Telaah

Waktu Mustajab Hari Jumat

74
×

Waktu Mustajab Hari Jumat

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Di penghujung hari Jumat terdapat satu waktu ketika doa tidak tertolak. Sayangnya, banyak orang melewatinya begitu saja karena kesibukan dunia.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Tagar.co – Hari Jumat menyimpan rahasia waktu mustajab yang sering dilupakan manusia. Padahal, pada saat itulah pintu langit terbuka lebar bagi hamba yang bersungguh-sungguh berdoa dengan hati tunduk dan penuh harap.

Tulisan ini mengajak kita merenungi keutamaan doa pada penghujung hari Jumat agar iman semakin hidup dan jiwa kian dekat kepada Allah Yang Maha Mendengar setiap bisikan doa hamba di segala keadaan.

Baca juga: Mengapa Salat Wanita di Rumah Lebih Utama? Ini Penjelasan Syariat

Hari Jumat bukan sekadar pergantian hari dalam kalender pekanan. Ia adalah hari yang dimuliakan, hari yang di dalamnya terdapat satu waktu istimewa ketika doa seorang hamba tidak tertolak.

Banyak ulama berpendapat bahwa saat itu berada di penghujung hari Jumat, yakni setelah salat Asar hingga menjelang Magrib. Waktu ini sering terlewat karena manusia sibuk dengan urusan dunia, padahal ia adalah peluang emas untuk mengetuk pintu rahmat Allah dengan doa yang tulus.

Baca Juga:  Dua Kunci Ketenangan: Rida dan Memaafkan

Rasulullah ﷺ yang menjadi teladan seluruh umat bersabda:

«فِيهِ سَاعَةٌ، لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ»

“Di dalamnya terdapat satu waktu. Tidaklah seorang Muslim mendapati waktu itu dalam keadaan berdiri salat lalu ia memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah akan memberinya.” (Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa momentum Jumat adalah undangan ilahi bagi siapa saja yang ingin mendekat.

Allah sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dengan penuh keyakinan. Firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (Ghafir: 60).

Ayat ini bukan sekadar janji, tetapi jaminan yang menuntut kesungguhan. Siapa yang meremehkan doa, sesungguhnya ia sedang menutup pintu pertolongan bagi dirinya sendiri.

Di antara doa yang sangat lengkap dan diajarkan untuk dipanjatkan adalah doa berikut:

اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، وَمَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ مِمَّا سَأَلَكَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِمَّا تَعَوَّذَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، وَمَا قَضَيْتَ لِيْ مِنْ قَضَاءٍ فَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا

Baca Juga:  Makna Idulfitri dan Kemenangan Jiwa

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seluruh kebaikan, yang segera maupun yang akan datang, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari seluruh keburukan, yang segera maupun yang akan datang, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Aku memohon kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kepadanya berupa ucapan dan amal.

Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan kepadanya berupa ucapan dan amal. Aku memohon kepada-Mu apa yang dimohon oleh Nabi Muhammad ﷺ, dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang beliau mohon perlindungan darinya. Apa pun yang Engkau takdirkan untukku, jadikanlah akhirnya sebagai kebaikan.” (Al-Hakim, disahihkan oleh Al-Albani).

Perhatikan betapa luas cakupan doa ini. Ia tidak hanya meminta kebaikan yang kita pahami, tetapi juga yang belum kita sadari. Inilah adab seorang hamba yang rendah hati di hadapan Rabb-nya. Kita sering kali merasa tahu apa yang terbaik, padahal ilmu manusia sangat terbatas. Dengan doa ini, seorang mukmin menyerahkan pilihan terbaik kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Baca Juga:  Catatan Kecil di Dompet Arman

Waktu setelah Asar pada hari Jumat seharusnya diisi dengan suasana khusyuk: memperbanyak dzikir, membaca selawat, dan mengulang doa-doa yang diajarkan. Tidak harus di masjid; di rumah, di perjalanan, bahkan di tempat kerja pun seorang hamba tetap bisa menengadahkan hati kepada Allah. Yang terpenting bukan tempatnya, tetapi hadirnya rasa butuh dan harap dalam jiwa.

Orang-orang saleh dahulu sangat menjaga waktu ini. Mereka menahan diri dari kesibukan yang tidak perlu, lalu duduk dengan tenang menunggu Magrib sambil berdoa. Mereka yakin bahwa tidak ada doa yang sia-sia. Jika tidak dikabulkan saat itu juga, Allah menyimpannya sebagai kebaikan yang lebih besar di masa depan atau di akhirat kelak.

Semoga kita termasuk hamba yang diberi taufik untuk menghidupkan penghujung hari Jumat dengan doa yang tulus. Hafalkan doa yang agung ini, amalkan dengan hati yang hadir, dan ajarkan kepada keluarga serta sahabat. Mudah-mudahan setiap Jumat menjadi tangga yang mengangkat derajat kita di sisi Allah. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni