Ribuan Jemaah Padati Pengajian Milad Muhammadiyah di Turen: Saadah Jadi Pesan Utama
Sebarkan artikel ini
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang, Dr. H. M. Nurul Humaidi, M.Ag., memberikan tausiah dalam Pengajian Daerah Dua Bulanan yang dirangkaikan dengan Milad Ke-113 Muhammadiyah di Pendopo Wironagoro, Komplek Produksi dan Pemasaran Keripik Lumba-Lumba Turen, Ahad (30/11/2025). (Tagar.co/Miftahul Nafik)
Suasana meriah dan religius menyelimuti Pendopo Wironagoro. Dalam tausiahnya, Ketua PDM Kabupaten Malang Nurul Humaidi menekankan pentingnya kebahagiaan holistik sebagai arah perjuangan dakwah Muhammadiyah.
Tagar.co — Pagi ini, Ahad (30/11/2025), Pendopo Wironagoro di Komplek Produksi dan Pemasaran Keripik Lumba-Lumba Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tampak berubah menjadi ‘lautan’ manusia.
Sejak matahari terbit, jemaah dari berbagai penjuru Kabupaten Malang terus berdatangan mengikuti pengajian dua bulanan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang yang dirangkaikan dengan peringatan Milad Ke-113 Muhammadiyah.
Sekitar 3.500 jemaah memadati area pendopo. Barisan peserta mengalir hingga ke lapangan terbuka. Suasana meriah dan religius berpadu.
Di halaman, ratusan kendaraan berderet rapat—sepeda motor, mobil keluarga, minibus, bus rombongan, hingga kereta kelinci yang sengaja disewa warga untuk mengantar jamaah dari desa-desa sekitar.
Di tengah suasana yang ramai namun tertib itu, Ketua PDM Kabupaten Malang, Dr. H. M. Nurul Humaidi, M.Ag., membuka acara dengan rasa syukur mendalam. Ia menegaskan bahwa usia 113 tahun adalah capaian monumental yang menunjukkan keteguhan Muhammadiyah dalam membangun umat, bangsa, dan peradaban.
Dalam sambutannya, Humaidi menyampaikan tiga pilar yang menurutnya menjadi alasan Muhammadiyah tetap kuat dan relevan di tengah derasnya perubahan zaman. Dengan suara tenang namun mantap, ia mengajak jemaah menengok kembali fondasi perjuangan perserikatan.
Yang pertama adalah keikhlasan dalam perjuangan, sebuah karakter dasar yang menurutnya membuat gerakan ini tidak gampang goyah.
Pilar kedua adalah filantropi berlandaskan spirit Al-Ma’un, yang sejak awal telah menjadi napas kedermawanan warga Muhammadiyah.
Sementara pilar ketiga adalah gerakan amal saleh sebagaimana pesan Surah Al-‘Ashr, yang mengarahkan setiap langkah dakwah pada kerja nyata dan kebermanfaatan.
Humaidi kemudian mengingatkan jemaah pada ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Ia menggambarkan bagaimana Kiai Dahlan membimbing murid-muridnya memahami Al-Ma’un secara mendalam—selama tiga bulan penuh—hingga ayat-ayat itu benar-benar merasuk menjadi tindakan sosial.
“Al-Ma’un yang diajarkan Kiai Dahlan selama tiga bulan itu menanamkan jiwa kedermawanan warga Muhammadiyah. Sementara Al-‘Ashr menggerakkan amal usaha agar setiap karya unggul dan memberi manfaat,” ujarnya, disambut anggukan dari barisan jemaah yang menyimak dengan khidmat.
Memasuki bagian inti tausiahnya, Humaidi mengajak jemaah merenungkan kembali makna kesejahteraan dalam tema Memajukan Kesejahteraan Bangsa. Ia menjelaskan dengan nada yang tenang namun kuat, bahwa kesejahteraan yang ingin diwujudkan Muhammadiyah bukan sekadar soal terpenuhinya kebutuhan materi, melainkan kebahagiaan yang utuh—kebahagiaan yang membuat hidup terasa lapang, jiwa tenang, dan langkah manusia terarah.
Ia kemudian mengutip doa masyhur dalam Al-Qur’an: Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wakina azabannar. Dalam berbagai tafsir, kata hasanah dimaknai sebagai as-saadah, yakni kebahagiaan yang meliputi dua dimensi: dunia dan akhirat.
Humaidi menggambarkan bahwa kebahagiaan dunia terwujud ketika seseorang diberi kelapangan rezeki sehingga hidupnya tidak dibayangi kecemasan, dianugerahi tubuh yang sehat sebagai modal untuk berkarya dan beribadah, serta memiliki keluarga yang sakinah, tempat bernaung yang menghadirkan keteduhan.
Sementara kebahagiaan akhirat tercermin pada rasa aman saat manusia kelak memasuki surga, dijauhkan dari azab neraka, dan meraih rahmat serta rida Allah Swt—puncak kebahagiaan sejati yang tidak tertandingi.
Dengan suara yang sedikit mengeras, ia menegaskan bahwa inilah tujuan besar dakwah Muhammadiyah: mengantarkan umat dan bangsa ini menuju kesejahteraan yang tidak hanya mengukur keberhasilan di dunia, tetapi juga menyiapkan kebahagiaan yang abadi.
“Inilah yang kita perjuangkan bersama,” ujarnya, disambut anggukan jamaah yang menyimak dengan khusyuk.
Komitmen Menebar Manfaat
Dalam rangkaian acara, PDM Kabupaten Malang juga memberikan penghargaan kepada PT Sinar Dirgantara Perkasa (SDP), perusahaan pakan ternak dan pengolahan susu di Pandesari, Pujon. Perusahaan ini dinilai berhasil menjalankan bisnis secara profesional dan memberikan manfaat ekonomi bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar.
Penghargaan ini menjadi wujud sinergi Muhammadiyah dengan pelaku usaha lokal untuk menumbuhkan dampak sosial yang lebih luas.
Peringatan Milad Ke-113 Muhammadiyah di Kabupaten Malang pun menjadi pengingat bahwa dakwah berkemajuan harus terus bergerak, menghadirkan kesejahteraan sekaligus kebahagiaan yang menyentuh kehidupan umat secara nyata. (#)
Jurnalis Nurul Hidayah Penyunting Mohammad Nurfatoni