Feature

Lelah tanpa Bekerja: Jebakan Scroll di Era Digital

74
×

Lelah tanpa Bekerja: Jebakan Scroll di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kita merasa sibuk sepanjang hari, tetapi pekerjaan tak kunjung selesai. Diam secara fisik, namun pikiran terkuras oleh arus konten yang tak ada habisnya.

Oleh Angga Adi Prasetya, M.Pd; Guru SD Muhammadiyah 1 Kota Malang

Tagar.co – Setiap hari banyak orang mengalami keluhan yang sama: lelah. Namun, ketika ditanya apa yang benar-benar telah dikerjakan hari itu, jawabannya sering kali menggantung. Tugas belum selesai, pekerjaan masih menumpuk, tetapi energi terasa habis.

Di tengah kondisi ini, ponsel justru menyimpan jawabannya: durasi layar mencapai empat hingga tujuh jam hanya untuk menggulir media sosial. Kita hidup di zaman ketika kelelahan tidak lagi selalu lahir dari kerja keras, tetapi dari terlalu lama menatap layar.

Baca Scroll tanpa Henti, Pikiran kian Kabur

Fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan banyak orang saat ini, dari usia muda hingga tua. Bangun tidur membuka TikTok, jeda sejenak melihat Instagram, lalu malam hari menutup aktivitas dengan video pendek yang seolah tidak ada habisnya.

Baca Juga:  Ketika Guru Kehilangan Perlindungan Moral

Lima menit berubah menjadi satu jam, kemudian tanpa terasa setengah hari berlalu. Tubuh memang tidak banyak bergerak, tetapi pikiran seperti dipaksa terus bekerja.

Di sinilah paradoks era digital bermula: sibuk, tetapi tidak produktif.

Berdasarkan penelitian Welman Bu’ulolo dan Marcel Kurniawati Hulu (2025), media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial membantu akses informasi dan komunikasi akademik.

Namun, di sisi lain, penggunaan berlebihan memicu distraksi, menurunkan fokus belajar, dan meningkatkan kecenderungan menunda pekerjaan. Data ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa sangat lelah, padahal hasil kerja hariannya minim.

Kelelahan yang lahir dari scrolling sebenarnya bukan hal sepele. Setiap video, musik, komentar, dan notifikasi yang muncul di layar merupakan rangsangan baru bagi otak. Informasi datang terlalu cepat, emosi berubah dalam hitungan detik, dan perhatian dipaksa berpindah terus-menerus. Secara fisik kita diam, tetapi secara mental kita terkuras.

Inilah bentuk kelelahan yang paling sunyi di zaman modern.

Lebih jauh, kondisi ini berkaitan erat dengan sedentary lifestyle atau gaya hidup sedentari, yaitu pola hidup dengan aktivitas fisik yang minim. Berdasarkan penelitian M. Rachmat Kasmad (2025), penggunaan media sosial yang intens telah menjadi bagian dari pola hidup sedentari mahasiswa, ditandai dengan durasi duduk atau berbaring yang panjang dalam aktivitas sehari-hari.

Baca Juga:  Bersilaturahmi dengan Perut Bumi

Masalahnya, tubuh manusia tidak dirancang untuk terus diam sambil menerima banjir stimulasi digital.

Akibatnya, rasa lelah datang lebih cepat. Mata terasa berat, kepala penuh, motivasi menurun, bahkan konsentrasi belajar melemah. Menurut hasil penelitian Nahila Iftina Putri (2025), penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat menyebabkan distraksi, penurunan konsentrasi, serta gangguan manajemen waktu pada mahasiswa.

Kita akhirnya merasa sibuk sepanjang hari, padahal yang aktif hanya jempol.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah budaya perbandingan sosial. Media sosial tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperlihatkan pencapaian orang lain tanpa henti: teman yang lolos beasiswa, rekan yang aktif berorganisasi, atau orang lain yang tampak selalu produktif.

Tanpa disadari, kita membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir orang lain. Tekanan psikologis ini membuat kelelahan semakin berlapis.

Persoalannya bukan terletak pada media sosial itu sendiri, melainkan pada hilangnya kesadaran dalam menggunakannya. Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan ruang yang menghabiskan energi tanpa arah.

Produktivitas di era digital bukan hanya soal bekerja lebih lama, tetapi juga keberanian untuk memberi batas. Menaruh ponsel selama satu jam, berjalan kaki beberapa menit, memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak, serta mematikan notifikasi saat belajar mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari langkah kecil itulah energi dan fokus dapat kembali pulih.

Baca Juga:  Final Camp SD Muhammadiyah 1 Kota Malang Bekali Siswa Jelang Kelulusan

Jangan sampai kita terus merasa lelah setiap hari, bukan karena sedang mengejar mimpi, melainkan karena terlalu lama mengejar konten yang tidak pernah selesai. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni