra duduk bersimpuh dalam ruang yang sama, Ahad, 15 Maret 2026. Mereka tidak sekadar berkumpul untuk berbuka puasa, tetapi untuk “mendengar” ayat-ayat Al-Qur’an melalui isyarat tangan yang ritmis.

Innik menekankan, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjemput hidayah. Ia mengajak seluruh peserta menerapkan prinsip 3S: Syukur, Sabar, dan Semangat. Terutama dalam mengaji Al-Qur’an isyarat.

“Meskipun kalian datang dari tempat yang jauh, kalian harus tetap sabar dalam menuntut ilmu,” tutur Innik lembut di hadapan para santrinya. Baginya, Al-Qur’an harus menyentuh semua lapisan tanpa terkecuali.

Baca Juga:  Risma: Ibu Rumah Tangga Tak Perlu Minder

Pembelajaran sore itu berlangsung khidmat. Setiap ayat tidak hanya berhenti pada pelafalan, tetapi berpindah ke jemari yang bergerak lincah menerjemahkan makna. Saat membedah Surah Al-’Alaq dan Al-’Ankabut, tangan-tangan itu mengisyaratkan dengan perlahan. Bagi para santri, isyarat ini adalah jembatan yang menghubungkan hati mereka dengan wahyu ilahi yang selama ini mungkin terasa berjarak.

Afreda Kharisma Azzahra itu peserta inspiratif Hafiz Indonesia 2023 asal Gresik yang berhasil menghafal 15 juz Al-Qur’an di usia 7 tahun.  (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Pesan Syukur dari Kegelapan dan Keheningan

Kekhidmatan semakin terasa saat Risma melantunkan tilawah dengan suara merdu yang menggetarkan sanubari. Anak bernama lengkap Afreda Kharisma Azzahra itu peserta inspiratif Hafiz Indonesia 2023 asal Gresik, Jawa Timur, yang berhasil menghafal 15 juz Al-Qur’an di usia 7 tahun. Usai mengaji, ia menyelipkan pesan menyentuh bagi seluruh hadirin yang ada di sana.

“Mari kita manfaatkan waktu sebaik mungkin. Mari kita mengajak teman-teman dan keluarga untuk mengaji bersama. Semoga kegiatan ini memberi keberkahan di bulan suci Ramadan ini,” ujar Risma dengan wajah yang memancarkan ketenangan.

Tak lama kemudian, teman netra lainnya, Nafisa, tampil menjelaskan makna Surah Al-’Alaq dengan bahasa isyarat yang tegas. Ia mengingatkan, Allah menciptakan manusia dari segumpal darah sebagai bentuk kemuliaan.

“Kita harus bersyukur karena Allah menciptakan kita dalam bentuk sebaik-baiknya, meskipun ada yang netra maupun tuli. Karena kita memiliki akal, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak beribadah dan belajar membaca Al-Qur’an,” urai Nafisa yang disambut anggukan mantap dari rekan-rekannya.

Baca Juga:  Bedah Film Suara Kirana, Saat Remaja Diajak Mengisi Gelas Kosongnya

Semangat serupa ditunjukkan oleh Syervi saat menjelaskan poin-poin dalam Surah At-Tahrim. Dengan gerakan tangan yang ekspresif, ia mengingatkan pentingnya salat tepat waktu agar terhindar dari siksa neraka.

Interaksi ini membuktikan, pemahaman agama para santri inklusif ini sangat mendalam. Innik lantas menyaksikan pemandangan tersebut dengan haru. Ia melihat setiap individu di Baitul Insan Nur kini merasa memiliki tanggung jawab moral yang sama terhadap syiar agama.

Ir. Dodik Priyambada, S.Akt., Tim Ahli Majelis Dikdasmen & PNF PDM Gresik. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Menjaga Nyala Api Literasi Al-Qur’an

Kata Innik, perjuangan menghidupkan Al-Qur’an di kalangan disabilitas di Gresik ini memang terbagi dalam dua titik utama. Kelompok Gresik Tengah berpusat di Gedung Aisyiyah Terpadu, sementara wilayah Gresik Utara bertumpu di kediaman Innik.

Dalam kesempatan itu, Innik memperkenalkan satu per satu santri yang tumbuh di rumahnya sejak kecil. Seperti Fadhila, Istiana, Kharis, dan Erna. Ia memiliki cita-cita besar agar rumah tersebut selamanya menjadi “Rumah Al-Qur’an” yang ramah bagi siapa saja.

Dukungan pun mengalir dari berbagai tokoh. Termasuk Ir. Dodik Priyambada, S.Akt., Tim Ahli Majelis Dikdasmen & PNF PDM Gresik. Ia berharap momentum Ramadan ini menjadi pemantik semangat bagi para santri.

“Mudah-mudahan bulan Ramadan ini memotivasi adik-adik untuk terus mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya. Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan serta petunjuk kepada kalian semua,” doa Dodik.

Baca Juga:  FLP Gresik Punya Nakhoda Baru, Siti Maulina Siap Lanjutkan Dakwah lewat Pena

M. Nor Qomari, S.Si., orang tua dari santri bernama Aisyah Grisseta Azzahra, juga menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada pihak yayasan. Ia menilai upaya Innik dalam mempersatukan umat melalui literasi isyarat adalah langkah yang mulia.

“Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup merupakan hak seluruh muslim tanpa terkecuali. Mari kita saling menyemangati dan menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan menuju surga-Nya,” pungkasnya sebelum menutup sesi dengan doa bersama.

Menjelang berbuka, Alfa menceritakan kisah umrahnya. Dengan bahasa isyarat, pria itu menceritakan umrahnya selama 14 hari. Yakni 7 hari di Madinah, 7 hari di Makkah, dan 7 hari di Turki. “Di sana salat terus. Ziarah ke makam Rasulullah,” ujarnya.

Sebelum puncak acara buka puasa ini, para santri sebenarnya telah menempuh perjalanan panjang. Mereka mengikuti program Tadarus Al-Qur’an Isyarat secara intensif setiap Senin hingga Kamis, sejak 23 Februari hingga 12 Maret 2026.

Setiap pagi pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, mereka bergelut dengan modul isyarat, yang kemudian dilanjutkan dengan program Tahsin Al-Qur’an Isyarat (TAQI) secara daring bersama Kementerian Agama RI. Ramadan di Baitul Insan Nur bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah gerakan besar untuk memastikan, tak ada satu pun hati yang tertinggal dari cahaya Al-Qur’an. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni