
Pengajian Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang di Dau menjadi momentum meneguhkan ukhuah Islamiah, saat Muhammadiyah menyampaikan tahniah satu abad NU sekaligus menguatkan pesan persatuan umat.
Tagar.co – Ahad pagi (1/2/2026), Dau tak sekadar menjadi titik temu ribuan warga. Ia menjelma ruang perjumpaan iman, akal, dan nurani. Dari lantunan ayat suci hingga pesan tentang keluarga, lingkungan, dan persatuan umat, Pengajian Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang menghadirkan dakwah yang membumi dan menyentuh.
Kegiatan ini digelar di area parkir kompleks wisata kuliner Warung Tani Dau, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Baca juga: Pengajian Daerah Ungkap Kemajuan PDM Kabupaten Malang
Suasana khidmat itu nyaris tak terbayang sehari sebelumnya. Sejak Sabtu pagi hingga petang, hujan deras mengguyur lokasi tanpa jeda. Lapangan yang disiapkan panitia berubah becek, genangan air muncul di beberapa titik, dan kegelisahan menyelimuti persiapan. Dengan perkiraan jemaah yang membeludak, kondisi tanah basah berpotensi mengganggu kenyamanan bahkan keselamatan.
Namun ikhtiar tak surut. Tenda terop dirapikan, kursi disusun ulang, koordinasi dipererat. Panggung dengan videotron raksasa telah terpasang, perangkat gamelan tertata rapi di sisi panggung. Di sela kesibukan, panitia hanya bisa berharap cuaca memberi kelonggaran.
Harapan itu terjawab. Sejak Ahad pagi, langit Dau cerah. Jemaah berdatangan dan terus bertambah. Kecemasan panitia berubah menjadi kelegaan—bahkan antusiasme warga melampaui perkiraan. Mobil angkut beberapa kali keluar-masuk membawa tambahan kursi.
Kursi-kursi itu segera terisi, lalu habis. Sebagian jamaah memilih duduk di area terbuka, di pinggir lapangan, bahkan di luar lokasi utama. Ada yang mengikuti pengajian sambil berdiri, ada pula yang bertahan dari kejauhan. Keterbatasan tempat tak menyurutkan langkah menuju majelis ilmu.

Peduli Lingkungan dan Kelestarian Alam
Tema pengajian terasa dekat dengan realitas: Peduli Lingkungan dan Kelestarian Alam. Banjir dan longsor yang melanda sejumlah daerah menjadi cermin sekaligus peringatan. Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dau, Sukmajaya, menegaskan bahwa bencana bukan semata takdir, melainkan juga buah kebijakan yang abai pada ilmu dan etika lingkungan.
“Menjaga bumi, hutan, dan air bukan hanya urusan sosial, tetapi bagian dari akidah. Merusak lingkungan sama artinya mengkhianati amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.
Komitmen itu ditegaskan melalui penyerahan bibit pohon dari Universitas Muhammadiyah Malang kepada Majelis Lingkungan Hidup PCM Dau—isyarat bahwa dakwah tak berhenti di mimbar, tetapi menjejak tanah dan bertumbuh bersama alam.

Meneguhkan Persatuan Umat
Pengajian ini juga menjadi ruang refleksi persatuan. Ketua PDM Kabupaten Malang, Muhammad Nurul Humaidi, menekankan pentingnya ukhuah antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Momentum pengajian bertepatan dengan sehari setelah peringatan Harlah Ke-100 NU.
Menurut kalender Masehi NU berusia 100 tahun karena lahir pada 31 Januari 2026. Sedangkan menurut kalender Hijriah, NU lahir pada 16 Rajab 1344 atau kini sudah berusia 103 tahun.
Dari mimbar, Humaidi menyampaikan ucapan selamat sekaligus refleksi hubungan historis kedua ormas. Ia menyebut NU sebagai saudara dekat Muhammadiyah—bahkan “adik kandung”—karena para pendirinya berguru pada sosok yang sama dan bertolak dari spirit keilmuan serupa dalam mengembangkan dakwah amar makruf nahi mungkar.
“Atas nama warga Muhammadiyah Kabupaten Malang, kami menyampaikan selamat tahniah atas Harlah Ke-100 NU. Semoga NU terus merekatkan persatuan umat. Muhammadiyah akan selalu bergandeng tangan mengisi ruang-ruang republik ini untuk mengembangkan sumber daya manusia, memajukan peradaban, dan memajukan Indonesia,” ujarnya.

Rumah yang Hidup oleh Al-Qur’an
Puncak pengajian diisi tausiah Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas. Dengan gaya cair dan komunikatif, ia mengajak jemaah memasuki ruang yang paling intim: rumah dan keluarga. Ia berbicara tentang suara—musik, kata-kata, dan lantunan Al-Qur’an—serta pengaruhnya bagi jiwa manusia.
“Rumah yang baik bukan dilihat dari indahnya bangunan, tetapi dari seberapa sering ayat-ayat Allah dikumandangkan di dalamnya. Jika Al-Qur’an hidup di rumah, ketenangan akan menyertainya,” tuturnya.
Ia menegaskan, kekuatan umat bermula dari keluarga. Ketika suami, istri, dan anak saling menjaga diri, lahirlah rumah tangga sakinah. Dari keluarga-keluarga itulah masyarakat yang tangguh dibangun.
Pengajian Dau hari itu akhirnya tak sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang perjumpaan antara ikhtiar dan doa—antara langit yang sempat muram dan bumi yang kembali penuh harap. Dari Dau, dakwah berkemajuan menemukan wujudnya: menyentuh manusia, merawat alam, dan meneguhkan persatuan umat. (#)
Jurnalis Nurul Hidayah Penyunting Mohammad Nurfatoni












