Feature

Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Sisi Lain Kebersamaan Orang Tua di Pusat Layanan Autis Sidoarjo

44
×

Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus, Ini Sisi Lain Kebersamaan Orang Tua di Pusat Layanan Autis Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), para orang tua punya cara tersendiri untuk menjalin kebersamaan. Saling berbagi makanan dan berbagi cerita sambil antre di di Pusat Layanan Autis Sidoarjo
Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), para orang tua punya cara tersendiri untuk menjalin kebersamaan. Makan bersama dengan menu gado-gado (Tagar.co/Haryanti Estuningdyah)

Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), para orang tua punya cara tersendiri untuk menjalin kebersamaan. Saling berbagi makanan dan berbagi cerita sambil antre di di Pusat Layanan Autis Sidoarjo

Tagar.co – Allah tidak pernah salah dalam menciptakan setiap makhluk-Nya. Begitu pula ketika Allah menitipkan amanah berupa anak berkebutuhan khusus kepada sebuah keluarga. Di balik setiap ujian, selalu ada kekuatan yang perlahan tumbuh, meski sering kali diawali dengan air mata, rasa lelah, dan pertanyaan yang tak mudah dijawab.

Memiliki ABK membutuhkan kesabaran yang lebih besar, ketelatenan tanpa batas, serta hati yang terus belajar ikhlas. ABK memiliki berbagai kondisi. Di antaranya ASD atau Autisme, Down Syndrome, Cerebral Palsy, Speech Delay, dan lainnya. Masing-masing membutuhkan perhatian, terapi berkelanjutan, serta dukungan penuh dari keluarga.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Biaya terapi yang cukup tinggi sering kali menjadi tantangan tersendiri. Terutama bagi keluarga dari kalangan menengah ke bawah. Di tengah kondisi itu, hadirnya layanan terapi gratis menjadi secercah harapan bagi para orang tua.

Baca Juga:  Sambut Ramadan, PRA Rangkah Kidul dan Bluru Tebar Paket Sembako

Terapi ABK Biaya Nol

Di Kabupaten Sidoarjo, terdapat UPTD Pusat Layanan Autis (PLA) yang menjadi tempat pendampingan dan terapi bagi ABK. Dengan biaya nol rupiah, tempat ini menjadi tujuan banyak orang tua untuk membantu tumbuh kembang buah hati mereka.

Meski demikian, tingginya jumlah peserta membuat para orang tua harus bersabar menunggu antrean agar anak mereka bisa mendapatkan layanan terapi.

Setiap hari Senin hingga Jumat, PLA dipenuhi aktivitas terapi yang dibagi dalam beberapa sesi. Para orang tua setia mendampingi anak-anak mereka dengan penuh harap. Bagi mereka, perkembangan sekecil apa pun adalah kebahagiaan yang luar biasa. Sebuah kontak mata, satu kata yang mulai terucap, atau kemampuan sederhana yang berhasil dilakukan anak menjadi hadiah terbesar yang tak ternilai.

Di sela-sela waktu menunggu terapi, para ibu membangun kebersamaan dengan cara sederhana namun penuh makna. Mereka berkumpul sambil membawa makanan dari rumah, seperti yang dilakukan pada Selasa (5/5/2026). Setiap sesi mempunyai caranya masing-masing.

Menu makanan biasanya sudah ditentukan bersama. Melalui grup WhatsApp, mereka saling berbagi tugas siapa membawa makanan apa. Namun menariknya, siapa pun yang belum sempat membawa makanan tetap diajak bergabung dan menikmati hidangan bersama tanpa rasa canggung.

Baca Juga:  IGABA Sidoarjo Gelar Halalbihalal dan Bagi Bingkisan

Bagi Pengalaman Saling KuatkanĀ 

Kegiatan kecil itu ternyata menghadirkan kehangatan yang besar. Bukan sekadar makan bersama, tetapi menjadi ruang untuk saling bercerita. Berbagi pengalaman, mengeluhkan rasa lelah, hingga saling menguatkan satu sama lain. Di tempat itu, mereka menemukan bahwa perjuangan mereka tidak sendiri.

Tak jarang, tawa dan air mata hadir dalam obrolan sederhana tersebut. Ada yang berbagi kabar perkembangan anaknya. Ada yang sedang merasa putus asa, dan ada pula yang hanya ingin didengarkan. Dari kebersamaan itu tumbuh kekuatan baru untuk kembali melangkah menjalani hari-hari yang tidak mudah.

Karena sejatinya, orang tua ABK bukanlah orang-orang yang lemah. Mereka adalah pribadi-pribadi hebat yang setiap hari belajar menjadi kuat demi masa depan anak-anak tercinta. Dan di antara ruang terapi sederhana itu, tumbuh harapan-harapan kecil yang terus dijaga bersama. (#)

Jurnalis Haryanti Estuningdyah. Penyunting Sugiran.