
Hari terakhir Ramadan mulai sibuk mikir belanja daripada ke musala, membuat daftar oleh-oleh daripada mikir daftar dosa yang perlu diistigfarkan, menyiapkan perjalanan mudik daripada pulang kepada Allah. Ruh Ramadan mulai terancam hilang.
Oleh R. Arif Mulyohadi, Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim
Tagar.co – Melewati 25 Ramadan, suasana batin umat Islam biasanya mulai berubah. Masjid masih ramai, tadarus masih berlangsung, dan puasa tetap dijalankan. Namun di saat yang sama, perhatian publik perlahan bergeser.
Percakapan hari terakhir Ramadan tidak lagi sepenuhnya berkisar pada ibadah, melainkan mulai dipenuhi urusan tiket perjalanan, barang bawaan, pakaian baru, kue Lebaran, dan berbagai kebutuhan pulang kampung.
Di titik inilah pertanyaan penting perlu diajukan: masihkah Ramadan menjadi ruang pemurnian jiwa, atau justru telah berubah menjadi masa transisi menuju perayaan?
Pertanyaan ini tidak berlebihan. Sebab, 25 Ramadan berada di salah satu malam ganjil pada sepuluh hari terakhir. Fase yang justru sangat ditekankan dalam ajaran Islam.
Allah Swt. berfirman, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (Q.S. al-Qadr : 1–3).
Ayat ini memberi pesan tegas bahwa penghujung Ramadan bukan masa untuk mengendur, melainkan saat untuk memperdalam ibadah.
Pada fase inilah seorang muslim seharusnya lebih khusyuk, lebih bening, dan lebih jujur menilai dirinya sendiri.
Rasulullah Saw. memberi teladan yang sangat jelas. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan ketika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.
Ini bukan sekadar potret kesalehan individual, melainkan pelajaran tentang prioritas. Semakin dekat Ramadan pada ujungnya, semakin besar kesungguhan yang harus ditunjukkan.
Karena itu, amat ironis bila umat justru menghabiskan energi terbesar pada hari terakhir Ramadan untuk hal-hal yang bersifat lahiriah, sementara kekuatan ruhani mulai melemah.
Sibuk Lebaran
Tentu, Islam tidak pernah memusuhi mudik. Pulang kampung adalah bagian dari silaturahim, bakti kepada orang tua, dan pemeliharaan hubungan keluarga.
Belanja untuk kebutuhan hari raya pun bukan sesuatu yang terlarang. Masalahnya bukan pada mudik atau belanja itu sendiri, melainkan pada cara keduanya mengambil alih seluruh ruang perhatian.
Ketika jam-jam menjelang hari terakhir Ramadan lebih banyak habis untuk pusat perbelanjaan daripada untuk musala; ketika daftar oleh-oleh lebih dipikirkan daripada daftar dosa yang perlu diistigfarkan; ketika tubuh sibuk menyiapkan perjalanan pulang, tetapi hati tidak dipersiapkan untuk pulang kepada Allah, di situlah ruh Ramadhan mulai terancam hilang.
Padahal sejak awal Al-Qur’an telah menjelaskan tujuan puasa dengan sangat terang: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah : 183)
Tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk takwa. Takwa itulah yang seharusnya tampak dalam cara seseorang mengendalikan keinginan, menyusun prioritas, dan menjaga kejernihan hati.
Karena itu, keberhasilan Ramadan tidak bisa diukur dari meriahnya persiapan Lebaran, melainkan dari seberapa jauh puasa melahirkan kedewasaan moral dan ketenangan batin.
Di tengah budaya konsumsi yang semakin kuat, peringatan ini menjadi kian relevan. Menjelang Idulfitri, hari raya sering kali direduksi menjadi ajang penampilan.
Rumah harus terlihat lebih meriah, pakaian harus serba baru, hidangan harus melimpah, dan segala sesuatu seolah wajib tampak sempurna.
Dalam arus semacam ini, Ramadan rentan kehilangan maknanya sebagai madrasah pengendalian diri. Allah Swt. mengingatkan, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Q.S. Al-Isra’: 26-27)
Ayat ini bukan hanya kritik terhadap perilaku ekonomi yang berlebihan, tetapi juga teguran terhadap orientasi hidup yang mulai bergeser dari makna ke kemasan.
Ingat Orang Miskin
Lebih jauh, Rasulullah Saw. menegaskan nilai puasa tidak berhenti pada urusan fisik. Dalam hadis riwayat Bukhari, beliau bersabda, barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa adalah pendidikan akhlak. Ia menuntut perubahan dalam cara berbicara, bersikap, dan memandang hidup.
Karena itu, seseorang tidak dapat merasa berhasil menjalani Ramadan hanya karena puasanya penuh, sementara jiwanya tetap dikuasai sifat berlebihan, haus pengakuan, dan miskin empati.
Di sinilah 25 Ramadan seharusnya dibaca sebagai momentum koreksi. Masih ada waktu untuk menata ulang arah hati.
Masih ada kesempatan untuk memperpanjang sujud, memperbanyak istigfar, menghidupkan kembali tilawah, dan menyegarkan doa yang mungkin sempat melemah.
Penghujung Ramadan tidak seharusnya diisi dengan rasa puas terhadap ibadah yang telah lewat, melainkan dengan kesadaran bahwa kekurangan masih banyak.
Justru pada fase terakhir inilah kualitas penghambaan diuji: apakah seseorang bertahan menjaga ruh ibadah hingga garis akhir, atau justru larut dalam kesibukan duniawi menjelang hari raya.
Namun ruh ibadah yang sejati tidak hanya tumbuh dalam relasi vertikal dengan Allah. Ia juga harus tampak dalam kepedulian sosial.
Ramadan tidak boleh berakhir hanya dengan meja makan yang penuh di rumah sendiri, sementara di sekitar kita masih ada tetangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.
Allah Swt. berfirman, Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. (Q.S. Ali ‘Imran : 92)
Karena itu, zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar pelengkap ibadah, melainkan bukti bahwa Ramadan benar-benar menumbuhkan kepekaan kepada sesama.
Akhirnya, kemenangan Idulfitri bukan terletak pada sampainya seseorang ke kampung halaman, melainkan pada keberhasilannya menjaga hati tetap hidup hingga Ramadan berakhir.
Dunia boleh disiapkan, perjalanan boleh direncanakan, dan kebutuhan keluarga boleh dipenuhi. Namun semua itu tidak boleh mengalahkan tujuan utama puasa: membentuk manusia yang lebih bertakwa, lebih sederhana, dan lebih peduli.
Hari terakhir Ramadan yang paling penting bukan sekadar bersiap menyambut Lebaran, melainkan memastikan bahwa ruh ibadah tetap menyala sampai akhir. Sebab, dari situlah kemenangan yang sesungguhnya bermula. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












