Feature

Jejak Dakwah Sunan Giri di SDIT Ainul Yaqin Sidoarjo

66
×

Jejak Dakwah Sunan Giri di SDIT Ainul Yaqin Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Yayasan Ainul Yaqin Prambon melestarikan warisan dakwah Sunan Giri melalui pendidikan gratis dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, merawat nilai luhur leluhur di tepian Sungai Prayogo Sidoarjo.
Suasana Lomba Mewarnai dalam Festival Anak Soleh di SDIT Ainul Yaqin Bendotretek Prambon Sidoarjo (Tagar.co/Dwi Hilana Yesika)

Yayasan Ainul Yaqin Prambon melestarikan warisan dakwah Sunan Giri melalui pendidikan gratis dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Mereka merawat nilai luhur leluhur di tepian Sungai Prayogo Sidoarjo.

Tagar.co — Menyusuri tepian Sungai (Kali) Prayogo di utara bangunan tua Pabrik Gula Watutulis, Prambon, Sidoarjo, membawa pada perjalanan spiritual yang tenang. Sekitar dua kilometer ke arah barat, tepatnya di Dusun Domplangtretek, Desa Bendotretek, berdiri kokoh sebuah kompleks rumah ibadah dan pendidikan dengan nama yang tidak asing bagi telinga masyarakat Jawa: Ainul Yaqin.

Nama ini bukan sekadar identitas. Masjid dan sekolah tersebut berdiri sebagai dedikasi hidup untuk meneruskan perjuangan salah satu tokoh besar Islam Nusantara, Sunan Giri, yang memiliki nama asli Raden Ainul Yaqin. Di sini, nafas dakwah Giri Kedaton kembali berembus di tengah rimbunnya pohon bambu dan gemercik air sungai.

Ketua Yayasan Masjid dan Sekolah Ainul Yaqin, Anang Ma’ruf, S.Pd., menuturkan, lembaga ini memiliki akar sejarah yang kuat. “Kami mendirikan masjid dan sekolah ini delapan tahun lalu untuk melanjutkan perjuangan leluhur. Kami adalah keturunan dan murid Sunan Giri yang berpindah dari Gresik hingga ke Prambon ini,” tuturnya.

Baca Juga:  Menilik Potensi Calon Murid di TK Alam Al-Ghifari

Perpindahan leluhur mereka terjadi saat situasi politik memanas pascapenyerangan Sultan Agung dari Mataram Yogyakarta ke wilayah Giri.

Yayasan Ainul Yaqin Prambon melestarikan warisan dakwah Sunan Giri melalui pendidikan gratis dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, merawat nilai luhur leluhur di tepian Sungai Prayogo Sidoarjo.
Anang Ma’ruf, S.Pd., Ketua Yayasan Masjid dan Sekolah Ainul Yaqin, menyampaikan sambutan di pembukaan Festival Anak Saleh Tingkat TK-RA. (Tagar.co/Dwi Hilana Yesika)

Melestarikan Visi Pendidikan dan Ekonomi

Akhirnya Anang menjelaskan, pendirian yayasan ini merupakan manifestasi dari cara dakwah Sunan Giri. Sang wali tidak hanya mengajarkan syariat, tetapi juga memajukan pendidikan dan ekonomi masyarakat. Pola itulah yang kini mereka adopsi di Bendotretek. Khusus untuk unit TK dan SDIT Ainul Yaqin, pihak yayasan memegang teguh tiga pilar utama: menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi siswa, menyejahterakan guru, serta tetap terjangkau bagi masyarakat sekitar.

“Leluhur kami dari Giri Kedaton yang tercerai-berai ke Benowo, Menganti, Mojokerto, hingga Bangil membawa visi yang sama. Mereka memperjuangkan Islam dengan memajukan masyarakat melalui pendidikan. Inilah yang kami perjuangkan sekarang,” tegas Anang saat membuka peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, Selasa pagi, 27 Januari 2026 di SDIT Ainul Yaqin.

Suasana di halaman sekolah tampak asri. Angin semilir menyelinap di antara pepohonan, menciptakan harmoni dengan suara aliran air sungai di samping sekolah. Di tempat inilah, seratus siswa cilik dari berbagai taman kanak-kanak berkumpul mengikuti “Gebyar Festival Anak Saleh”.

Baca Juga:  Semangat Murid Berkebutuhan Khusus Warnai Studi Wisata SD Mugres di Yogyakarta

Menanam Benih Karakter di Tapal Batas

Kepala SDIT Ainul Yaqin, Riwayati, S.Pd., mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme masyarakat. Lokasi sekolah yang berada di titik temu empat kecamatan—Prambon, Balongbendo, Tarik, dan Krian—membuat sekolah ini menjadi magnet bagi warga di perbatasan Sidoarjo Barat.

Dalam kesempatan itu, berbagai sekolah mengirimkan delegasi terbaiknya, mulai dari TKIT Lumatun, TKIT Gedang Rowo, hingga TK Dharma Wanita Persatuan Bendotretek. Para peserta berkompetisi dalam lomba mewarnai bertema Islami dan hafalan surat-surat pendek Al-Qur’an. Meski sederhana, kegiatan ini menjadi langkah awal menanamkan kecintaan pada nilai-nilai agama sejak dini.

Kemudian, Anang Ma’ruf, yang juga terkenal sebagai tokoh aktivis reformasi ’98 dan mantan anggota DPRD Sidoarjo, menutup acara dengan pesan mendalam. Ia menekankan, momentum Isra Mikraj harus menjadi pijakan untuk meneladani Rasulullah.

“Kegiatan ini adalah investasi masa depan. Kami ingin anak-anak ini tumbuh dengan karakter yang kuat, sebagaimana cita-cita Sunan Giri dahulu,” pungkasnya.

Alhasil, jejak itu kini nyata. Di pinggir Kali Prayogo, semangat Ainul Yaqin tidak hanya berhenti pada nama, tetapi hidup dalam tawa anak-anak yang belajar mengenal Tuhannya. (*)

Baca Juga:  Ada Perumpamaan Helikopter di Parenting SD Muhammadiyah 4 Zamzam

Jurnalis Dwi Hilana Yesika Penyunting Sayyidah Nuriyah