
Dipisahkan jarak dan waktu, puluhan kader Muhammadiyah–Aisyiyah kembali berkumpul di Lamongan, merajut ulang kenangan, nilai, dan komitmen dalam satu jiwa yang sama.
Tagar.co — Rindu yang lama terpendam akhirnya terobati dalam Reuni Akbar Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Malaysia.
Mengusung tema “Terpisah Jarak dan Waktu, Tetap Satu Jiwa”, kegiatan ini sukses menghadirkan suasana hangat penuh kekeluargaan pada Jumat, 3 April 2026, di Sunset Resto, WBL Resort, Lamongan, Jawa Timur.
Sebanyaj 70 peserta turut ambil bagian, terdiri dari pimpinan aktif hingga para purnapimpinan PCIM–PCIA, baik yang masih menetap di Malaysia maupun yang telah kembali ke Indonesia. Pertemuan ini menjadi ruang temu lintas generasi yang dipenuhi nostalgia sekaligus semangat kebersamaan.
Sejumlah tokoh turut hadir memeriahkan acara, di antaranya Ali Makhfudh (Anggota DPRD Lamongan), Husnul Aqib (Anggota DPRD Jawa Timur), serta K.H. Ahmad Hasan Al Banna—pimpinan Pondok Pesantren Al-Munawarah sekaligus salah satu pelopor awal PCIM Malaysia.
Kehadiran mereka menambah bobot acara, sekaligus mempererat hubungan emosional dengan para peserta.

Dari Obrolan Santai Menjadi Ajang Silaturahmi Besar
Reuni ini bermula dari gagasan sederhana: ajakan ngopi bareng dan bernostalgia. Namun, berkat antusiasme bersama, inisiatif tersebut berkembang menjadi pertemuan besar yang mempertemukan banyak pihak.
Pembawa acara, H. Ali Fauzi, membuka kegiatan dengan penuh semangat, mengajak seluruh hadirin untuk terus bergerak tanpa menunda.
Ia menegaskan bahwa kekompakan menjadi kunci utama terselenggaranya reuni ini. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk H. Markosim, turut mendorong acara kecil ini tumbuh menjadi momentum besar yang sarat makna.

Pesan Tokoh: Ekonomi, Kebersamaan, dan Nilai Keagamaan
Dalam sambutannya, Ali Makhfudh menyoroti perkembangan ekonomi di daerah asal, khususnya Lamongan. Ia menyampaikan bahwa tingginya angka pendaftaran haji dan pembelian kendaraan menjadi indikator meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Husnul Aqib mengajak hadirin merefleksikan makna pertemuan tersebut. Ia menekankan bahwa kebersamaan yang terjalin bukan sekadar kebetulan, melainkan lahir dari ikatan nilai, akidah, dan perjuangan yang sama.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara nyata, khususnya nilai-nilai dalam Surah Al-Ma’un. Menurutnya, keberagamaan tidak cukup berhenti pada hafalan, tetapi harus tercermin dalam tindakan sosial sehari-hari.

Meneguhkan Makna Hidup Melalui Silaturahmi
Puncak acara diisi dengan tausiah oleh K.H. Ahmad Hasan Al Banna yang membawa suasana semakin khidmat. Dalam pesannya, ia mengajak seluruh hadirin untuk menjaga konsistensi dalam berbuat kebaikan sepanjang hayat.
Ia juga menekankan pentingnya silaturahmi sebagai jalan pembuka rezeki dan keberkahan hidup. Dalam penjelasannya, ia membedakan antara usia dan umur—usia adalah hitungan waktu hidup, sedangkan umur adalah nilai manfaat yang ditinggalkan bagi sesama.
Menurutnya, manusia akan dikenang bukan karena lamanya hidup, melainkan karena kontribusinya dalam memakmurkan kehidupan.
Reuni Akbar PCIM–PCIA Malaysia ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang memperkuat identitas, nilai, dan komitmen kebersamaan.
Dalam suasana penuh kehangatan dan haru, para peserta kembali diingatkan bahwa meski terpisah jarak dan waktu, ikatan persaudaraan tetap terjaga dalam satu jiwa.
Penulis Mundzirin Mukhtar Penyunting Mohammad Nurfatoni












