Feature

Rumah Retak di Balik Keputusan Baru

48
×

Rumah Retak di Balik Keputusan Baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di pesisir yang baru pulih dari kerusuhan, seorang mantan pejabat meratakan rumahnya sendiri. Warga hanya melihat puing, tapi di bawah lantai yang retak tersembunyi rahasia yang jauh lebih berbahaya.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di sebuah kawasan pesisir yang sedang memulihkan diri dari kerusuhan besar, seorang anggota dewan nonaktif bernama Rangga Dirgantara berdiri di depan rumahnya yang telah hancur dan menyisakan tulang-tulang beton yang rapuh.

Ia membuat keputusan yang mengejutkan banyak orang: merobohkan seluruh bangunan itu dengan tangannya sendiri. Namun di balik keputusan itu tersembunyi kisah yang jauh lebih gelap daripada yang tampak di permukaan.

Baca juga: Bayi-Bayi yang Mewarisi Takdir Negeri

Rangga berdiri di depan pagar besi yang sudah melengkung seperti pita mainan yang dipaksa bengkok. Sisa-sisa kerusuhan beberapa minggu lalu masih terasa di udara: bau hangus bercampur lumpur, mural spontan yang menuntut perubahan, dan tatapan warga yang masih waspada setiap ada suara keras di kejauhan.

Meski petugas keamanan sudah lama berpindah pos, rasa takut belum benar-benar meninggalkan Tanjung Layar—kawasan yang dulu tenang sebelum malam itu mengubah semuanya.

Bagi Rangga, rumah itu bukan sekadar bangunan. Itu simbol perjalanan hidupnya dari anak pelabuhan miskin hingga duduk di kursi kekuasaan. Ironisnya, di titik itu pula rumah tersebut menjadi target amarah.

Massa yang terpicu isu yang tak sepenuhnya benar merangsek seperti gelombang pasang tak terbendung. Dalam hitungan jam, lantai rumah luluh lantak, kaca pecah berserakan, dan dinding putih bersih berubah seperti kulit luka.

Pagi itu, ketika matahari memanjat dari balik kontainer pelabuhan, Rangga memanggil empat tukang yang sedang duduk di tepi jalan. Para tukang menatapnya, menunggu perintah: memperbaiki, memperkuat fondasi, atau membersihkan puing. Namun Rangga menunjuk seluruh bangunan dengan gerakan pelan dan tegas.

Baca Juga:  Curhat Hanya kepada Allah

“Ratakan,” katanya.

“Semua, Pak?” tanya salah satu tukang, seorang pria tua yang menutup kepalanya dengan sarung dari angin laut.

“Semua,” ulang Rangga.

Sejak saat itu, suara palu godam mengisi udara. Namun suara yang paling mengganggu justru suara rumah itu sendiri—semacam erangan panjang dari beton yang menyerah, seperti makhluk besar yang kehilangan napas. Rangga menyaksikan semuanya sambil menggenggam rokok yang tak ia nyalakan.

Satu hal mencolok: tidak ada kesedihan di matanya. Hanya ketegangan halus, seperti seseorang yang menyaksikan sesuatu yang harus ia tuntaskan.

Di antara bunyi palu, sosok perempuan berjalan mendekat. Rambutnya terikat sederhana, langkahnya tenang meski wajahnya menyimpan kegelisahan. Savana, sahabat lama Rangga yang kini menjadi relawan trauma healing.

“Apa benar ini satu-satunya cara?” tanya Savana, berdiri di sampingnya.

“Rumah ini tidak aman. Retaknya terlalu banyak. Beton dasarnya rusak. Sekalipun diperbaiki, ia tak akan kembali seperti semula.”

“Aku tanya alasan sebenarnya,” ucap Savana lebih pelan.

Rangga memandangi sisa dinding yang tinggal sepertiga tinggi tubuhnya. Dari lubang besar itu ia dapat melihat kamar tempat ia dulu menulis pidato pertama. Kini lantainya bolong, kayunya hangus, dan di sudutnya ada bekas cat semprot bertuliskan “Jatuhlah”. Sebuah tulisan yang, entah mengapa, selalu membuat dadanya sesak.

“Kadang,” jawab Rangga, “untuk membangun sesuatu yang lebih kuat, kita harus merobohkan semuanya dulu.”

“Termasuk kenangan?”

Rangga menelan ludah. “Termasuk itu.”

Savana menatapnya lama, seolah ingin membaca sesuatu yang tak diucapkan. Sejak beberapa hari terakhir ia melihat hal-hal kecil yang janggal—bayangan orang asing yang berdiri terlalu lama di ujung gang, selembar kertas sobek tanpa identitas tertinggal di pagar rumah Rangga. Namun ia belum berani menyimpulkannya.

Hari berganti hari. Struktur rumah itu semakin rendah, seperti tubuh raksasa yang perlahan sujud ke bumi. Warga berhenti menonton sesekali—sebagian bersimpati, sebagian masih menyimpan prasangka. Tak ada yang tahu cerita lengkap di balik robohnya rumah itu. Setidaknya belum.

Baca Juga:  Hijab atau Kafan: Aurat dan Pilihan Waktu

Hingga suatu malam, ketika hanya cahaya bulan menerangi area itu, Rangga kembali. Ia membawa senter dan berhenti di depan ruang belakang yang sejak kerusuhan tak disentuh siapa pun. Semak tumbuh liar, tetapi Rangga tahu apa yang ia cari.

Ia jongkok, meraba lantai yang masih utuh, lalu mendorong potongan ubin persegi. Lantai terangkat pelan, memperlihatkan ruang kecil di bawahnya. Sebuah kotak logam muncul.

Saat ia hampir mengangkat kotak itu, suara langkah terdengar. Sinar senter menyapu wajahnya. Savana berdiri di sana.

“Apa itu?” tanyanya, nadanya tajam namun tak meledak—lebih seperti seseorang yang sudah menduga tetapi tidak ingin benar.

Rangga terdiam. Menutupnya percuma. Menjelaskannya berisiko. Namun ia akhirnya mengangkat kotak itu.

Di dalamnya ada berkas-berkas berlapis plastik kedap air: tanda tangan, bukti transaksi, rangkaian nama yang dulu memojokkan banyak warga. Dokumen rahasia yang dipakai lawan politik tertentu untuk menekan orang-orang tak bersalah—dan kini, tanpa ia sengaja, ikut menyeret dirinya.

Savana menghembuskan napas pendek. “Jadi ini?”

“Kalau rumah ini tetap berdiri, suatu hari kotak ini bisa ditemukan orang lain. Dan jika itu terjadi, banyak hidup akan lebih hancur daripada bangunan ini.”

“Kamu bisa menyerahkannya pada pihak berwenang.”

“Aku bisa,” jawab Rangga. “Tapi apakah kamu percaya pihak mana pun akan sungguh mengamankannya? Ada terlalu banyak nama besar di sini, Van. Terlalu banyak yang akan melakukan apa pun untuk menghapus jejaknya.”

Savana menunduk. Ada amarah di matanya, ada kegetiran, ada ketakutan—dan ada sesuatu yang lebih pribadi: kelelahan melihat orang yang ia pedulikan terjebak pusaran yang lebih besar daripada dirinya.

“Apa rencanamu?” tanyanya lirih.

Rangga menutup kotak itu rapat-rapat. Ia berdiri dan memandang rumahnya yang hampir rata tanah—rumah yang dulu melindungi, kini menyimpan bahaya.

Baca Juga:  Waktu Mustajab Hari Jumat

“Aku akan menguburnya. Rumah baru akan dibangun di atasnya. Tidak ada yang akan tahu.”

Savana hendak menjawab, tetapi angin laut membawa suara lain.

Tepuk tangan.

Mereka menoleh. Seorang pria berdiri di bayang-bayang, tubuhnya tegap, wajahnya tersembunyi di balik topi gelap. Savana menyadari—dialah pria yang pernah ia lihat sekilas di ujung gang beberapa hari lalu.

“Bagus,” katanya dengan senyum miring. “Kalian bekerja keras merobohkan bukti-bukti itu. Sayangnya, kalian lupa satu hal.”

Rangga menegang. “Siapa kamu?”

Pria itu tertawa pelan. “Seseorang yang sangat senang melihat rumah ini rata tanah. Karena semua dokumen yang kamu sembunyikan…” Ia menunjuk kotak Rangga. “…sudah kusalin jauh sebelum kerusuhan terjadi.”

Rangga membeku.

“Kamu pikir rumahmu diserang karena rumor?” pria itu mendekat. “Tidak. Aku yang memulai semuanya.”

Savana menutup mulut, terkejut.

“Dan terima kasih,” lanjut pria itu, “kini tak ada yang akan percaya bahwa ada dokumen disembunyikan di tempat yang sudah jadi puing.”

Ia berbalik pergi, menghilang ke dalam gelap.

Rangga ingin mengejarnya, tetapi lututnya seperti membatu. Rumah itu ternyata bukan runtuh hanya karena massa—melainkan karena seseorang telah merencanakannya sejak awal.

Savana menggenggam lengannya. “Kita harus lapor. Kita masih bisa—”

Rangga menatap puing rumahnya: gelap, kosong, sunyi. Batu-batu pecah berkilau oleh cahaya bulan, seperti serpihan keputusan-keputusan yang dulu ia kira benar.

“Tidak,” bisiknya. “Pertarungannya baru dimulai. Tapi bukan di sini.”

Di bawah langit pesisir yang kelabu, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih mengejutkan daripada rumahnya yang hancur:

Ia bukan lagi korban.

Ia baru saja melangkah ke medan perang yang pintunya tanpa sadar ia buka sendiri. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni