Feature

Bersilaturahmi dengan Perut Bumi

89
×

Bersilaturahmi dengan Perut Bumi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ada saatnya rindu tidak lagi mengetuk pintu rumah, melainkan berdiam di atas tanah sunyi, ditemani doa yang tak pernah kembali sebagai jawaban.

Oleh Angga Adi Prasetya, Guru SD Muhammadiyah 1 Kota Malang

Tagar.co – Hari Raya Idulfitri selalu identik dengan kepulangan. Jalanan penuh kendaraan yang membawa rindu, rumah-rumah kembali ramai oleh tawa keluarga, dan pintu-pintu terbuka untuk saling memaafkan.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada satu perjalanan sunyi yang juga dilakukan banyak orang: perjalanan menuju perut bumi.

Baca juga: Lebaran, Mudik, dan Kerinduan yang Tak Pernah Usai

Mereka datang ke pusara.
Bersilaturahmi dengan tanah yang diam, tempat orang-orang tercinta beristirahat.

Di sana ada ayah yang dulu selalu menunggu di depan rumah.
Ada ibu yang dulu paling sibuk menyiapkan hidangan Lebaran.
Ada saudara, sahabat, bahkan guru yang pernah mengajarkan kita tentang kehidupan.

Kini mereka tidak lagi menyambut kita di ruang tamu.
Tidak ada lagi tangan yang bisa kita genggam untuk bersalaman.
Yang tersisa hanyalah nisan, doa, dan kenangan yang diam-diam menyesakkan.

Baca Juga:  Meluruskan Makna Idulfitri

Di momen Idulfitri seperti inilah kita belajar bahwa rindu tidak selalu menemukan alamatnya di rumah. Kadang, ia harus kita titipkan pada doa, yang kita kirimkan kepada mereka yang telah lebih dahulu pulang kepada Tuhan.

Sebagaimana nasihat Al-Ghazali:

Uzkuril mauta dā’iman, fainna zikral mauti yuḥyil kulūb.”
(Ingatlah kematian selalu, karena mengingat kematian akan menghidupkan hati.)

Karena itu, di tengah kebahagiaan hari kemenangan ini, selipkanlah doa untuk mereka: doa ampunan, doa kasih sayang, dan doa agar Allah melapangkan tempat istirahat mereka di dalam bumi.

Namun, Idulfitri juga mengingatkan kita tentang mereka yang masih hidup.
Orang tua yang masih bisa kita peluk.
Saudara yang masih bisa kita temui.
Keluarga yang masih menunggu kita pulang.

Sebagaimana pesan bijak dari Ali bin Abi Thalib:

Lā tu’akhkhirū al-mawaddata ilā al-ghad, fa rubbamā ya’tī al-ghad wa lā najidu man nuwaddih.”
(Jangan menunda kasih sayang hingga esok hari, karena bisa jadi esok datang, tetapi orang yang kita cintai sudah tiada.)

Baca Juga:  Kalender Hijriah Global Tunggal

Jangan biarkan ego liar merenggangkan hubungan yang seharusnya hangat. Jangan menunda kata maaf, karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu akan hilang.

Jika masih ada keluargamu yang hidup, luangkan waktumu. Duduklah bersama mereka. Dengarkan cerita mereka. Hangatkan suasana Idulfitri dengan pelukan, tawa, dan keikhlasan untuk saling memaafkan.

Sebab suatu hari nanti, bisa jadi kitalah yang berdiri di depan pusara itu, membawa rindu yang terlambat disampaikan.

Dan saat hari itu datang, kita hanya berharap satu hal:
semoga dulu kita tidak terlalu sibuk dengan ego,
hingga lupa mencintai mereka yang masih diberi waktu bersama kita.

Selamat Idulfitri.
Mari pulang dengan hati yang lapang,
merawat yang masih ada,
dan mendoakan yang telah lebih dahulu bersilaturahmi dengan perut bumi.

Allāhummaghfirlahum warḥamhum wakfuanhum. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni