FeatureUtama

Tujuh Sikap Muhammadiyah untuk Krisis Timur Tengah

158
×

Tujuh Sikap Muhammadiyah untuk Krisis Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Asap membubung akibat serangan udara Israel di Dahiyeh, kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon. (Hassan Ammar/AP Photo via aljazeerah.com)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan tujuh poin sikap atas eskalasi konflik Timur Tengah, mulai dari kecaman keras hingga desakan diplomasi global.

Tagar.co — Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan keprihatinan mendalam atas perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.

Melalui Surat Pernyataan Nomor 16/PER/I.0/B/2026, Muhammadiyah merumuskan sikap resmi menyikapi eskalasi kekerasan yang dinilai berpotensi memperluas instabilitas kawasan.

Pernyataan sikap yang ditetapkan di Yogyakarta pada 13 Ramadan 1447 bertepatan dengan 2 Maret 2026 ini ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni bersama Sekretaris Muhammad Sayuti.

Surat Pernyataan PP Muhammadiyah tentang Konflik di Timur Tengah

Dalam salinan dokumen yang diterima Tagar.co, Muhammadiyah menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban jiwa.

“Kami menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa atas meninggalnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan korban lainnya yang menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel ke Republik Islam Iran,” tulis pernyataan tersebut.

Belasungkawa serupa juga disampaikan kepada para korban akibat serangan balasan Iran di sejumlah negara Arab.

Baca Juga:  Perang Salib Gaya Amerika

Seiring dengan itu, Muhammadiyah melontarkan kecaman keras atas rangkaian serangan tersebut. Organisasi ini menilai tindakan militer tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, hukum internasional, sekaligus pengabaian terhadap keputusan-keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Kami mengecam dengan sangat serangan tersebut …,” tegasnya.

Baca juga: MUI Berduka atas Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei, Kutuk Serangan Israel–AS

Atas dasar penilaian tersebut, Muhammadiyah mendesak PBB mengambil langkah konkret dengan menjatuhkan sanksi tegas kepada Amerika Serikat dan Israel. Dalam dokumen itu dinyatakan, “Kami menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan sanksi tegas … dan mewujudkannya dengan langkah yang nyata.”

Perhatian Muhammadiyah juga tertuju pada situasi kemanusiaan di Palestina. Organisasi ini mendorong PBB bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengakhiri genosida terhadap bangsa Palestina, menghentikan kekerasan, serta mencegah meningkatnya ketegangan antarnegara di kawasan Timur Tengah.

Dalam konteks regional, Muhammadiyah mengingatkan pentingnya pengendalian diri. “Iran maupun negara-negara Arab saling menahan diri dan mengedepankan dialog untuk tidak terlibat konflik lebih jauh antar sesama anggota Organisasi Kerjasama Islam,” demikian pernyataan tersebut.

Baca Juga:  Momentum Indonesia Keluar dari Perdamaian Palsu 'Board of Peace'

Muhammadiyah selanjutnya menegaskan bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog dan jalur diplomasi. Pendekatan damai dinilai sebagai opsi paling rasional untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan.

Pada bagian akhir, Muhammadiyah mengajak semua negara, lembaga multilateral dan bilateral, tokoh agama, serta kekuatan masyarakat sipil untuk berperan aktif menciptakan perdamaian dan keadilan global, sekaligus mengecam setiap tindakan sewenang-wenang yang berpotensi merusak dan menghancurkan peradaban manusia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni