Feature

Muhammadiyah Didirikan Seorang ‘Wali’, K.H. Ahmad Dahlan Bukan Sekadar Ulama Moderat

124
×

Muhammadiyah Didirikan Seorang ‘Wali’, K.H. Ahmad Dahlan Bukan Sekadar Ulama Moderat

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Syamsudin (kanan), menyampaikan pandangan tentang spirit pembaruan, sistem organisasi, dan dimensi spiritual perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dalam silaturahim di Rumah Hamka Malaysia, Batu Caves, Gombak, Malaysia, Rabu (6/5/26) (Tagar.co/Aunillah Ahmad)

Wakil Ketua PWM Jawa Timur Syamsudin menyebut Muhammadiyah didirikan seorang wali. Menurutnya, besarnya pengaruh dan keberlanjutan Muhammadiyah menunjukkan K.H. Ahmad Dahlan bukan sekadar ulama moderat, tetapi sosok dengan kekuatan spiritual dan visi pembaruan besar

Tagar.co — Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr. Syamsudin, M.Ag.m menyampaikan pandangan menarik tentang sosok K.H. Ahmad Dahlan. Menurutnya, Muhammadiyah tidak sekadar didirikan oleh seorang ulama moderat, tetapi oleh sosok yang memiliki kedalaman spiritual dan visi perjuangan yang sangat panjang.

“Muhammadiyah itu didirikan seorang ‘wali’, bukan sekadar ulama moderat. Kalau Muhammadiyah hanya didirikan oleh ulama biasa, mungkin tidak akan sebesar dan bertahan seperti yang kita saksikan hari ini,” ujarnya dalam forum silaturahim yang digelar Pimpinan Cabang Istemewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia di Rumah Hamka (Ruhama), Batu Caves, Gombak, Malaysia, Rabu (6/5/2026) malam.

Menurut Syamsudin, perjalanan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari dimensi doa dan ikhtiar panjang dalam sejarah Islam. Ia mengaitkannya dengan kisah Nabi Ibrahim As. ketika meninggalkan keluarganya di tanah tandus Makkah.

Secara logika, wilayah itu tidak memiliki daya tarik apa pun. Namun melalui doa dan kehendak Allah, tempat tersebut kemudian menjadi pusat kunjungan umat Islam dari seluruh dunia.

Baca Juga:  Tujuh Sikap Muhammadiyah untuk Krisis Timur Tengah

“Doa itu ada yang dikabulkan cepat, sedang, menengah, bahkan sangat panjang prosesnya,” katanya.

Dalam konteks gerakan pembaruan Islam, Syamsuddin juga menyinggung Ahmad Surkati, tokoh reformis pendiri Al-Irsyad yang sama-sama memiliki semangat tajdid atau pembaruan Islam. Namun menurutnya, perkembangan Muhammadiyah menunjukkan karakter yang sangat khas.

Ia menilai Muhammadiyah tumbuh bukan hanya karena figur Ahmad Dahlan, tetapi karena sejak awal dibangun dengan fondasi spiritual, sistem organisasi yang kuat, serta orientasi kemajuan umat.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah perkembangan Muhammadiyah di Jawa Timur. Menurutnya, sering masyarakat mewakafkan tanah, bangunan, maupun aset lainnya kepada Muhammadiyah.

Fenomena itu, kata dia, menunjukkan besarnya kepercayaan publik sekaligus keberkahan perjuangan yang diwariskan Ahmad Dahlan.

Suasana silaturahim dan diskusi bersama Syamsuddin di Rumah Hamka Malaysia, Batu Caves, yang membahas sejarah pembaruan Muhammadiyah, kekuatan sistem organisasi, serta warisan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. (Tagar.co/Aunillah Ahmad)

Dalam pemaparannya, Syamsuddin menjelaskan bahwa Muhammadiyah yang didirikan tahun 1912 memang lahir dari kegelisahan besar terhadap kemunduran umat Islam.

Pertanyaan mendasar yang menjadi ruh gerakan reformis ketika itu adalah:

“Mengapa umat Islam tertinggal, sementara bangsa lain maju?”

Semangat pembaruan itu dibangun di atas konsep ummatan wasathan atau umat pertengahan sebagaimana termaktub dalam Surag Al-Baqarah ayat 143, diperkuat hadis Nabi bahwa “sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan”.

Baca Juga:  Reuni Akbar PCIM–PCIA Malaysia: Merawat Ikatan yang Tak Pernah Putus

Menurutnya, Ahmad Dahlan merupakan ulama dengan jiwa modernis dan sangat adaptif terhadap perubahan. Pada masa kolonial, langkah-langkah pembaruannya bahkan kerap dianggap kontroversial.

Ia memperkenalkan sekolah modern ketika sebagian kalangan masih memandang pendidikan model baru sebagai sesuatu yang menyimpang dari agama. Muhammadiyah juga menjadi pelopor penggunaan bahasa lokal dalam khotbah Jumat agar pesan agama benar-benar dipahami masyarakat.

“Bagaimana jemaah bisa memahami isi khotbah kalau bahasanya tidak dimengerti? Bahkan khatib sendiri belum tentu memahami sepenuhnya apa yang diucapkannya,” ujar Syamsudin.

Selain itu, Muhammadiyah tercatat sebagai pelopor pelaksanaan salat Id di lapangan terbuka pada era kolonial serta melahirkan berbagai fatwa progresif, termasuk pandangan bahwa dana infak masjid dapat dimanfaatkan untuk pendidikan dan kepentingan sosial umat.

Tradisi ijtihad tersebut, lanjutnya, sebenarnya sudah hidup sejak awal Muhammadiyah berdiri. Bahkan sebelum Majelis Tarjih dibentuk pada 1927, Muhammadiyah telah menghasilkan berbagai keputusan hukum dan fatwa keagamaan.

Peserta silaturahim bersama Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Syamsuddin, berfoto usai diskusi mengenai Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern yang bertumpu pada tajdid, moderasi, dan profesionalisme organisasi di Rumah Hamka Malaysia, Rabu (6/5/26)(Tagar.co/Aunillah Ahmad)

Syamsudin menegaskan, kekuatan Muhammadiyah terletak pada sistem organisasi yang tidak bergantung pada karisma individu. Struktur organisasi dibangun secara egaliter tanpa hierarki superior antarmajelis, sementara seluruh unsur organisasi bekerja sebagai unsur pembantu pimpinan (UPP).

Baca Juga:  PCIM Malaysia Luncurkan Visi 2026–2028, Sekolah Internasional dan Dakwah Jadi Prioritas

“Yang kita kuatkan itu adalah sistemnya,” kata Syamsuddin. Ia menegaskan bahwa organisasi yang kuat tidak boleh bergantung pada figur semata, melainkan pada tata kelola dan mekanisme kelembagaan yang berjalan baik.

Meski demikian, ia menilai standar moral seorang pemimpin tetap harus lebih tinggi dibanding anggota yang dipimpin. Menurutnya, hal tersebut merupakan prinsip universal dalam kepemimpinan organisasi.

Karena itu, berbagai keputusan penting—termasuk Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)—dihasilkan melalui mekanisme kolektif organisasi.

Ia juga menyoroti kuatnya budaya profesionalisme Muhammadiyah. Perserikatan disebut tidak bergantung pada bantuan pemerintah dan justru memiliki tingkat kredibilitas tinggi di mata lembaga keuangan.

“Muhammadiyah dianggap bankable,” katanya.

Menurut Syamsudin, Muhammadiyah bahkan diakui sebagai salah satu organisasi dengan administrasi paling rapi di Indonesia karena mengedepankan tata kelola modern dan profesional.

Di akhir pertemuan, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah, tetapi gerakan Islam modern yang bertumpu pada tajdid, moderasi, profesionalisme, dan kemandirian demi kemajuan umat. (#)

Jurnalis Machfud Ifan Husein Penyunting Mohammad Nurfatoniu