
Abi Mufid, mahasiswa Teknik Mesin UMM, menangi Anugerah Pemberdaya Masyarakat di Pilmapres 2025 berkat riset turbin angin dan deteksi penyakit yang nyata membantu masyarakat di daerah terpencil dan panti jompo.
Tagar.co – Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Abi Mufid, berhasil menorehkan prestasi gemilang di ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, yang digelari di Universitas Diponegoro, Semarang, 25-28 Oktober 2025.
Lewat inovasi berbasis riset yang berdampak nyata bagi masyarakat, ia dinobatkan sebagai Pemenang Anugerah Pemberdaya Masyarakat dalam kompetisi bergengsi tersebut.
Baca juga: UMM–Shimonoseki City University Resmikan Japan Corner
Perjalanan Abi menuju panggung nasional tidak lahir dari kebetulan. Sejak awal kuliah, ia telah menekuni dunia riset dan pengabdian masyarakat dengan kesungguhan. Bagi Abi, ilmu teknik bukan sekadar hitungan di laboratorium, melainkan sarana untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Salah satu wujudnya adalah pengembangan turbin angin untuk sistem irigasi di daerah terpencil dan inovasi pendeteksi penyakit rheumatoid arthritis melalui analisis kuku bagi penghuni panti jompo.
Kedua inovasi itu berangkat dari penelitian ilmiah yang telah terpublikasi di jurnal bereputasi Scopus Q2, menunjukkan komitmennya pada riset yang aplikatif dan berdampak sosial.
“Mahasiswa diminta melakukan presentasi dan saling tanya jawab satu sama lain. Tapi lebih dari itu, yang dinilai bukan hanya kecerdasan, melainkan sikap: disiplin, jujur, serta kemampuan problem solving dan critical thinking,” ujar Abi mengenang proses seleksi yang ketat, dikutip dari siaran pers Humas UMM, Kamis (6/11/25).
Dalam ajang Pilmapres, para peserta dinilai melalui empat aspek utama: gagasan kreatif, capaian unggulan, kecakapan, dan sikap. Gagasan kreatif menuntut mahasiswa menghadirkan solusi atas persoalan nyata masyarakat.
Sementara capaian unggulan mencakup prestasi lintas bidang—mulai dari kompetisi, penghargaan, hasil karya, hingga pengabdian dan kewirausahaan.
Kedua inovasi Abi menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap kesejahteraan masyarakat. Turbin angin yang ia rancang berfungsi untuk membantu irigasi di wilayah minim sumber listrik, sementara sistem pendeteksi rheumatoid berbasis citra kuku memungkinkan deteksi dini tanpa biaya tinggi.
“Kalau pemeriksaan di rumah sakit tentu butuh waktu dan biaya. Dengan sistem ini, deteksi bisa dilakukan lebih cepat dan sederhana,” jelasnya.
Mahasiswa Multitalenta
Tak hanya di bidang riset, Abi juga dikenal sebagai mahasiswa multitalenta. Ia meraih sederet prestasi, antara lain Juara 2 Pilmapres LL Dikti Wilayah VII Jawa Timur, Juara 1 Program Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah, Juara 2 Pimtamas, Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional, serta memperoleh pendanaan PKM-KC 2024, dan publikasi ilmiah Scopus Q3 (dua jurnal). Ia juga menjadi penulis utama buku ber-ISBN dan pemegang hak cipta hasil risetnya.
Semua pencapaian itu, katanya, berawal dari disiplin dan bakti kepada orang tua. “Menjadi mahasiswa berprestasi nasional tidak bisa disiapkan dalam setahun atau dua tahun. Harus dimulai sejak awal kuliah dengan niat dan kesadaran untuk menjadi agent of change. Sebab beras yang kita masak hari ini tidak ditanam kemarin sore,” ujarnya berfilosofi.
Abi berharap, prestasi ini bisa menginspirasi mahasiswa lain agar tak berhenti berinovasi dan terus memberi manfaat bagi masyarakat.
“Saya ingin anak muda Indonesia terus berproses dan sadar bahwa masa depan ada di tangan mereka. Semoga Pilmapres menjadi wadah lahirnya lebih banyak inovasi yang solutif dan berdampak luas,” tutupnya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












