Saat sebagian sibuk mengklaim kebenaran, Muhammadiyah justru membuka diri untuk diuji. Sebuah langkah yang tidak mudah, tetapi penting bagi masa depan umat.
Oleh Angga Adi Prasetya, M.Pd.
Tagar.co – Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik umat Islam di Indonesia diwarnai pernyataan yang berpotensi memecah belah. Sebagian pihak, bahkan tokoh yang seharusnya menjadi teladan, menyampaikan pandangan normatif yang terkesan menyempitkan.
Misalnya, mengharamkan mengikuti atau mengumumkan selain keputusan pemerintah dalam penentuan awal bulan Hijriah dan hari raya Idulfitri.
Baca juga: Hisab, Rukyat, dan KHGT
Terlepas dari maksudnya, narasi semacam ini membingungkan masyarakat. Alih-alih meneduhkan, justru memantik kegelisahan. Muncul pertanyaan: apakah perbedaan ijtihad harus berujung pada pelabelan benar-salah secara mutlak?
Di sisi lain, muncul pula berbagai asumsi liar tentang Muhammadiyah, terutama terkait Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Banyak tudingan tidak disertai pemahaman utuh. Akibatnya, diskursus yang seharusnya sehat justru terjebak prasangka.
Dalam konteks ini, pernyataan Prof. Haedar Nashir menjadi penting. Selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia menegaskan keterbukaan untuk berdialog tentang kalender Hijriah global tunggal. Sikap ini bukan hal biasa. Ini menunjukkan kedewasaan intelektual dan keberanian moral.
Bahkan, ada kesiapan untuk mengakui kelemahan, menerima kritik, dan memperbarui metode. Pernyataan tentang kemungkinan “menghilangkan nama Muhammadiyah” juga muncul. Ini bukan soal simbol. Ini tentang peran dan kemaslahatan.
Sejak awal, Muhammadiyah tidak asing dengan perubahan. Organisasi ini sering menjadi pelopor pembaruan berbasis ilmu pengetahuan. Contohnya, pelurusan arah kiblat oleh K.H. Ahmad Dahlan. Langkah ini dulu menuai kritik. Namun, kemudian terbukti memperkuat praktik ibadah umat.
Hal serupa terjadi dalam pendidikan Al-Qur’an. Metode Iqra karya K.H. As’ad Humam membawa perubahan besar. Pembelajaran menjadi lebih sistematis dan mudah diakses. Kini, metode tersebut digunakan luas di TPA.
Ini menunjukkan satu hal: inovasi yang tepat justru memperluas kemaslahatan. Karena itu, perubahan dalam Muhammadiyah bukan hal insidental. Ia adalah bagian dari DNA gerakan.
Keterbukaan terhadap evaluasi KHGT harus dibaca dalam kerangka ini. Ini bukan inkonsistensi. Ini kelanjutan tradisi tajdid.
Selama ini, perbedaan awal bulan Hijriah sering memecah umat. Di era global, hal ini terasa janggal. Umat yang mengusung persatuan justru berbeda dalam penanda waktu ibadah.
Gagasan kalender Hijriah global tunggal hadir sebagai solusi. Ia menawarkan pendekatan ilmiah dan kolektif. Namun, jalannya tidak mudah. Dibutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati.
Dalam hal ini, Muhammadiyah memberi contoh. Otoritas keilmuan tidak berarti kaku. Justru sah ketika terbuka untuk diuji dan dikritik.
Kita juga perlu sadar: metode bukan sesuatu yang mutlak. Ia hasil ijtihad manusia. Ia terikat ruang dan waktu. Jika tidak lagi relevan, maka perlu diperbarui. Itu bukan pengkhianatan, melainkan keniscayaan.
Pernyataan tentang “menghilangkan nama Muhammadiyah” harus dipahami secara substantif. Ini bukan soal pembubaran. Ini penegasan bahwa identitas bukan tujuan akhir. Yang utama adalah misi peradaban.
Dalam sejarah Islam, kemajuan lahir dari keterbukaan. Para ulama terbiasa berbeda pendapat. Mereka saling mengoreksi. Bahkan berani mengubah pandangan jika menemukan argumen lebih kuat.
Tradisi inilah yang perlu dihidupkan kembali. Dialog, bukan dominasi. Pencarian kebenaran, bukan klaim sepihak.
Karena itu, ajakan dialog tentang KHGT harus disambut bersama. Tidak hanya oleh organisasi Islam, tetapi juga akademisi dan ahli astronomi. Ini bukan sekadar soal kalender. Ini bagian dari pembangunan peradaban Islam yang lebih terintegrasi dan rasional.
Akhirnya, pertanyaannya bukan apakah Muhammadiyah akan berubah. Pertanyaannya: apakah kita siap berubah?
Peradaban tidak dibangun oleh mereka yang merasa paling benar. Peradaban dibangun oleh mereka yang terus belajar dan memperbaiki diri.
Di titik ini, kita belajar satu hal. Yang terpenting bukan nama, melainkan peran. Dan peran akan selalu relevan jika berpihak pada kemajuan, persatuan, dan kemaslahatan umat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni













