
Dari ruang pelatihan, bunyi angklung menyatu dengan semangat ibu-ibu Aisyiyah Sidoarjo yang menegaskan kiprah seni sebagai bagian dari gerakan berkemajuan. 50 peserta ikuti pelatihan, lahirkan cikal bakal tim seni Aisyiyah Sidoarjo.
Tagar.co — Ibu-ibu Aisyiyah di Sidoarjo menunjukkan bahwa dakwah tak melulu hadir dari mimbar. Lewat nada-nada angklung, mereka merajut kebersamaan, kreativitas, dan pesan kebaikan.
Hal itu tampak dalam pelatihan angklung yang digelar Pimpinan Daerah Aisyiyah Sidoarjo melalui Lembaga Budaya Seni dan Olahraga (LBSO), Sabtu (7/2/26), di Aula PDM Sidoarjo.
Baca juga: Semangat Kader Aisyiyah Candi Ikut Pelatihan Jurnalistik: Menyulam Dakwah lewat Goresan Kata
Sebanyak 50 peserta dari perwakilan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Kabupaten Sidoarjo mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Sejak pukul 08.00 WIB, suasana sudah terasa semarak—diawali senam Aisyiyah Bahagia yang menghidupkan energi pagi sebelum memasuki sesi inti pelatihan.
Dalam sambutannya, Djumiyati, S.Pd., M.M., Wakil Ketua PDA Sidoarjo, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar belajar musik. “Selain sebagai ajang pembelajaran, pelatihan ini menjadi wadah penjaringan untuk membentuk tim angklung resmi PDA Sidoarjo. Ke depan, tim ini diharapkan tampil di berbagai acara budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan musik tradisional Indonesia,” ujarnya.
Di bawah arahan instruktur Firman Kusuma Wardhani, S.Psi., para peserta mempelajari teknik dasar angklung—mulai dari memegang, membunyikan nada, hingga membangun harmoni bersama. Meski banyak yang baru pertama kali bermain angklung, proses belajar berlangsung cair dan menyenangkan.
Pelatihan angklung Aisyiyah Sidoarjo menegaskan bahwa dakwah bisa hadir lewat budaya, seni, dan kebersamaan.

Ketua LBSO PDA Sidoarjo, Uswatun Khazanah, S.Pd.I., menyebut pelatihan ini sebagai ruang mempererat ukhuwah sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri. “Melalui angklung, kita belajar bahwa harmoni lahir ketika setiap suara bersatu. Begitu pula dalam kehidupan—kebersamaan akan melahirkan kekuatan,” tuturnya.
LBSO PDA Sidoarjo berkomitmen melanjutkan program ini dengan latihan rutin. Meski tantangan mengumpulkan peserta lintas cabang tidak kecil, semangat berdakwah dan melestarikan budaya menjadi energi utama agar tim angklung dapat terbentuk dengan solid. Spirit kebersamaan ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat 103 tentang pentingnya berpegang teguh dan tidak bercerai-berai.
Hasilnya pun terasa. Dalam waktu singkat, para peserta berhasil memainkan lagu sederhana dengan harmoni yang rapi. Saat ada yang kesulitan, peserta lain sigap membantu—sebuah potret solidaritas yang hidup. Selepas pelatihan, kesepakatan pun tercapai: latihan akan terus berjalan meski harus pandai mengatur waktu di tengah padatnya peran domestik, sosial, dan dakwah.
Salah satu peserta, Rina Regita dari PCA Tanggulangin, mengaku terharu. “Ternyata kami bisa kompak memainkan angklung. Rasanya seperti mendapat energi baru—ibu-ibu juga bisa tampil percaya diri,” ujarnya sambil tersenyum.
Nuansa kekeluargaan kian terasa saat tawa pecah di sela-sela percobaan nada, disusul tepuk tangan ketika harmoni berhasil diraih.
Ifa Rahmawati, S.Pd.I., S.Pd., dari Divisi Seni LBSO PDA Sidoarjo, menegaskan harapannya. “Dengan terbentuknya tim angklung PDA Sidoarjo, semoga lahir penampilan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi tentang kebersamaan, kreativitas, dan rasa syukur.”
Pelatihan ini menjadi langkah awal menuju panggung yang lebih luas—tempat suara angklung ibu-ibu Aisyiyah bergema, membawa pesan dakwah, harmoni, dan persaudaraan. (#)
Jurnalis Ifa Rahmawati Penyunting Mohammad Nurfatoni












