
Rakerwil Lazismu Jawa Timur di Gresik menegaskan pentingnya inovasi, sinergi, dan perluasan muzaki untuk memperkuat gerakan filantropi Muhammadiyah berkelanjutan tingkat wilayah Jawa Timur
Tagar.co – Cuaca mendung yang menyelimuti Kota Gresik, Jawa Timur, tidak menyurutkan semangat peserta Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lazismu Jawa Timur 2026.
Tepat pukul 08.30 WIB, Hall Hotel Horison GKB Gresik telah dipenuhi peserta Rakerwil yang merupakan utusan Lazismu kabupaten dan kota se-Jawa Timur.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang membidangi Lazismu, Hidayaturrohman, mengawali sambutannya dengan menyampaikan harapan atas terselenggaranya Rakerwil Lazismu Jawa Timur.
“Atas nama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim mengucapkan selamat dan sukses, mudah-mudahan Rakerwil pada pagi ini bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan apa yang menjadi amanah Lazismu PP Muhammadiyah,” terangnya.
Ia kemudian mengungkapkan kebanggaannya atas capaian Lazismu Jawa Timur yang berhasil memenuhi target yang telah ditetapkan.
Menurutnya, jika target Rp70 miliar benar-benar tercapai, hal tersebut menjadi bukti bahwa Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan mampu digerakkan secara efektif dan efisien dari pusat hingga ranting oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“Dan inilah bentuk gerakan bersama,” ujarnya.
Hari ini, lanjutnya, sempat kita baca di minggu pertama Jawa Timur mendapatkan 7,3 miliar, selamat atas pencapaiannya, semoga bisa mendapatkan lebih banyak lagi.
Akuarium Lazismu
Dalam Rakerwil tersebut, Hidayaturrohman juga menyoroti praktik baik yang dibagikan, khususnya terkait capaian Lazismu Gresik.
Ia mengaku sempat berdiskusi dengan Ketua Lazismu Gresik untuk mengetahui persentase perolehan dana dari internal Muhammadiyah dan dari luar Muhammadiyah.
“Saya sempat bisik-bisik dengan Pak Ketua, kira-kira sekian ini, yang didapat itu dari Muhammadiyahnya berapa persen, di luar Muhammadiyah berapa persen, dengan begitu pertama kita bisa memastikan gerakan ini berjalan,” ujarnya.
Ia menilai bahwa jika perolehan dana masih didominasi dari internal Muhammadiyah, maka gerakan Lazismu masih diibaratkan seperti berburu ikan di akuarium. Padahal, menurutnya, masih ada potensi besar di luar Muhammadiyah yang dapat digarap. “Berarti ada akuarium yang ada di luar, tidak sekadar akuarium, mungkin laut,” ungkapnya.
Ia pun memberikan ilustrasi agar setiap Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) mampu menjaring muzaki besar.
“Salah satu contoh, agar dari setiap PDM agar dapat ikan hiu satu atau dua, kira-kira sudah dapat belum? Silakan angkat tangan bagi yang dapat. Kalau mau cari ikan hiu, jangan langsung berburu ikannya, kita harus mengerti apa yang disukai ikan hiu itu, baru terakhir ikan hiu dimasukkan ke kolamnya Lazismu,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa Lazismu tidak cukup hanya berburu, mengejar, menanyai, dan meminta, tanpa terlebih dahulu memberikan manfaat dan dampak nyata. Menurutnya, masih ada waktu untuk membangun kepercayaan sehingga dapat memperoleh satu muzaki besar. Jika hal itu tercapai, maka akan menjadi cerita keberhasilan yang menunjukkan kompetensi para amil.
“Saya bertanya ke Lazismu Kabupaten Blitar, coba hitungkan zakat orang yang punya peternakan, perdagangan, dan puyuh. Belum bisa menghitung. Nah, ini apakah terjadi hanya di PDM saya. Semoga PDM lain tidak seperti itu,” ujarnya.
Ia berharap Lazismu dapat masuk ke sektor-sektor strategis seperti perusahaan dan perkebunan dengan lebih baik. Pendekatan yang dilakukan, menurutnya, perlu dimulai dengan mendengarkan keinginan para calon muzaki. “Kalau mau infak Lazismu di bidang apa, kalau keinginan mereka terpenuhi, insyaallah mereka akan menitipkan,” jelasnya.
“Untuk itu ayo kita punya kreativitas, salah satu tema hari ini yaitu inovasi. Ruh daripada lembaga zakat dan infak adalah inovasi dalam produknya. Produknya keren maka banyak akan peminatnya. Mari kita bersinergi antara Lazismu dengan pimpinan di tingkatannya,” ajaknya.
Secara keorganisasian, ia menilai eksekutif Lazismu idealnya dikelola secara profesional layaknya karyawan. Oleh karena itu, dalam kepengurusan diperlukan proses seleksi dan uji kompetensi. Jika masih terdapat kekurangan, maka dapat dilakukan pembinaan dan pendidikan. Lazismu diharapkan mampu mendorong dan berkolaborasi dengan Muhammadiyah di setiap tingkatan.
“Sehingga Lazismu menjadi pilihan masyarakat, khususnya umat Islam di Indonesia, sebagai tempat untuk menitipkan infak, zakat, dan sedekahnya,” pungkasnya. (#)
Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh. Penyunting Ichwan Arif












